Jumat, 31 Juli 2015

Implementasi Proses Motorik Dalam Terjadinya Gerak


IMPLEMENTASI PROSES MOTORIK DALAM TERJADINYA GERAK
Implementasi Proses Motorik Dalam Terjadinya Gerak


GERAK DAN MANUSIA
Gerak adalah :  Merupakan sesuatu yang vital dan mempunyai nilai yang sangat strategis bagi manusia dalam kehidupannya.

Dikatakan vital, karena melalui gerak manusia dapat mengatasi berbagai persoalan dalam hidupnya. Gerak dikatakan mempunyai nilai yang strategis bagi manusia, karena gerak dapat berfungsi sebagai alat komunikasi yang handal.

A.    Fungsi Gerak
1.      Fungsi Produktif
Fungsi produktif maksudnya adalah, bahwa melalui geraknya manusia dapat membuat, menciptakan atau memproduksi sesuatu.
Misalnya :
-          Melalui gerak manusia dapat menyusun materi ataupun benda-benda untuk membangun sesuatu.
2.      Fungsi Komunikasi
Maksudnya adalah, bahwa melalui geraknya manusia dapat berkomunikasi atau berhubungan dengan manusia lain.
Contoh :
-          Bahasa dan isyarat.
-          Pantomin
3.      Fungsi Explorasi
Melalui gerak, manusia dapat menyelidiki keadaan ataupun yang ada dilingkungannya, termasuk dirinya sendiri.
Misalnya :
-          Melalui gerak berenang, manusia dapat mengetahui derasnya air sungai.
4.      Fungsi Adaptasi
Fungsi adaptif maksudnya adalah, melalui geraknya manusia dapat menyesuaikan diri terhadap aturan-aturan yang ada dilingkungannya.
Misalnya :
-          Untuk menyeberangi sungai, manusia dapat mengatur dan menyesuaikan geraknya untuk melawan arus sungai.
5.      Fungsi Personal
Maksudnya adalah, bahwa melalui geraknya manusia dapat mengalami sendiri suatu pengalaman, atau melalui geraknya manusia dapat meyakinkan dirinya terhadap sesuatu.
Misalnya :
-          Proses kelelahan yang dialami tubuh setelah berolahraga dan bekerja.
6.      Fungsi Expresi
Melalui gerak, manusia dapat mengekspresikan atau mengungkapkan perasaannya.
Misalnya :
-          Gerakan membanting raket tenis sebagai ungkapan rasa kesal dalam bermain.
7.      Fungsi Komparasi
Melalui gerak, manusia dapat membandingkan dirinya dengan orang lain.
Misalnya :
-          Gerak-gerak dalam perlombaan olahraga.
8.      Fungsi Ritual
Fungsi ritual maksudnya, melalui gerak manusia dapat melaksanakan hal-hal yang bersifat ritual.
Misalnya :
-          Tari-tarian atau gerakan-gerakan yang bertujuan untuk pemujaan.

B.     Pengertian Gerak dan Motorik
1.      Pengertian Gerak
Dalam ilmu fisika, gerak diartikan sebagai suatu proses perpindahan suatu benda dari satu posisi ke posisi lain yang dapat diamati secara objektif dalam suatu dimensi ruang dan waktu.
Di dalam belajar motorik, pengertian gerak tidak hanya dilihat dari perubahan tempat, posisi dan kecepatan tubuh manusia melakukan aksi-aksi motorik dalam olahraga, tetapi gerak juga dilihat atau diartikan sebagai hasil atau penampilan yang nyata dari proses-proses motorik. Penampilan yang nyata maksudnya adalah gerak sebagai sesuatu yang diamati. Sedangkan motorik adalah suatu proses yang tidak dapat diamati dan merupakan penyebab terjadinya gerak.

2.      Pengertian Motorik
Motorik dapat diartikan, sebagai suatu rangkaian peristiwa laten yang tidak dapat diamati dari luar.

Proses Terjadinya Gerak
Gerak-gerak yang dilakukan manusia, baik sebagai tujuan, media, proses, maupun sebagai perilaku, merupakan suatu fenomena yang unik dan kompleks. Pembahasan tentang fenomena tersebut, hanya dari sudut suatu disiplin ilmu, memiliki kemampuan terbatas. Oleh karenanya, untuk menjelaskan proses terjadinya, dibutuhkan pengingtegrasian berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti psikologi, anatomi, fisiologi. Suatu teori yang relevan untuk menjelaskan proses terjadinya gerak sangat dibutuhkan. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuandan pemahaman terhadap proses terjadinya gerak, akan dapat memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap berbagai keperluan yang berkaitan dengan gerak, misalnya untuk mengendalikan dan mengembangkan proses pembelajaran keterampilan, seperti dalam penguasaan keterampilan gerak.
Pada hakekatnya manusia dibangun oleh empat komponen dasar, yaitu : kognitif, afektif, dan emosional. Keempat komponen dasar ini, dalam penampilan gerak saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Oleh karenanya dikatakan bahwa gerak merupakan implementasi interaksi keempat komponen tersebut yang diwujudkan dalam bentuk nyata, yaitu gerak.
Teori KIBERNETIK, merupakan salah satu teori yang relevan untuk menjelaskan proses terjadinya gerak (aksi-aksi motorik). Teori Kibernetik dikembangkan dengan bantuan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, antara lain : biologi, psikologi, fisiologi, dan ilmu komunikasi, bahkan ilmu matematik. Pengintegrasian berbagai disiplin ilmu pengetahuan tersebut, dalam mengkaji aksi-aksi motorik (gerak), telah memberikan konstribusi yang cukup besar dalam mengungkapkan berbagai misteri aksi-aksi motorik manusia. Dari hasil telusuran literatur yang berkaitan dengan teori kibernetik, dapat ditemukan beberapa konsep dasar.
1.      Manusia bukanlah makhluk yang pasif dalam menentukan suatu respon-respon. Manusia adalah penentu dan pengendali dari respon-respon yang ditampilkan. Konsep ini dipertegas dari pengertian kata kibernetik itu sendiri. Kata KIBERNETIK berasal dari bahasa laten “KYBERNETES” yang artinya : nahkoda kapal. Maksudnya adalah manusia merupakan penentu dan pengendali proses dan arah tingkah laku yang ditampilkan (perilaku gerak). (Singer RN. 1986: 108)
2.      Manusia, merupakan suatu sistem pengaturan dan pengendalian informasi. (Bandingkan, Reder, 11, 1985: 38-43).
3.      Teori Kibernetik, menerangkan tingkah laku dan aksi-aksi motorik manusia sebagai suatu model interne yang dinamis, dimana tingkah laku tergantung pada flexibelitas dan kemampuan adaptasi reaksi. Dalam hal ini otak manusia menempati hirarki tertinggi sebagai pengatur dan pengendali segala aktivitas organismus dalam pelaksanaan aksi-aksi motorik. (Singer, RN, 1986: 110).
4.      Pengaturan dan pengendalian aksi-aksi motorik dimungkinkan, karena adanya sistem informasi umpan balik secara berkelanjutan, terutama umpan balik propriseptif yaitu umpan balik yang datang dari reseptor, terutama kinestetik, yang langsung memberikan informasi kepusat susunan syaraf. (Bandingkan SINGER, RN. 1985 : 108, MEINEL, 1976: dan Baunmann, 1984: 129).
5.      Teori Kibernetik, memandang manusia sebagai suatu sistem informasi. Artinya, dalam menampilkan suatu respon, manusia aktif dalam menerima dan mengolah informasi secara interne, yaitu pengolahan informasi secara psikis. Hal ini dimungkinkan, karena manusia memiliki sistem informasi itu sendiri, yaitu alat-alat reseptor dan sistem persyarafan.
Teori kibernetik, memandang manusia tidak hanya sebagai organismus yang aktif dalam menerima dan mengolah informasi, melainkan juga mampu melakukan reproduksi dari ingatan-ingatan dan pengalaman-pengalaman yang telah dimilikinya, serta mampu melakukan koreksi-koreksi terhadap aksi-aksi motorik yang dilakukannya (Bandingkan : MEINEL, 1976: 65, RN SINGER, 1985: 127, BAUMANN, 1984: 129)
Adanya kemampuan manusia untuk memproduksi kembali ingatan dan pengalaman, dimungkinkan karena manusia sebagai suatu sistem informasi memiliki suatu konstalasi penyimpanan ingatan dan pengalaman yang pada suatu saat siap diaktifkan kembali. (ADAMS, dalam Singer, RN, 1985: 113), mengemukakan bahwa : dari aksi-aksi motorik yang telah dilaksanakan diduga meninggalkan jejak atau bekas yang disimpan pada salah satu konstalasi ingatan di otak, yang pada suatu waktu bisa diaktifkan dan direproduksi kembali. Aspek yang demikian, disebut dengan ingatan motorik. Selain berfungsi sebagai LAID-BILD (gambaran yang dijadikan pedoman), ingatan motorik, juga berfungsi sebagai bahan banding bagi individu untuk memodefikasi aksi-aksi motorik berikutnya.
Teori kibernetik yang dibangun melalui pengembangan prinsip-prinsip teori pemerosesan informasi dan komunikasi.
Skema sederhana tentang proses terjadinya gerak menurut teori Kibernetik. Secara umum skema diatas dapat dijelaskan sebagai berikut. Stimulus yang diartikan sebagai informasi, merupakan input bagi sistem pemerosesan informasi. Informasi tersebut diteriam oleh alat-alat indera (mata, telinga, kulit, otot, dan alat keseimbangan yang ada pada bagian dalam telinga). Dalam belajar gerak, yang dimaksudkan dengan informasi adalah penjelasan-penjelasan tentang tugas-tugas gerakan yang dilakukan, bagaimana melakukannya faktor-faktor apa yang harus diperhatikan, dan sebagainya. Informasi ini dapat disajikan melalui bahasa verbal maupun non verbal, seperti film-film dan gambar-gambar. Setelah informasi diterima oleh alat reseptor, informasi tersebut diteruskan ke pusat susunan syaraf. Pada konstalasi ini, terjadi proses pengolahan informasi meliputi : pemberian arti atau makna, pengambilan pengertian terhadap informasi tersebut, menemukan alternatif respon dan pengambilan keputusan tentang respon atau aksi-aksi motorik yang akan ditampilkan. Dalam proses analisis ini maka pengalaman-pengalaman masa lalu (ingatan aksi-aksi motorik) turut berperan aktif, terutama sebagai bahan banding atau pertimbangan dalam menentukan respon yang akan ditampilkan. Analisis dan pengolahan informasi, menghasilkan alternatif respon. Setelah itu individu yang bersangkutan sampai pada tahap pengambilan keputusan tentang respon yang akan ditampilkan.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa belajar gera menurut teori kibernetik, sangat ditentukan oleh kemampuan kognitif terutama dalam proses analisis informasi dan analisis terhadap kemungkinan respon. Dalam hal ini, terjadi proses kakulasi. Ketepatan analisis informasi, akan menggiring pada ketepatan pengambilan keputusan. Ketepatan analisis dan ketepatan pengambilan keputusan, akan dapat dilihat pada beberapa jauh deviasi atau penyimpangan terjadi pada unjuk kerja motorik.
Setelah mengambil keputusan tentang bentuk-bentuk aksi motorik yang akan ditampilkan, proses berikutnya adalah proses fisiologi, yaitu pemberian impuls tenaga ke alat gerak. Hasilnya adalah gerak atau aksi-aksi motorikyang ditampilkan sebagai respon.
Skema yang digambarkan di atas, belumlah merupakan skema lengkap dari teori kibernetik, karena belum menggambarkan secara lengkap dan rinci mekanisme pemerosesan informasi.
Inti dari teori kibernetik terletak pada mekanisme pengolahan informasi secara berkelanjutan yang tidak hanya terbatas pada pengolahan informasi yang menyangkut tentang pelaksanaan gerakan, tetapi meliputi pengolahan informasi tentang jalannya suatu gerakan yang telah diprogramkan sebelumnya. Penerimaan dan pengolahan informasi tentang jalannya suatu gerakan dikenal dengan istilah feed back, yang merupakan inti dari teori kibernetik.
Berdasarkan umpan balik inilah, kemungkinan terjadinya proses-proses pengendalian dan pengaturan terhadap gerakan-gerakan yang dilaksanakan. Melalui umpan balik inilah individu yang melaksanakan gerakan mengetahui apakah gerakan-gerakan yang dilakukan tersebut sesuai dengan apa yang telah diprogramkan atau terjadi penyimpangan (kesalahan) dari apa yang telah diprogramkan.
Pengendalian yang dimaksud disini adalah proses-proses pengaturan pemberian impuls tenaga yang sesuai dengan kebutuhan untuk pelaksanaan gerakan berdasarkan perintah dari otak yang dibawa oleh syaraf afferent ke sistem alat gerak. Proses-proses pengendalian ini selalu berpedoman pada perencanaan gerakan yang diprogramkan.
Sedangkan pengaturan, adalah proses-proses pengaturan kembali atau memodifikasi kembali jalannya suatu gerakan yang selalu berpedoman pada program gerakan.
Proses-proses pengaturan ini hanya mungkin terjadi bila adanya umpan balik yang diterima oleh alat-alat reseptor yang disampaikan oleh syaraf afferent ke otak, sehingga pada susunan syaraf pusat terjadi proses-proses perbandingan antara apa yang harus didapat (sollwert) dan apa yang terjadi atau yang sudah dicapai (iswert). Bila perbandingan antara apa yang harus dicapai dengan apa yang terjadi terdapat perbedaan yang besar, berarti terjadi penyimpangan-penyimpangan yang besar antara rencana gerakan yang sudah diprogramkan. Sebaliknya, semakin kecil perbedaan perbandingan antara apa yang harus dicapai dengan apa yang sudah dicapai, berarti semakin baik realisasi rencana gerakan yang sudah diprogramkan. Dengan kata lain semakin kecil (sedikit kesalahan-kesalahan yang terajdi dalam realisasi gerakan). Dalam hal ini dapat diartikan bahwa proses-proses pengendalian dan pengaturan, adalah proses-proses yang terjadi dalam pelaksanaan gerakan dalam rangka merealisasikan rencana gerakan yang sudah diprogramkan secara optimal. Perlu ditekankan disini bahwa berarti tidak akan terjadi perubahan-perubahan program gerakan yang sudah diprogramkan sebelum pelaksanaan gerakan. Perobahan-perobahan itu bisa saja terjadi pada saat gerakan sedang berlangsung dan itu terjadi bila diperlukan.
Didalam belajar gerak dikenal dua jalur informasi untuk umpan balik yaitu umpan balik yang datang dari luar individu dan umpan balik yang datang dari dalam (SINGER, 1986: 125, MEINEL, 1975: 73, BAUNMANN, 1984: 130). Umpan balik yang datang dari luar misalnya informasi-informasi ataupun koreksi-koreksi yang diberikan oleh guru pelatih atau teman mengenai jalannya suatu gerakan. Organ reseptor yang menerima umpan balik ataupun informasi yang datang dari luar adalah : mata (optik), telinga (akustik) dan kulit (taktil). Jalur informasi umpan balik yang kedua, yaitu umpan balik yang datang dari dalam individu itu sendiri yang diterima oleg organ-organ reseptor otot (Kinasthetik), dan organ keseimbangan yang ada pada bagian dalam telinga (statico dynamisator).


Struktur Dasar Gerak dan Indikator Gerak
Struktur dasar gerak dapat diartikan sebagai susunan dari suatu gerakan. Susunan dasar dalam hal ini adalah susunan yang selalu ada dalam pelaksanaan suatu gerakan, contoh seorang yang sedang berjalan tidak langsung melangkahkan kakinya untuk berjalan, tetapi didahului mungkin oleh gerakan ayunan tangan atau gerakan kepala.
Suatu struktur dasar gerak adalah fase-fase gerak yang selalu setiap kali pelaksanaan suatu gerak, fase awal disebut juga dengan fase persiapan. Persiapan tersebut meliputi pengoptimalisasian dan pengkoordinasian kekuatan, kecepatan, dan percepatan. Bila persiapan fase awal tidak dapat dioptimalkan, maka pemecahan tugas gerakan pada fase utama tidak akan tercapai secara optimal. Fase akhir adalah dimana dilakukannya pengembalian seluruh keseimbangan tubuh setelah pelaksanaan fase utama. Sebagai contoh lompat jauh. Indikator-indikator gerak yang dapat dilihat dan diamati ketika lompat jauh adalah :
1.      Ketepatan dan keseuaian pemakaian waktu, ruang dan pemberian impuls kekuatan pada otot untuk setiap pelaksanaan gerak.
2.      Ketepatan dan kesesuaian pemberian impuls kekuatan pada otot yang bekerja dapat dilihat dari adanya gerakan yang berlebihan atau berkurang, keadaan keseimbangan tubuh dan gerakan-gerakan yang tersendat atau tidak lancar.

Indikator-indikator gerak yang tidak sempurna ketika lompat jauh adalah :
1.      Terjadinya kelebihan gerakan yang tidak diperlukan yang mengakibatkan terganggunya transfer impuls tenaga untuk gerakan berikutnya.
2.      Kelebihan gerak tersebut diakibatkan oleh impuls tenaga yang diberikan terlalu besar dari yang dibutuhkan, akibatnya terganggu keseimbangan tubuh.

Kamis, 30 Juli 2015

Teori Reva Rubin Pada Wanita Hamil

BAB I
PENDAHULUAN

Teori Reva Rubin Pada Wanita Hamil

1.1  Latar Belakang
Rubin adalah seseorang Nurse-Widwife dari Amerika yang penelitiannya memberi pengaruh besar dalam asuhan kehamilan dan pos partum. Rubin menjelaskan teorinya mengenai peran dan pengambilan peran.
Dia membedakan antara konsep diri posisi yaitu sesuatu status sosial yang diberikan pada seseorang (misal guru/ibu) dan konsep dari peran yang dilukiskan sebagai aktifitas dan tindakan yang dilakukan individu. Seseorang mempunyai tahapan berbeda dalam hidupnya.

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas di teori Reva Rubin :
  1. Apa saja yang dijelaskan di teori Reva Rubin.
  2. Apa perubahan psigis yang terjadi oleh ibu hamil berdasarkan teori Reva Rubin.
  3. Bagaimana cara mencegah masalah perubahan psigis pada ibu hamil menurut Reva Rubin.

1.3  Tujuan
  1. Untuk mengetahui masalah yang dirumuskan oleh teori R. Rubin.
  2. Untuk mengetahui perubahan psikis ibu hamil.
  3. Untuk mengetahui menyatakan perubahan psikis pada ibu hamil.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Pendalaman Tentang Rubin
Rubin adalah seorang Nurse Mdwife dari Amerika yang penelitiannya memberi pengaruh besar dalam asuhan kehamilan dan pos partum.
Rubin menjelaskan teorinya mengenai peran dan penampilan peran dan membedakan konsep dari posisi yaitu suatu status sosial yang
Seseorang mempunyai posisi berbeda dalam tahapan hidupnya yang berbeda dan juga dapat mempunyai posisi ganda dalam waktu bersamaan sebagai seorang anak perempuan.
Riset Rubin bertujuan mengidentifikasi bagaimana wanita tersebut mampu mengambil peran ibu dan hal apa saja yang membantu/menghambat memberi efek negatif dalam pencapaian peran tersebut.
Menurut Rubin adalah untuk mencapai peran tersebut seorang wanita membutuhkan proses belajar berupa latihan-latihan. Dalam proses ini wanita tersebut mampu mengambil peran seorang ibu.

2.2   Perubahan Yang Terjadi Pada Wanita Hamil
Perbubahan yang biasa terjadi pada umumnya pada wanita pada waktu hamil adalah :
a.       Ibu memerlukan sosialisasi.
b.      Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian, sehingga dapat berperan sebagai calon ibu dan dapat memperhatikan perkembangan janinnya.
Pada dasarnya ibu bisa tidak bergantung pada orang lain, tapi karena bahagiannya mendapatkan anak dan rasa memberikan hadiah pada orang lain maka dia menuntut diperhatikan.



2.3   Arti dan Efek Kehamilan Bagi Pasangan
a.       Pasangan merasakan perubahan tubuh pasangannya pada kehamilan 8 bulan sampai 3 bulan setelah melahirkan.
b.      Pria juga bisa mengalami perubahan fisik dan psikososial selama pasangan hamil.
c.       Anak yang akan dilahirkan merupakan gabungan dari 3 perbedaan yang ada
·         Hubungan ibu dengan pasangan.
·         Hubungan ibu dengan janin yang berkembang.
·         Hubungan individu dan anak
d.      Ibu tidak pernah lagi menjadi sendiri.
e.       Reaksi yang umum pada kehamilan
·         Trimester I
Ambivalen, takut fantasi, khawatir.
·         Trimester II
Pasangan lebih enak, meningkatnya kebutuhan untuk mempelajari tentang perkembangan janin, menjadi narsistik, pasif, introven, kadang bersifat egosentri dan self kontered.
·         Trimester III
Berperasaan aneh, sembrono, menjadi lebih introvert merefleksikan terhadap pengalaman masa kecil.

Dalam penelitiannya dan observasinya lebih dari  20 tahun Rubin menyimpulkan bahwa tujuan dan usaha ibu selama kehamilan adalah :
1.      Meyakinkan ada keamanan bagi diri dan bayinya selama kehamilan.
2.      Meyakinkan adanya penerimaan sosial bagi diri dan bayinya.
3.      Meningkatkan ikatan tarik menarik dalam kontruksi.




2.4   3 Aspek dari Identitas Peran Ibu
Ø  Image ideal
Terdiri dari semua ide yang dimiliki wanita itu sendiri mengenai sikap dan aktifitas para wanita sebagai seorang ibu.
Ø  Image diri
Terdiri dari sikap wanita itu menilai dirinya yang dimiliki dari pengalamannya.
Ø  Body image
Perubahan tubuh selama kehamilan dan perubahan dari arti proses kehamilan itu.

Identtas ibu di awali dan dicapai dengan suatu proses dari aktivitas taking on, taking in dan letting go.
Periode Taking In (1-2 hari setelah melahirkan)
-          Ibu masih pasif tergantung pada orang lain.
-          Pertahanan ibu menuju kepada pertahanan tubuh.
-          Ibu mungkin bercerita pengalamannya bersalin berulang-ulang.
-          Memerlukan ketenangan dalam tidur.
-          Nafsu ibu bertambah sehingga memerlukan nutrisi

Periode Taking On (2-4 hari setelah melahirkan)
-          Ibu menjadi khawatir akan kemampuannya merawat bayi.
-          Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh, BAK, BAB, dan daya tahan tubuh.
-          Ibu berusaha untuk menguasai cara merawat bayi seperti :
·         Menggendong
·         Menyusui
·         Memandikan, dan
·         Menganti popok
-          Ibu cenderung terbuka menerima kritikan oleh bidan dan nasehat.

Periode Letting Go
-          Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan dipengaruhi dukungan serta perhatian keluarga.
-          Ibu sudah mengambil tanggung jawab merawat bayi.

Rabu, 29 Juli 2015

Masalah-Masalah Psikis Yang Terjadi Pada Masa Persalinan


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Persalinan adalah kejadian yang berakhir dengan proses pengeluaran bayi yang telah mencukupi bulan atau hampir cukup bulan. Disusul dengan keluarnya selaput janin dari tubuh ibu. peristiwa proses kelahiran itu bukan hanya merupakan proses murni fisiologis belaka, tetapi banyak pula diwarnai komponen-komponen psikologis. Persalinan adalah mempunyai kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintegritas dan lengkap intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal. Didalam persalinan tersebut terdapat beberapa perubahan psikis yang terjadi pada ibu hamil. Dengan demikian bidan harus mengetahui perubahan tersebut agar dapat mengatasi masalah psikis pada masa persalinan.

1.2  Rumusan Masalah
  1. Menjelaskan tentang masalah-masalah persalinan.
  2. Apa-apa saja yang terjadi dalam masa persalinan.

1.3  Tujuan
  1. Untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada persalinan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Persoalah Yang Terjadi Pada Kontraksi Uterus
Persoalah yang terjadi pada kontraksi-kontraksi uterus ini yang tadinya tidak nyeri berubah menjadi kontraksi-kontraksi yang terkoordinir nyeri, sehingga menyebabkan pembukaan cervix dan pengeluaran bayi. Banyak faktor yang memegang peranan dan bekerja sama sehingga terjadi persalinan.
Beberapa teori yang dikemukakan ialah :
1.      Teori Oxytocin
Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah. Oleh karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim.
2.      Pengaruh Janin
Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang peranan oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.

2.2   3 Kala Dalam Persalinan
·         Kala I atau Kala Pembukaan
Dimulai dari His persalinan yang pertama sampai pembukaan cervix menjadi lengkap.
·         Kala II atau Kala Pengeluaran
Dimulai dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi.
·         Kala III atau Kala Uri
Dimulai dari lahirnya bayi sampai lahirnya placenta.

2.3   Tenaga Yang Mendorong Anak Keluar
a.       His
His adalah kontraksi otot-otot rahim pada persalinan pada bulan terakhir dari kehamilan sebelum persalinan dimulai, sudah ada kontraksi rahim yang disebut his pendahuluan atau his palsu yang sebetulnya hanya merupakan peningkatan daripada kontraksi yang dikemukakan.
His Persalinan :
Nyeri disebabkan oleh anoxia dari sel-sel otot waktu kontraksi, tekanan pada ganglia dalam cervix dan segmen bawah rahim oleh serabut-serabut otot-otot yang berkontraksi, regangan dari cervix karena kontraksi atau renggangan dan tarikan pada peritoneum waktu kontraksi.

b.      Tenaga Mengejan
Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang mendorong anak keluar selain his, terutama disebabkan oleh kontraksi otot-otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan intraabdominal.
Waktu kepala sampai pada dasar panggul, timbul suatu reflex yang mengakibatkan bahwa pasien menutup glottisnya, mengkontraksikan otot-otot perutnya dan menekan diafragmannya ke bawah. Tenaga mengenjang ini juga melahirkan placenta setelah placenta lepas dari dinding rahim.

Selasa, 28 Juli 2015

Perkembangan Pendidikan Amerika Serikat (Contoh Makalah)


PERBANDINGAN PENDIDIKAN AMERIKA SERIKAT

Bangsa Amerika Serikat sangat mengandalkan kepada kemampuan pendidikan, karena melalui pendidikan yang dikembangkan dalam bentuk program-programnya, warga Negara Amerika Serikat dalam sekolah-sekolah mereka, mampu melaksanakan pemerintahannya sendiri (self government) sesuai kecerdasan yang tinggi. Dalam melalui pendidikan di sekolah-sekolahnya mereka dapat dipersatukan sebagai satu bangsa yang berbineka tunggal ika, sehingga bangsa yang terdiri dari para immigrant Eropa dan Amerika dan sebagainya dapat diintegrasikan kedalam cara hidup Amerika (way of American life) serata diajarkan tentang persamaan hak dan kewajibannya.
Meskipun sistem pendidikan Amerika Serikat berasal dari budaya Eropa akan tetapi sekolah-sekolahnya tidak merupakan duplikat dari negeri asalnya Eropa. Sekolah-sekolah di Amerika mengambil corak dan bentuk sesuai dengan cita atau aspirasi baru. Nilai-nilai yang baik tetap dipertahankan dan yang kurang baik dan tidak sesuai dengan cita Amerika ditinggalkan.
Komisi kebijakan pendidikan Amerika Serikat menetapkan strategi bahwa “Tiap sistem berpikir dan berbuat dalam pendidikan dirumuskan berdasarkan cita-cita dan kepentingan yang berkembang secara dominan dan luas dalam masyarakat pada saat perumusan itu dilakukan”.
Oleh karena itu mengenai tujuan pendidikan di Amerika Serikat juga dirumuskan dalam berbagai ragam rumusan, karena semua kelompok masyarakat diberi hak dan kesempatan untuk ikut dalam penyusunannya, misalnya : “Tujuan pendidikan adalah untuk memberikan ketentraman, untuk menjamin kesesuaian, untuk menjaga stabilitas, untuk persiapan hidup setelah mati, untuk mengembangkan potensi dari masing-masing individu, dan untuk menyediakan perbaikan masyarakat yang berkesinambungan”.
Dalam administrasi pendidikan di Amerika Serikat didapati berbagai rumusan tujuan pendidikan sebagai berikut :
  1. “To assure that the schools will provide for the education of all as democratic ideal”. (bahwa pendidikan adalah untuk menolong rakyat Amerika mendekati cita-cita demokratis).
  2. “To assure that the schools will provide for the education of all as a basis for natonal stability and progress”. (bahwa tujuan pendidikan itu harus menjamin sekolah akan menyediakan pendidikan bagi semuanya sebagai dasar bagi stabilitas dan kemajuannya.
  3. Tujuan itu harus dapat menjamin bahwa setiap individu harus dapat memberi kesempatan untuk dapat mengembangkan diri sedemikian rupa sehingga ia dapat sepenuhnya menyadari tentang kemampuan potensialnya dan dalam waktu yang sama, dapat membantu kepada perbaikan masyarakat, negara dan bangsa.
  4. Tujuan itu harus mengakui bahwa pendidikan merupakan kunci untuk membuat kehidupan yang lebih baik bagi semuanya.
  5. Tujuan itu harus dipandang memuaskan bila mana tujuan itu dikembangkan oleh masyarakat melalui partisipasi yang cerdas, diskusi dan saling pengertian dalam masyarakat.
Yang terjadi problematika dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat dapat diketahui dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam empat persoalan sebagai berikut :
  1. Bagaimana seharusnya hubungan pendidikan dengan organisasi keagamaan?
  2. Bagaimana seharusnya hubungan pendidikan dengan politik negara?
  3. Bagaimana seharusnya hubungan pendidikan dengan masing-masing individu warga negara?
  4. Bagaimana seharusnya hubungan negara dengan individu warga negara dan perkembangannya?
Amerika serikat adalah suatu negara yang terbentuk dari berbagai ragam masyarakat agama dengan membawa asal-usul kebudayaan nenek moyang dari negeri asalnya, termasuk agamapun dibawa dari negara asalnya. Banyak terdapat organisasi keagamaan atau gereja, bahkan organisasi penganut agama Yahudi dan Hindu serta Islam terdapat di berbagai kota besar.
a.       Dasar prinsip menghormati kemerdekaan manusia, sebagaimana yang diproklamasikan oleh Thomas Jeffreson, “bahwa dalam mendirikan lembaga-lembaga kependidikanpun bangsa Amerika merasa memiliki kebebasan tersendiri yang dijamin oleh Undang-Undang Negara. Ada sekitar 257 sekte gereja dalam berbagai aliran yang berbeda satu sama lain, merasa perlu menyebarkan jalan agamanya melalui lembaga-lembaga kependidikan yang sesuai dengan corak khusus sekte mereka. Maka tumbuh berkembanglah aneka ragam bentuk/model sekolah dikelola dengan bebas. Pemerintah pusat dan daerah di Amerika Serikat tidak mencampuri urusan pendidikan keagamaan dari masing-masing organisasi gereja, karena masalah agama bukan urusan pemerintah, melainkan urusan pribadi rakyat Amerika.
b.       Politik kenegaraan Amerika Serikat adalah demokrasi liberal berdasarkan hak-hak asasi manusia seperti yang dipermaklumkan oleh Franklin D. Roosevelt pada tahun 1941 yang terdiri dari empat pasal, sebagai berikut :
1.      Bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat.
2.      Bebas beribadat menurut keyakinan.
3.      Bebas dari kemiskinan.
4.      Bebas dari ketakutan.
c.       Warga negara Amerika diberi kebebasan memilih pekerjaan dan keahlian sesuai bakat dan kemampuan individual.
d.      Berbeda dengan negara yang terdapat di negara otoriter, Amerika Serikat sebagai negara demokratis, perkembangan pribadi warga negaranya lebih diutamakan.

Senin, 27 Juli 2015

Landasan dan Azas Azas Pendidikan Serta Penerapannya (Contoh Makalah)


LANDASAN DAN AZAS-AZAS PENDIDIKAN SERTA PENERAPANNYA

Landasan dan Azas Azas Pendidikan Serta Penerapannya (Contoh Makalah)

A.    Azas Pokok Pendidikan
Azas pendidikan merupakan suatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perencanaan maupun pelaksanaan pendidikan. Pandangan tentang hakekat manusia merupakan tumpuan berpikir utama yang sangat penting dalam pendidikan. Salah satu dasar pendidikan adalah bahwa manusia itu dapat dididik dan dapat mendidik diri sendiri.
Khusus untuk pendidikan di Indonesia, terdapat sejumlah azas yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan. Azas-azas tersebut bersumber baik dari kecendrungan umum pendidikan di dunia maupun yang bersumber dari pemikiran dan pengalaman sepanjang sejarah upaya pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, setiap tenaga kependidikan harus memahami dengan tepat azas-azas pendidikan agar dapat menerapkannya dengan semestinya dalam penyelenggaraan pendidikan sehari-hari.
  1. Asas Tut Wuri Handayani
Asas tut wuri handayani merupakan asas pendidikan Indonesia hingga saat ini. Sebagai asas pertama tut wuri handayani merupakan inti dari sistem Among dari perguruan itu. semboyan tut wuri handayani yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dewantara mendapat tanggapan positif dari Drs. R.M.P Sostrokartono seorang ahli filsuf dan bahasa dengan menambah dua semboyan untuk melengkapinya yakni Ing Ngarso Sung Tulada dan Ing Madya Mangun Karsa.
Ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yakni :
-          Ing ngarso sung tulada (jika didepan, menjadi contoh).
-          Ing madya mangun karsa (jika ditengah-tengah membangkitkan kehendak hasrat dan motivasi).
-          Tut wuri handayani (jika dibelakang, mengikuti dengan awas).
Agar diperoleh latar keberlakuan awal dari asas tutu wuri handayani, perlu dikemukakan ketujuh asas Perguruan Nasional Taman Siswa. Ketujuh asas tersebut merupakan asas perjuangan untuk menghadapi pemerintah kolonial Belanda sekaligus untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan sifat yang nasional dan demokrasi. Ketujuh asas tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam berkehidupan umum.
b.      Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekatan diri.
c.       Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.
d.      Bahwa pengajaran harus berdasarkan pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
e.       Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup lahir maupun batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri.
f.       Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan.
g.      Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu adanya keikhlasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak.
Asas tutwuri handayani merupakan inti dari asas pertama yang menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan mengikat tertibnya persatuan dalam peri kehidupan umum. dari asas inilah lahirnya “sistem among” dimana guru memperoleh sebutan “pamong” yaitu sebagai pemimpin yang berdiri dibelakang dengan bersemboyan Tutwuri Handayani yaitu tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak-anak didik untuk berjalan sendiri dan tidak terus menerus dicampuri, diperintah atau dipaksa. Disisi lain, pendidik setiap saat memberi uluran tangan apabila diperlukan oleh anak. Ing ngarso sung tulada adalah hal yang baik mengingat kebutuhan anak maupun pertimbangan guru. Ing madya mangun karsa diterapkan dalam situasi kurang bergairah. Sehingga perlu diupayakan untuk memperkuat motivasi

  1. Azas Belajar Sepanjang Hayat
Pada dasarnya manusia adalah makhluk “menjadi” yakni makhluk yang tidak pernah sempurna, dia selalu berkembang mengikuti perkembangan yang terjadi di lingkungan hidupnya. Asas belajar sepajang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education) UNESCO Institute for Education (UIE Hamburg) menetapkan bahwa pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang harus :
a.       Meliputi seluruh hidup individu.
b.      Mengarah kepada pembentukan, pembaruan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat meningkatkan kondisi hidupnya.
c.       Tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri setiap individu.
d.      Mengakui kontriobusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi, termasuk yang formal, non-formal dan informal.
Akibat kemajuan ilmu dan teknologi yang amat pesat, maka terjadi perubahan yang amat pesat dalam berbagai aspek kehidupan. Ditinjau dari pendidikan sekolah, masalahnya adalah bagaimana merancang dan mengimplementasikan suatu program belajar-mengajar sehingga mendorong terwujudnya belajar sepanjang hayat.
Kurikulum yang dapat mendukung terwujudnya belajar sepanjang hayat harus dirancang dan diimplementasi dengan memperhatikan dua dimensi (Hameyer, 1979: 67-81, Sulo Lipu Lasulo, 1990: 28-30) sebagai berikut :
a.       Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah, antara lain pengkajian tentang :
1)      Keterkaitan antara kurikulum dengan masa depan peserta didik.
2)      Kurikulum dan perubahan sosial-kebudayaan.
3)      The forecasting curriculum” yakni perancangan kurikulum berdasarkan suatu prognosis, baik tentang perilaku peserta didik pada saat menamatkan sekolah.
4)      Keterpaduan bahan ajaran dan pengorganisasian pengetahuan.
5)      Penyiapan untuk memikul tanggung jawab, baik tentang diri sendiri maupun dalam bidang sosial.
6)      Pengintegrasian dengan pengalaman yang telah dimiliki peserta didik.
7)      Untuk mempertahankan motivasi belajar secara permanen peserta didik harus dapat melihat kemanfaatan yang akan didapatkannya dengan tetap mengikuti pendidikan itu.
b.      Dimensi horizontal dari kurikulum sekolah yakni keterkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
1)      Kurikulum sekolah merefleksi kehidupan di luar sekolah.
2)      Memperluas kegiatan belajar ke luar sekolah.
3)      Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan belajar mengajar.
Implikasi dari kemampuan ilmu dan teknologi yang amat pesat tersebut ialah seseorang dituntut untuk mau dan mampu belajar sepanjang hayat. Dengan kemauan dan kemampuan untuk dapat belajar sepanjang hayat, maka konsep belajar tidak lagi sekedar belajar untuk tahu (learning to know) dan mampu (learning todo) akan tetapi belajar sepanjang hayat yang menuntut kemauan dan kemampuan seseorang guna belajar untuk menjadi (learning tobe).

  1. Kemandirian Dalam Belajar
Baik asas tutwuri handayani maupun belajar sepanjang hayat secara langsung erat kaitannya dengan asas kemandirian daam belajar. dalam kegiatan belajar-mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk ulur tangan apabila diperlukan. Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator disamping peran-peran lain, informator, organisator dan sebagainya.
a.       Guru sebagai fasilitator diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar, sedemikian rupa sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut.
b.      Guru sebagai motivator mengupayakan timbulnya prakarsa untuk memanfaatkan sumber belajar.
Hal tersebut berarti bahwa pendidik perlu memberikan dan bahkan merangsang peserta didik untuk memburu informasi selain dari dirinya sendiri.

B.     Penerapan Asas Pendidikan (Disekolah dan Luar Sekolah) Dewasa ini
Dalam hal penerapan asas-asas pendidikan dalam kegiatan pembelajaran, setidaknya terdapat tiga masalah yang perlu mendapat perhatian yakni masalah cara berkomunikasi dan peranan guru dalam pembelajaran serta tujuan pembelajaran.
1.      Keadaan yang ditemui
Dalam kaitan asas belajar sepanjang hayat, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang.
a)      Usaha pemerintah memperluas kesempatan belajar telah mengalami peningkatan. Terbukti dengan semakin banyaknya peserta didik dari tahun ke tahun yang dapat ditampung baik dalam lembaga pendidikan formal, non formal dan informal, berbagai jenis pendidikan dan berbagai jenjang pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi.
b)      Usaha pemerintah dalam pengadaan dan pembinaan guru dan tenaga kependidikan pada semua jalur, jenis dan jenjang agar mereka dapat melaksanakan tugasnya secara profesional. Serta dapat meningkatkan kualitas hasil pendidikan diseluruh tanah air. Pembinaan guru dan tenaga guru dilaksanakan baik didalam negeri maupun luar negeri.
c)      Usaha pembaruan kurikulum dan pengembangan kurikulum dan isi pendidikan agar mampu memenuhi tantangan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas melalui pendidikan.
d)     Usaha pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang semakin meningkat, ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, sarana pelatihan dan keterampilan. Sarana pendidikan jasmani.
e)      Pengadaan buku ajar yang diperuntukkan bagi berbagai program pendidikan masyarakat yang bertujuan :
-          Meningkatkan sumber penghasilan
-          Menunjang tercapainya tujuan pendidikan manusia seutuhnya.
f)       Usaha pengadaan berbagai program pembinaan generasi mudah kepemimpinan dan keterampilan, kesegaran, jasmani dan daya kreasi kesadaran berbangsa dan bernegara, kepribadian dan budi luhur.
g)      Usaha mengadakan berbagai program peningkatan peran wanita dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya dalam mewujudkan keluarga sehat, peningkatan IPTEK, keterampilan serta ketahanan mental.
Pemerintah telah mengupayakan usaha-usaha untuk menjawab tantangan asas pendidikan sepanjang hayat dengan cara pengadaan sarana dan prasarana, kesempatan serta sumber daya manusia yang menunjang.
Dalam penerapan asas tut wuri handayani dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang yakni :
-          Peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan dan keterampilan yang diminatinya disemua jenis, jalur dan jenjang pendidikan yang disediakan oleh pemerintah.
-          Peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan kejuruan yang diminati agar dapat mempersiapkan diri untuk memasuki lapangan kerja dibidang tertentu yang diinginkan.
-          Peserta didik yang memiliki kemampuan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk memasuki program pendidikan dan keterampilan sesuai dengan gaya dan irama belajarnya.
-          Peserta didik yang memiliki kelainan atau cacat fisik memperoleh kesempatan untuk memilih pendidikan dan keterampilan sesuai dengan cacat yang disandang agar dapat tumbuh menjadi manusia yang mandiri.
-          Peserta didik di daerah terpencil mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan keterampilan agar dapat berkembang menjadi manusia yang memiliki kemampuan dasar yang memadai sebagai manusia yang mandiri.

2.      Permasalahan Yang Dihadapi
a.       Masalah Peningkatan Mutu Pendidikan
Kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak harus dipertimbangkan dengan kebijaksanaan pemerataan pendidikan. Karena peningkatan kualitas pendidikan harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Pemerintah mengusahakan berbagai cara dalam upaya peningkatan mutu pendidikan antara lain :
-          Pembinaan guru dan tenaga pendidikan disemua jalur, jenis dan jenjang pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan.
-          Pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
-          Pengembangan kurikulum dan isi pendidikan sesuai dengan perkembangan nilai-nilai budaya bangsa.
-          Pengembangan buku ajar sesuai dengan tuntutan perkembangan IPTEK serta perkembangan budaya bangsa.

b.      Masalah Peningkatan Relevansi Pendidikan
Kebijaksanaan peningkatan relevansi pendidikan mengacu pada keterkaitannya dengan ke-bhineka tunggal ika-an masyarakat, letak geografis Indonesia yang luas dan pembangunan manusia Indonesia yang multidimensional.
Pemerintah telah dan sedang mengusahakan peningkatan relevansi penyelenggaraan pendidikan yang efektif dan efisien.
1)      Meningkatkan kemudahan dalam komunikasi informasi antara pusat-daerah.
2)      Inovasi pendidikan, kelembagaan, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara terpadu.
3)      Peningkatan kegiatan penelitian untuk memberi masukkan dalam upaya peningkatan relevansi pendidikan.
Dalam upaya meningkatkan relevansi pendidikan, pemerintah melakukan berbagai upaya :
1)      Usaha menemukan cara baru dan pemanfaatan teknologi pendidikan untuk memenuhi kebutuhan pesert didik yang beragam.
2)      Usaha pemanfaatan ruang belajar, ruang khusus yang menunjang kegiatan pembelajaran.

3.      Pengembangan Penerapan Asas-Asas Pendidikan
Dalam penerapan asas-asas pendidikan ada 3 masalah yang perlu mendapat perhatian antara lain sebagai berikut :
a.       Pendekatan Komunikasi oleh Guru
Dewasa ini masih terdapat kecendrungan bahwa pendidik masih terikat oleh penggunaan komunikasi satu arah dalam kegiatan pembelajaran dalam mengadakan metode ceramah. Dalam komunikasi yang demikian, pendidik menempatkan dirinya dalam kedudukan yang lebih tinggi dari peserta didik. Akibatnya rendah kemungkinan umpan balik dari peserta didik, dan cendrung hanya menghasilkan perubahan pengetahuan (Rogers dan Schoemaker, 1981; Depdikbud, 1983). Komunikasi yang demikian memberi implikasi yang negatif terhadap out-put pendidikan, yakni membuat peserta didik tidak terdorong untuk belajar mandiri.
b.      Peranan Pendidik
Institusi pengajaran (sekolah dan sejenisnya) bukan satu-satunya sumber informasi, akan tetapi berbagai institusi dapat menjadi sumber informasi. Misalnya media massa dengan sengaja jenisnya seperti : televisi, majalah, koran, radio dan internet.
Dengan demikian amatlah penting untuk mendorong peserta didik guna berupaya mencari informasi sendiri yang dapat dikatakan sebagai upaya belajar mandiri.