Senin, 31 Agustus 2015

Kerajaan Samudera Pasai


KERAJAAN SAMUDERA PASAI
Kerajaan Samudera Pasai



a.      Letak Kerajaan
Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan pertama di Indonesia yang menganut agama Islam. Secara geografis, Kerajaan Samudera Pasai terletak di daerah pantai timur Pulau Sumatera bagian utara yang berdekatan dengan jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu, yakni Selat Malaka.
Dengan posisi yang sangat strategis ini, Kerajaan Samudera Pasai berkembang menjadi kerajaan Islam yang cukup kuat pada masa itu. perkembangan ini juga didukung dengan hasil bumi dari Kerajaan Samudera Pasai seperti lada.
Keadaan seperti inilah yang mengakibatkan Kerajaan Samudera Pasai mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa itu, baik dalam kehidupan politik ekonomi, sosial dan budaya.

b.      Kehidupan Politik
Berdirinya Kerajaan Samudera Pasai tidak dapat diketahui dengan pasti. Akan tetapi para ahli berhasil menemukan bukti tentang perkembangan kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Samudera Pasai antara lain :
1.      Nasimuddin al-Kamil
Pendiri Kerajaan Samudera Pasai adalah Nasimuddin al-Kamil, seorang laksamana laut dari Mesir. Pada tahun 1238 M, ia mendapat tugas merebut pelabuhan Kembayat di Gujarat yang dijadikan tempat pemasaran barang-barang perdagangan dari timur. Nasimuddin al-Kamil juga mendirikan satu kerajaan di Pulau Sumatera bagian utara. Tujuan utamanya adalah untuk dapat menguasai hasil perdagangan rempah-rempah dan lada.
Nasimuddin al-Kamil meletakkan dasar-dasar pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai dengan berlandaskan hukum-hukum ajaran Islam. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Samudera Pasai mengalami perkembangan yang cukup pesat, walaupun secara politis Kerajaan Samudera Pasai berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
2.      Sultan Malikul Saleh
Malikul Saleh merupakan raja pertama Kerajaan Samudera Pasai. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Samudera Pasai berkembang menjadi bandar yang besar dan penting artinya bagi perdagangan mancanegara. Kerajaan Samudera Pasai dapat berkembang menjadi besar karena terletak di jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan dunia, yakni di perairan Selat Malaka. Oleh karena itu, banyak pedagang dari India, Gujarat, Arab, dan Cina datang ke Samudera Pasai.
Berkat kemajaun perdagangan, Samudera Pasai berkembang menjadi kerajaan yang makmur dan memiliki pertahanan yang kuat. Guna memperluas pengaruhnya, Sultan Malikul saleh berusaha menguasai daerah pedalaman. Daerah yang berhasil dikuasai, antara lain Tamiang, Balek Bimba, Samer Langga, Simpang Bulah Telang, Perlak, dan Takus. Daerah tersebut akhirnya masuk Islam. Setelah Malikul Saleh wafat, ia dimakamkan di Samudera Pasai. Di atas makamnya dibangun batu nisan yang berciri agama Islam. Batu nisan tersebut berangka tahun 635 Hijriyah atau 1297. Batu inilah yang menjadi petunjuk bagi kita bahwa Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.
3.      Sultan Malikul Tahir
Pengganti Malikul Saleh adalah putranya yang bernama Malikul Tahir. Pada masa pemerintahannya, singgah seorang musafir dari Maroko yang bernama Ibnu Batutah. Sultan Malikul Tahir kemudian digantikan oleh Sultan Mahmuh Malik az-Zahir. Namun, pada masa pemerintahannya Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran. Adiknya yang bernama Mansur Malik az-Zahir memisahkan diri sehingga kerajaan terpecah.
Pada tahun 1521, Kerajaan Samudera Pasau dikuasai oleh Portugis selama tiga tahun, kemudian tahun 1524 dikuasai oleh Ali Mughayat Syah dari Aceh. Selanjutnya, Samudera Pasai berada di bawah kekuasaan Aceh.

c.       Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Samudera Pasai diatur berdasarkan ajaran Islam atau hukum Islam. Dalam pelaksanaannya terdapat banyak persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat Arab. Hal itu disebabkan oleh pengaruh dari para pedagang Islam dari Persia, Arab, dan India yang sejak abad ke-7 dan 8 telah singgah di Samudera Pasai. Karena kehidupan sosial Kerajaan Samudera Pasai mempunyai banyak persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat Arab, sehingga daerah itu mendapat julukan Serambi Mekah.

d.      Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi Kerajaan Samudera Pasai menitikberatkan pada sektor perdagangan, karena Kerajaan Samudara Pasai terletak di jalur pelayaran dan perdagangan dunia, yakni di Selat Malaka. Keadaan itu juga sangat mendukung kreativitas masyarakatnya untuk terjun langsung ke bidang perdagangan.
Pasa masa pemerintahan Malikul Saleh, Kerajaan Samudera Pasai berkembang menjadi bandar udara besar dan penting bagi perdagangan mancanegara. Oleh sebab itu, Samudera Pasai berkembang menjadi kerajaan yang makmur dan memiliki pertahanan yang kuat. Guna mengamankan diri dari serangan Kerajaan Siam yang daerahnya meliputi semenanjung Malaya, Kerajaan Samudera Pasai mengadakan hubungan langsung dengan Kerajaan Cina.
Perkembangan ekonomi masyarakat Kerajaan Samudera Pasai yang sangat pesat menjadi perhatian dan sekaligus menjadi incaran dari kerajaan lain di sekitarnya. Setelah Kerajaan Samudera Pasai dikuasai oleh Kerajaan Malaka, pusat perdagangan dipindahkan ke bandar Malaka.

e.       Kehidupan Budaya
Sebagai kerajaan maritim, di Samudera Pasai tidak banyak atau tidak ditemukan peninggalan budaya. Benda hasil kebudayaan di Kerajaan Samudera Pasai, seperti batu nisan atau jirat putri Raja Pasai yang didatangkan dar Gujarat. Jadi di Kerajaan Samudera Pasai tidak ditemukan hasil budaya asli masyarakat setempat.

Minggu, 30 Agustus 2015

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Tags

PENGEMBANGAN KURIKULUM
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


Pengembangan kurikulum mencakup beberapa tingkat, yaitu :
·         Pengembangan Kurikulum Tingkat Nasional.
·         Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
·         Pengembangan Silabus.
·         Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
·         Kurikulum Aktual (Pelaksanaan Pembelajaran).

Pengembangan kurikulum nasional dilatar belakangi dengan adanya konteks pendidikan yang mencakup landasan, tujuan pendidikan nasional dan standar pendidikan nasional. Dalam kurikulum nasional akan dikembangkan pula dengan adnaya standar kompetensi dan standar isi. Semua itu akan dirangkum dan dikembangkan pula dalam kurikulum operasional yang terdiri dari KTSP, Silabus dan RPP. Kesemuanya akan diaplikasikan dalam kurikulum aktual yakni dalam proses pembaruan.

A.    Prinsip Pengembangan Kurikulum (KTSP)
KTSP jenjang pendidikan dasar yang dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah yang berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai gontar (Permandiknas 22 Tahun 2006).
  1. Berawal pada potensi, pengembangan serta kebutuhan peserta didik dan lingkungannya.
  2. Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah dan jenjang serta jenis pendidikan tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat serta status sosial ekonomi dan gender.
  1. Tanggap terhadap perkembangan IPTEK dan Seni.
  2. Relevan dengan kebutuhan.
  3. Menyeluruh dan berkesinambungan.
  4. Belajar sepanjang hayat.
  5. Seimbang dengan kepentingan lokal, nasional dan global.

B.     Strategi Pembelajaran Kurikulum (KTSP)
1.      Sosialisasi Kurikulum (KTSP) di Sekolah
Sosialisasi perlu dilakukan secara matang kepada berbagai pihak agar dapat dipahami dan diterapkan secara optimal, karena sosialisasi merupakan langkah penting yang akan menunjang dan menentukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum (KTSP).

2.      Menciptakan Suasana yang Kondusif
Iklim belajar yang kondusif antara lain dapat dikembanmgkan melalui berbagai layanan dan kegiatan sebagai berikut :
a)      Menyediakan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pembelajaran.
b)      Memberkan remedial bagi peserta didik yang kurang berprestasi/ prestasi rendah.
c)      Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman dan aman bagi perkembangan potensi seluruh peserta didik secara optimal.
d)     Menciptakan kerjasama saling menghargai.
e)      Melibatkan peserta didik dalam proses belajar dan pembelajaran.
f)       Mengembangkan proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama.
g)      Mengembangkan sistem evaluasi belajar dan pembelajaran yang menekankan evaluasi diri sendiri (self evaluation)

3.      Menyiapkan Sumber Belajar
Sumber belajar yang perlu dikembangkan dalam kurikulum (KTSP) di sekolah antara lain laboratorium, pusat sumber belajar dan perpustakaan serta tenaga pengelola yang potensial. Dalam pengembangan sumber belajar guru disamping harus mampu membuat sendiri alat pembelajaran dan alat peraga, juga harus berinisiatif mendayagunakan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar yang lebih konkrit.

4.      Membina Disiplin
a)      Konsep diri (self-concept).
b)      Keterampilan berkomunikasi (communication skills).
c)      Konsekuensi logis dan alami.
d)     Klasifikasi nilai (valve clarification).
e)      Analisis transaksional (transactional analysis).
f)       Terapi realitas (reality therapy).
g)      Disiplin yang terintegrasi (arsertive discipline).

5.      Mengembangkan Kemandirian Kepala Sekolah
Kepemimpinan Kepala Sekolah yang efektif harus memiliki sikap mandiri terutama dalam mengkoordinasikan, menggerakkan dan menyelesaikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. KTSP menuntut Kepala Sekolah yang demokratis profesional, melalui pengangkatan yang profesional / demokratis pula.

6.      Membangun Karakter Guru
Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik dalam belajar, bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik dalam belajar. Demikian halnya dengan pengembangan KTSP yang menuntut aktifitas dan kreatifitas guru dalam membentuk kompetensi pribadi peserta didik.

7.      Memberdayakan Staf
Pemberdayaan staf dalam kaitannya dengan pengembangan KTSP dapat dilakukan dengan :
a)      Dalam kaitannya dengan kesejahteraan staf.
b)      Dalam hal pendidikan pra jabatan.
c)      Dalam hal rekrutmen dan penempatan staf.
d)     Dalam peningkatan kualitas staf.
e)      Dalam hal pengembangan karir tenaga kependidikan.

C.    Acuan Operasional Penyusunan Kurikulum (KTSP)
Acuan operasional penyusunan kurikulum (KTSP) mencakup 12 poin yaitu :
1.      Peningkatan IMTAK serta akhlak mulia.
2.      Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.
3.      Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan.
4.      Tuntutan perkembangan / pembangunan daerah dan nasional.
5.      Tuntutan dunia kerja.
6.      Perkembangan IPTEK dan seni.
7.      Agama.
8.      Dinamika perkembangan global.
9.      Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
10.  Kondisi Sosbud masyarakat setempat.
11.  Kesetaraan gender.
12.  Karakteristik satuan pendidikan.

Para pengembangan kurikulum bisa mengembangkan dan menyesuaikan acuan tersebut di atas dengan situasi dan kondisi daerah, karakteristik dan kemampuan peserta didik serta sarana dan prasarana yang tersedia.

Kamis, 27 Agustus 2015

Dilema Interaksi Sosial


DILEMA INTERAKSI SOSIAL
Dilema Interaksi Sosial


Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan timbal balik antara individu, antar kelompok manusia, maupun antara orang dengan kelompok manusia. Bentuk interaksi sosial adalah akomodasi, kerja sama, persaingan, dan pertikaian.
Interaksi sosial hanya dapat berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi dari kedua belah pihak. Interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem sarafnya sebagai akibat hubungan yang dimaksud.
Ciri-ciri sebuah interaksi sosial adalah sebagai berikut :
1.      Pelakunya lebih dari satu orang.
2.      Adanya komunikasi antar pelaku melalui kontrak sosial.
3.      Mempunyai maksud dan tujuan, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan pelaku.
4.      Ada dimensi waktu yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung.
Tindakan sosial dapat dibedakan menjadi empat anatara lain :
a.       Tindakan sosial instrumental
Tindakan sosial seperti ini dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dan tujuan yang akan dicapai. Tindakan ini bersifat rasional (masuk akal)
b.      Tindakan sosial berorientasi nilai
Tindakan sosial seperti ini dilakukan dengan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang ingin dicapai tidak terlalu dipertimbangkan.
c.       Tindakan sosial tradisional
Tindakan sosial ini dilakukan tanpa perhitungan secara matang, melainkan lebih karena kebiasaan yang berlaku selama ini dalam masyarakat.
d.      Tindakan efektif
Tindakan sosial seperti ini tergolong tindakan yang irrasional.
Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial :
1.      Kontrak sosial (social contact)
Kata kontak berasal dari con atau cum yang artinya bersama-sama dan kata tango yang artinya menyentuh. Jadi secara harfiah kontrak berarti saling menyentuh.
Wujud kontak sosial dibedakan menjadi tiga antara lain :
a.       Kontak antar individu contoh kontak antara anak dan orang tuanya, kontak antara siswa dan siswa lainnya.
b.      Kontak antar kelompok contoh kontak antara dua perusahaan dalam hubungan bisnis.
c.       Kontak antara individu dan suatu kelompok contoh kontak antara seorang calon anggota dan para anggota organisasi yang akan dimasukinya.
Kontak sosial langsung dan tidak langsung antara lain :
  • Kontak primer yaitu hubungan timbal balik yang terjadi secara langsung. Seperti jabat tangan, tersenyum dan berbicara.
  • Kontak sekunder yaitu kontak sosial yang memerlukan pihak ketiga sebagai media untuk melakukan hubungan timbal balik atau terjadi secara perantara, seperti : telepon, radio dan televisi.

Kontak sosial dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu :
  1. Kontak antar individu, misalnya seorang siswa baru mempelajari tata tertb dan budaya sekolah.
  2. Kontak antar individu dengan suatu kelompok, misalnya seorang guru mengajar di suatu kelas tentang suatu pokok bahasan.
  3. Kontak antar kelompok dengan kelompok lain, misalnya class meeting antar kelas.

2.      Komunikasi
Komunikasi adalah proses memberikan tafsiran pada perilaku orang lain yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap, atau perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan orang tersebut.
Contoh, jika Anda melambaikan tangan di pinggir jalan atau halte bus maka salah satu bus yang lewat pasti akan berhenti.

Rabu, 26 Agustus 2015

Makalah Tentang Kerajaan Banten (Kesultanan Banten)


KERAJAAN BANTEN (KESULTANAN BANTEN)



a.      Letak Kerajaan
Dasar-dasar Kerajaan Banten di letakkan oleh Hasanuddin (putra Fatahillah) dan mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Perkembangan Kerajaan Banten yang demikian pesat, tidak lepas dari posisi dan letaknya yang strategis di sekitar Selat Sunda.
Secara geografis, Kerajaan Banten terletak di daerah Jawa Barat bagian utara. Kerajaan Banten menjadi penguasa jalur pelayaran dan perdagangan yang melalui Selat Sunda. Dengan posisi yang strategis inilah, Kerajaan Banten berkembang menjadi sebuah kerajaan besar di Jawa Barat dan bahkan menjadi saingan berat VOC (Belanda) yang berkedudukan di Batavia.
Pada tahun 1525, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah dari Cirebon meletakkan dasar-dasar pengembangan agama dan kerajaan Islam, serta perdagangan di Banten. Setelah ia kembali dan menetap di Cirebon, Banten diserahkan kepada putranya, yaitu Hasanuddin.

b.      Kehidupan Politik
Berkembangnya Kerajaan Banten, tidak dapat dipisahkan dari peranan raja-raja yang pernah Kerajaan Banten.
1.      Raja Hasanuddin
Setelah Banten di Islamkan oleh Fatahillah, daerah Banten diserahkan kepada putranya yang bernama Hasanuddin. Ia memerintah Banten dari tahun 1552-1570 M. Ia meletakkan dasar-dasar pemerintahan Kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama. Pada masa pemerintahannya, agama Islam dan kekuasaan Kerajaan Banten berkembang cukup pesat.
Raja Hasanuddin, juga memperluas wilayah kekuasaannya ke Lampung. Dengan menduduki daerah Lampung, Kerajaan Banten merupakan penguasa tunggal jalur lalu lintas pelayaran perdagangan Selat Sunda, sehingga setiap pedagang yang melewati Selat Sunda diwajibkan untuk melakukan kegiatannya di Bandar Banten.
Hasanuddin menikah dengan putri dari Demk dan kemudian dinobatkan sebagai Panembahan Banten pada tahun 1552. Pada tahun 1568, saat terjadi perebutan kekuasaan dan peralihan kekuasaan ke Pajang. Hasanuddin melepaskan diri dari kekuasaan Demak. Dengan demikian, Hasanuddin merupakan pendiri dan sekaligus sebagai raja pertama Kerajaan Banten.
Di bawah pemerintahannya, Banten berkembang dengan pesat dan banyak dikunjungi pedagang asing, baik dari wilayah Nusantara maupun negeri lain, seperti Gujarat, Persia, Cina, Turki, Pegu (selatan Myanmar), dan Keling. Para pedagang asing tersebut kemudian membentuk perkampungan sesuai dengan asalnya.
Raja Hasanuddin kemudian kawin dengan putri Raja Indrapura. Bahkan Raja Indrapura menyerahkan tanah Selebar yang banyak menghasilkan lada kepadanya.

2.      Panembahan Yusuf
Setelah Raja Hasanuddin wafat tahun 1570 M, putranya yang bergelar Panembahan Yusuf menjadi raja Banten berikutnya. Ia berupaya untuk memajukan pertanian dan pengairan. Ia juga berusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan kerajaannya. Langkah-langkah yang ditempuhnya antara lain, merebut Pakuan pada tahun 1579 M. Dalam pertempuran tersebut, raja Pakuan yang bernama Prabu Sedah tewas. Kerajaan Pajajaran yang merupakan benteng terakhir kerajaan Hindu di Jawa Barat berhasil dikuasainya. Setelah 10 tahun memerintah, Panembahan Yusuf wafat akibat sakit keras yang dideritanya.

3.      Maulana Muhammad
Ketika Panembahan Yusuf sedang sakit, saudaranya yang bernama Pangeran Jepara datang ke Banten. Ternyata Pangeran Jepara yang dididik oleh Ratu Kali Nyamat ingin menduduki Kerajaan Banten. Tetapi Mangkubumi Kerajaan Banten dan pejabat-pejabat lainnya tidak menyetujuinya. Mereka mengangkat putra Panembahan Yusuf yang baru berumur sembilan tahun bernama Maulana Muhammad menjadi raja Banten dengan gelar Kanjeng Ratu Banten. Mangkubumi menjadi wali raja. Mangkubumi menjalankan seluruh aktivitas pemerintahan kerajaan sampai rajanya siap memerintah.
Pada tahun 1596 M Kanjeng Ratu Banten memimpin pasukan Kerajaan Banten untuk menyerang Palembang. Tujuannya untuk menduduki bandar-bandar dagang yang terletak di tepi Selat Malaka agar bisa dijadikan tempat untuk mengumpulkan lada dan hasil bumi lainnya di Sumatera. Palembang akan dikuasainya, tetapi tidak berhasil, malah Kanjeng Ratu Banten tertembak dan akhirnya wafat. Tahta kerajaan kemudian berpindah kepada putranya yang baru berumur lima bulan yang bernama Abu ‘Mufakir.

4.      Abu ‘Mufakir
Abu ‘Mufakir dibantu oleh wali kerajaan yang bernama Jayanegara. Akan tetapi, ia sangat dipengaruhi oleh pengasuh pangeran yang bernama Nyai Emban Ragkung.
Pada tahun 1596 M itu juga untuk pertama kalinya orang Belanda tiba di Indonesia di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Mereka berlabuh di pelabuhan Banten. Tujuan awal mereka datang ke Indonesia adalah untuk membeli rempah-rempah.

5.      Sultan Ageng Tirtayasa
Setelah Wafat, Abu’Mufakir digantikan oleh putranya dengan gelar Sultan Abu’Ma’ali Ahmad Rahmatullah. Akan tetapi berita tentang pemerintahan sultan ini tidak dapat diketahui dengan jelas. Setelah Sultan Abu’Ma’ali wafat, ia digantikan oleh putranya yanmg bergelar Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memerintah Banten dari tahun 1651-1692 M.
Dibawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya. Sultan Ageng Tirtayasa berupaya memperluas kerajaannya dan mengusir Belanda dari Batavia. Banten mendukung perlawanan Kerajaan Mataram terhadap Belanda dari Batavia. Kegagalan Kerajaan Mataram tidak mengurangi semangat Sultan Ageng untuk mencapai cita-citanya.
Sultan Ageng Tirtayasa memajukan aktivitas perdagangan agar dapat bersaing dengan Belanda di Batavia. Di samping itu Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan kepada pasukan Kerajaan Banten untuk mengadakan perompakan terhadap Belanda di Batavia, sedangkan perkembunan tebu milik Belanda di sebelah barat Ciangke dirusak oleh orang-orang Banten. Gerakan yang dilakukan oleh orang-orang Banten atas perintah Sultan Ageng Tirtayasa membuat Belanda kewalahan menghadapinya.
Pada tahun 1671 M Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota menjadi raja pembantu dengan gelar Sultan Abdul Kahar. Sejak saat itu Sultan Ageng Tirtayasa berstirahat di Tirtayasa, tetapi ia tidak melepaskan pemerintahan seluruhnya. Pada tahun 1674 M, Sultan Abdul Kahar berangkat ke Mekkah dan setelah mengunjungi Turki ia kembali ke Banten (1676 M). Sejak saat itu ia lebih dikenal dengan sebutan Sultan Haji.
Ketika memerintah Kerajaan Banten, Sultan Haji menjalin hubungan baik dengan Belanda. Ternyata hubungan ini dijadikan kesempatan yang bagus oleh Belanda untuk memasuki Kerajaan Banten. Melihat terjalinnya huungan antara Sultan Haji dengan Belanda, Sultan Ageng Tirtayasa menarik kembali tahta kerajaan dari tangan dari tangan Sultan Haji. Namun Sultan Haji tetap mempertahankan tahta kerajaannya, sehingga terjadi perang saudara di Kerajaan Banten antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya Sultan Haji yang mendapat bantuan Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan dipenjarakan di Batavia hingga wafat tahun 1692 M.
Kemenangan Sultan Haji merupakan kehancuran Kerajaan Banten, karena selanjutnya Kerajaan Banten berada di bawah pengawasan pihak Belanda. Dengan demikian, Sultan Haji hanyalah sebagai lambang belaka (raja boneka) dalam pemerintahan Kerajaan Banten, karena seluruh kekuasaan diatur oleh Belanda.

c.       Kehidupan Sosial
Sejak daerah Banten di Islamkan oleh Sunan Gunung Jati, kehidupan sosial budaya masyarakatnya secara perlahan mulai berdasarkan ajaran Islam. Bahkan, setelah Kerajaan Banten dapat menaklukkan kerajaan Hindu Pajajaran, pengaruh Islam semakin berkembang di daerah pedalaman. Mereka yang tidak mau menganut agama Islam menyingkir ke daerah pedalaman, yaitu daerah Badui. Kepercayaan mereka disebut Pasundan Kawitan, artinya Pasundan yang pertama. Mereka mempertahankan tradisi lama dan menolak pengaruh luar yang baru.
Banyaknya pedagang asing di Banten, telah menyebabkan berdirinya perkampungan menurut bangsa para pedagang tersebut. Pperkampungan itu antara lain kampung Keling, kampung Arab, kampung Pekojan, kampung Pecinan, kampung Melayu dan kampung Jawa. Ada juga kampung yang berdasarkan pekerjaan atau fungsi penduduknya seperti kampung Pande (untuk para pandai), kampung Panjunan (untuk pembuat barang pecah belah), dan kampung Kauman (untuk tempat para ulama).

d.      Kehidupan Ekonomi
Kehidupan perekonomian Kerajaan Banten bertumpu pada bidang perdagangan. Hal ini disebabkan hal sebagai berikut :
Ø   Kerajaan Banten terletak di Teluk Banten dan pelabuhannya memenuhi syarat sebagai pelabuhan dagang yang baik.
Ø   Kedudukan Kerajaan Banten sangat strategis di tepi Selat Sunda. Aktivitas pelayaran dan perdagangan dari pedagang Islam semakin ramai di Selat Sunda sejak Portugis menguasai Malaka.
Ø   Banten memiliki bahan ekspor penting, yaitu lada sehingga menjadi daya tarik yang kuat bagi pedagang asing.
Ø   Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mendorong pedagang Islam mencari daerah baru di Jawa Barat, yaitu Banten dan Cirebon.
Dengan kedudukan seperti itu, Kerajaan Banten cepat berkembang dan maju sehingga dikunjungi oleh pedagang asing, seperti pedagang Gujarat, Cina, Turki, Pegu, Keling, Portugis, dan Belanda. Pasar tempat orang berjual beli barang ekspor terletak dekat pelabuhan, sedangkan untuk keperluan penduduk terletak di tengah kota. Baranmg yang dijual belikan sangat menarik perhatian bangsa Eropa.

e.       Kehidupan Budaya
Seperti kerajaan lainnya yang mengandalkan perekonomiannya pada bidang pelayaran dan perdagangan, hasil kebudayaan masyarakat Banten pun tidak banyak diketahui. Namun dalam bidang seni bangunan, Kerajaan Banten meninggalkan bangunan Masjid Agung Banten yang dibangun sekitar abad ke-16. Menara Masjid Agung Banten yang mirip mercusuar di bangun oleh Hendrik Lucazoon Cardeel (orang Belanda pelarian dari Batavia yang masuk Islam).

Selasa, 25 Agustus 2015

Makalah Tentang Kerajaan Mataram Islam


KERAJAAN MATARAM ISLAM
Makalah Tentang Kerajaan Mataram Islam



a.      Letak Kerajaan
Kerajaan Mataram Islam ini tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Mataram dari zaman Hindu-Budha. Kebetulan saja nama yang sama dipakai. Mungkin juga pemakaian nama ini ada hubungannya dengan upaya untuk mengagungkan kembali kebesaran masa lalu.
Pada awal perkembangannya, Kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang. Letak Kerajaan Mataram ada di daerah Jawa Tengah bagian selatan dengan pusatnya Kota Gede atau Pasar Gede dekat daerah Yogyakarta sekarang. Dari daerah inilah Kerajaan Mataram terus berkembang hingga akhirnya menjadi kerajaan besar dengan wilayah kekuasaannya meliputi daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian daerah Jawa Barat.

b.      Kehidupan Politik
Setelah Kerajaan Demak runtuh, pusat pemerintahan dipindahkan ke Pajang oleh Ki Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya), menantu Sultan Trenggana. Sultan Hadiwijaya selanjutnya mendirikan Kerajaan Pajang namun usianya tidak lama, yaitu antara tahun 1569-1586 M. Setelah Sultan Hadiwijaya meninggal, kota-kota pesisir terus memperkuat diri, sehingga membahayakan kedudukan Kerajaan Pajang. Adapun Pangeran Benowo pengganti Sultan Hadiwijaya tidak dapat mengatasi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para Bupati dari daerah pesisir pantai tersebut. Oleh karena itu Pangeran Benowo menyerahkan kekuasaan kerajaan kepada Sutawijaya. Dengan demikian berdirilah Kerajaan Mataram. Raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Mataram adalah sebagai berikut :
1.      Panembahan Senopati
Panembahan Senopati adalah gelar Sutawijaya setelah menjadi raja. Masa pemerintahan Senopati adalah masa perjuangan. Ia bercita-cita menjadikan Mataram sebagai pusat kekuasaan di Jawa. Akibatnya, ia selalu berada di medan perang untuk menundukkan Adipati Demak, Kediri, Madiun, Kedu, Begelen, Surabaya, dan Pasuruan. Daerah-daerah itu pada mulanya tidak berdsedia mengikuti kedaulatan Mataram. Untuk menaklukkan daerah tersebut, ia dibantu oleh pamannya, Ki Juru Martani. Ia menjadi penasihat sekaligus panglima perang. Akhirnya sejumlah daerah berhasil ditaklukkan oleh Mataram.
2.      Panembahan Sedo Krapyak
Setelah Panembahan Senopati wafat, takhta Mataram beralih kepada putranya, Mas Jolang. Ia bergelar Sultan Anyokrowati. Cita-cita menjadikan Mataram sebagai pusat kekuasaan di Jawa tetap dilanjutkan. Namun, perjuangan itu semakin sulit karena banyak terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh para adipati pesisir. Mereka ingin melepaskan diri dari Kerajaan Mataram. Sewaktu pulang dri pertempuran Mas Jolang wafat di desa Krapyak, Jawa Timur. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai Panembahan Sedo Krapyak.
Daerah-daerah yang berhasil dikuasai oleh Mataram di bawah pemerintahan Mas Jolang adalah Ponorogo, Kertosono, Kediri, Wirosobo (Mojoagung). Pada tahun 1612 M, Gresik-Jeratan berhasil dihancurkan. Namun karena berjangkitnya penyakit menular, maka pasukan Mataram yang langsung dipimpin oleh Mas Jolang terpaksa kembali ke Pusat Kerajaan Mataram.

3.      Sultan Agung Hanyokrokusumo
Mas Jolang digantikan oleh putranya, Raden Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo. Cita-cita perjuangan kedua pendahulunya tetap dilanjutkan. Di bawah kepemimpinannya, daerah yang selama ini sukar ditaklukkan, seperti Surabaya dan Blambangan dapat direbut. Selama masa pemerintahannya, kekuasaan Mataram meliputi sebagian Jawa Barat, seluruh Jawa Tengah, dan seluruh Jawa Timur.
Daerah yang sulit ditaklukkan selama pemerintahan Sultan Agung adalah bagian barat Jawa Barat, daerah itu adalah Banten. Namun, ketika sudah muncul kekuatan di Jayakarta (Batavia) yang berada pada jalur antara Mataram-Banten. Kekuatan baru itu adalah VOC, VOC bermaksud menerapkan monopoli perdagangan rempah-rempah di Batavia.
Mataram pernah melakukan dua kali serangan ke Batavia. Serangan pertama dilancarklan tahun 1628 dan serangan kedua dilancarkan tahun 1629. Namun kedua serangan itu mengalami kegagalan. Kegagalan itu bukan karena ketangguhan pasukan VOC, melainkan karena kekurangan persiapan logistik. Banyak prajurit Majapahit tewas karena kelaparan dan menderita sakit.
Kegagalan ini membuat Sultan Agung memperketat penjagaan di daerah-daerah perbatasan  yang dekat dengan Batavia, sehingga Belanda sulit menembus daerah Mataram. Sultan Agung wafat tahun 1645 M dan digantikan oleh putranya yang mendapat gelar Amangkurat I.

4.      Sunan Amangkurat I
Setelah Sultan Agung meninggal, takhta Mataram beralih kepada putranya, Amangkurat I. pada masa pemerintahannya, Amangkurat I mengadakan kerja sama dengan VOC. Persekutuan dengan Belanda itu diperbolehkan mendirikan benteng di Mataram.
Amangkurat I memerintah Matarm dari tahun 1645-1677 M. Ketika ia berkuasa, orang-orang Belanda mulai masuk ke daerah Kerajaan Mataram.
Ternyata setelah diperkenankan mendirikan Benteng, tindakan Belanda semakin sewenang-wenang. Akhirnya muncul pemberontakan, seperti pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Trunajaya dari Madura. Pangeran Trunajaya berhasil menjalin hubungan dengan bupati di daerah pesisir pantai. Bahkan ibu kota Mataram hampir dikuasai oleh Trunajaya. Namun karena perlenglengkapan persenjataan yang jauh di bawah pasukan Belanda, akhirnya pemberontakan itu berhasil di padamkan. Ketika pertempuran terjadi di pusat ibukota Mataram, Amangkurat I menderita luka-luka dan dilarikan oleh putranya ke Tegalwangi, hingga meninggal dunia.

5.      Sunan Amangkurat II
Amangkurat II memerintah Mataram dari tahun 1677-1703 M. Di bawah pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram semakin sempit. Sebagian besar daerah-daerah kekuasaan diambil alih Belanda. Amangkurat II yang tidak tertarik untuk tinggal di ibukota Kerajaan, selanjutnya mendirikan ibukota baru di Desa Wonokerto yang diberi nama Kartasurya. Di ibukota inilah Amangkurat II menjalankan pemerintahannya terhadap siswa-sisa Kerajaan Mataram, hingga akhirnya meninggal tahun 1703 M.
Setelah Amangkurat II, Kerajaan Mataram bertambah suram dan tahun 1755 M melalui Perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram dibagi dua   wilayah :
·         Daerah Kesultanan Yogyakarta, daerah ini lebih dikenal dengan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Mangkubumi sebagai rajanya, bergelar Sultan Hamengkubuwono I (1755 – 1792).
·         Daerah Kesuhunan Surakarta, diperintah oleh Susuhunan Pakubuwono II.
Meskipun demikian, ternyata Belanda merasa belum puas untuk memecah belah wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram. Sewaktu terjadi perlawanan dari Mas Said, Belanda mengadakan Perjanjian Salatiga. Perjanjian ini merupakan upaya Belanda untuk memperkecil wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram.
Perjanjian Salatiga berlangsung pada tahun 1757 M. Mas Said dinobatkan sebagai raja dengan gelar Pangeran Adipati Arya Mangkunegara dengan wilayahnya diberi nama daerah Mangkunegara. Namun, pada tahun 1813 M sebagian daerah dari kesultanan Yogyakarta diberikan kepada Paku Alam selaku Adipati, sehingga Kerajaan Mataram yang kuat dan kokoh pada masa pemerintahan Sultan Agung akhirnya dibagi menjadi kerajaan kecil seperti :
·         Kerajaan Yogyakarta
·         Kesuhunan Surakarta
·         Kerajaan Pakualam
·         Kerajaan Mangkunegara
Dengan demikian berakhirlah Kerajaan Mataram yang besar dan megah sampai menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang lemah dan tidak berdaya.

c.       Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Mataram bersifat agraris. Hal itu dibuktikan dengan usaha untuk memperluas daerah persawahan dan pemindahan petani ke daerah Kurawang yang subur pada masa pemerintahan Sultan Agung, yaitu antara tahun 1613-1645.
Atas dasar kehidupan agraris, disusun suatu masyarakat yang bersifat feodal. Para pejabat memperoleh imbalan berupa tanah garapan atau pajak tanah. Kehidupan itu menjadi cikal bakal munculnya tuan tanah di Jawa, misalnya seorang kepala desa atau lurah menganggap daerah kekuasaannya itu sebagai miliknya.

d.      Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Mataram terletak di daerah pedalaman sehingga bukan merupakan jalur perdagangan. Dengan demikian, kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram bertumpu pada sektor agraris. Masyarakatnya sebagian besar petani. Kegiatan perdagangan di Kerajaan Mataram kurang memperoleh perhatian dari para penguasanya. Akibatnya, kegiatan perdagangan menjadi kurang berkembang. Hal itu semakin diperparah dengan jatuhnya kota-kota pelabuhan di pesisir utara Pulau Jawa ke tangan VOC.

e.       Kehidupan Budaya
Pada masa kekuasaan Mataram, kehidupan kebudayaan berkembang dengan baik. perkembangan kebudayaan itu berupa seni tari, seni pahat, seni suara, dan sastra.
Dalam bidang kebudayaan berkembang akulturasi kebudayaan Indonesia Islam, seperti sistem kalender karya Sultan Agung. Selain itu, Sultan Agung juga menulis sebuah kitab yang berjudul Sastra Gending dan membangun kompleks makam raja-raja Mataram yang terdapat di Imogiri.

Senin, 24 Agustus 2015

Teori Kedatangan Islam Di Indonesia


TEORI-TEORI KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA
Teori Kedatangan Islam Di Indonesia


a.       Tome Pires (Buku Suma Oriental)
Pada abad XVI, sebagian besar raja di Sumatera Utara telah memeluk agama Islam. Mulai dari Aceh di sebelah utara ke arah tenggara sampai Palembang semua penguasanya memeluk agama Islam. Namun, disebelah selatan Palembang dan sekitar ujung selatan Sumatera hingga pesisir barat, sebagian besar penguasanya tidak beragama Islam. Di Pasai terdapat suatu komunitas dagang internasional yang sedang berkembang pesat dan hal itu berhubungan dengan masuknya budaya dan agama Islam di daerah tersebut. Penguasa Pasai belum dapat mengubah agama penduduk daerah pedalaman. Demikian pula yang terjadi dengan raja Minangkabau, hanya seratus pengikutnya yang mau memeluk agama Islam sementara penduduk lainnya belum. Meskipun demikian, Pires mengatakan bahwa agama Islam setiap harinya mendapatkan pemeluk-pemeluk baru di Sumatera.

b.      Snouck Hurgronje
Islam masuk ke Indonesia dari wilayah anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara. Teori ini didasari oleh tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal (abad ke-12 atau 13). Teori ini didukung oleh dengan hubungan yang terjalin lama antara Nusantara dengan India.
Menurut ahli dari Belanda yang sempat menyusup dalam pemerintahan Kerajaan Aceh tersebut, Islam diperkenalkan oleh muslim India bukan oleh muslim Arab. Hal ini tentunya sangat dipengaruhi oleh padatnya jalur perdagangan internasional yang melibatkan kaum pedagang dari Gujarat maupun Persia. Teori dari Snouck Hurgronje ini berkaitan erat dengan teori Persia sebagai tempat masuknya agama Islam.
c.       Taufik Abdullah dan Uka Tjandrasasmita
Sejarawan senior dari UI tersebut mengemukakan pendapatnya mengenai kedagangan Islam ke Nusantara. Faktor utama melandasi datangnya budaya dan agama Islam adalah melalui perdagangan dan pergaulan.

d.      Ahmad Mansyur Suryanegara
Sejarawan Islam yang tinggal di Jawa Barat ini mengemukakan pendapatnya mengenai kedatangan Islam ke Nusantara yang datang sekitar abad ke-7. menurutnya, ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup sebenarnya telah terjalin hubungan perdagangan dengan para pedagang dari Indonesia. Dari teori Ahmad Mansyur ini didukung oleh teori lain bahwa kedatangan Islam ke Nusantara adalah sejak zaman Khulafaur Rasyidin. Islam sudah memulai ekspedisinya ketika zaman pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, harus kedatangan Islam ke Nusantara adalah sejak zaman pra-Nabi Muhammad SAW, dan dapat dikatakan pula Islam datang dari Tanah Arab, bukan dari Gujarat. Bukti-bukti kuat tentang kedatangan dan penyebaran Islam dapat dilihat dari catatan-catatan India, Cina bahkan Arab sendiri yang menceritakan proses tersebut.