Rabu, 30 Desember 2015

Kebenaran Ilmiah dan Konsep Filsafat Pendidikan Serta Aliran-alirannya


Dalam filsafat pendidikan, kebenaran ilmiah sebagai entitas struktur komponen ilmu pendidikan, dimana hakekat pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya akan dipraktekkan berdasarkan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaannya.
Aliran-aliran yang menempatkan manusia sebagai bagian dari kebudayaan. Sisi kebenaran dari konsep filsafat dari masing-masing aliran terletak pada konsep dasar orientasi yang membawa dampak pada penerjemahan kebijakan dalam dunia pendidikan. Adapun aliran-aliran tersebut mengelompok sebagai aliran progrevisme, esensialisme, parenialisme dan rekonstruksionisme.

Kebenaran Ilmiah dan Konsep Filsafat Pendidikan Serta Aliran-alirannya

1.      Progresivisme
Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat mengahadapi dan masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri (Barnadib, 1994: 28). Oleh karena kemajuan atau proses ini menjadi suatu statemen progrevisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama dari kebudayaan yang meliputi ilmu-ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam.
Hal ini karena progrevisme memandang manusia sebagai makhluk yang bebas, aktif, dinamis, dan kreatif. Kedudukan manusia penting dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban. Dengan kemampuan fikiran yang diberikan Tuhan, manusia mampu menciptakan berbagai ilmu pengetahuan, kesenian dan sarana untuk menghasilkan perubahan dan perkembangan (progress), artinya dalam meninjau kebudayaan dan pendidikan, progrevisme mengutamakan tinjauan ke depan dari pada masa lalu (Barnadib, 1996: 62).
Untuk menjelaskan pandangan progravisme, misalnya kita ambil contoh dari antropologi, disini dapat dipelajari bahwa manusia membentuk masyarakat, mengembangkan kebudayaan, dan telah berhasil untuk terus membina kehidupan dan peradaban dan selalu diupayakan untuk mendapatkan kemajuan.
Dari psikologi dapat dipelajari bahwa manusia mempunyai akal budi. Dengan kemampuan berfikirnya dan pengembangan imajinasinya ternyata manusia mampu kreatif untuk meringankan hidupnya dengan ciptaannya. Semuanya itu digunakan untuk meraih kemajuan dalam kehidupannya (Barnadib, 1996: 19).
Kebenaran menurut pandangan progrevisme adalah sesuatu yang rasional yang dapat membawa kepada kemajuan atau progress. Sehubungan dengan ini ide-ide, teori-teori atau cita-cita tidaklah cukup hanya diakui sebagai hal-hal yang ada dan mengandung nilai kebenaran, tetapi yang ada dan benar secara ilmiah haruslah dicari artinya dan diimplikasikan bagi suatu kemajuan perkembangan ilmu.
Untuk itulah progrevisme mengadakan perbedaan antara pengetahuan dan kebenaran. Pengetahuan adalah kumpulan kesan-kesan dan penerangan-penerangan yang terhimpun dari pengalaman yang siap digunakan. Kebenaran adalah hasil tertentu dari usaha untuk mengetahui, memiliki dan mengarahkan beberapa segmen pengetahuan agar dapat menimbulkan petunjuk atau penyesuaian pada siatuasi tertentu, yang mungkin keadaannya kacau (Barnadib, 1996: 31).

2.      Esensialisme
Esensialisme dalam memandang kebudayaan dan pendidikan berbeda degan progrevisme, kalau progrevisme menganggap pandangan bahwa banyak hal itu mempunyai sifat yang serba fleksibel dan nilai-nilai itu berubah dan berkembang, esensialisme menganggap bahwa dasar pijak semacam ini kurang tepat karena fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu (Barnadib, 1996: 38)
Disamping itu esensialisme memandang manusia sebagai makhluk budaya, artinya keberadaan manusia mempunyai peranan sebagai penghayat, pelaksana dan sebagai pengembang kebudayaan. Dalam kehidupannya manusia dilingkupi oleh nilai dan norma budaya, agar kehidupan manusia bermakna dan mantap perlu berlandaskan pada nilai dan norma budaya yang mantap, telah teruji oleh waktu.
Makna atau nilai kebenaran ilmiah yang dikemukakan aliran ini sebagaimana yang diungkapkan Richard Pratte (1977: 139), adalah sikap konservatisme kefilsafatan, artinya bahwa kebenaran yang dilakukan manusia adalah relatif karena ketidaksempurnaan manusia. Tetapi setidaknya kebenaran yang dilakukan menurut teori ini adalah kemampuan manusia mengembangkan norma dan nilai yang mewarnai kebudayaan, termasuk pendidikan, sehingga tidak dengan mudah meninggalkan prestasi serta produknya (kebudayaan, norma, dan nilai termasuk sebagian dari produk dan prestasi itu).
Ini menunjukkan bahwa anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan menyebelah saja. Berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata, melainkan pertemuan antara keduanya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasan dan ide-ide. Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas, yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta adanya kosmos. Dengan menguji dan menyelidiki ide-ide serta gagasan-gagasannya, manusia dapat mencapai kebenaran, yang sumbernya adalah Tuhan sendiri (Butler, 1951: 161).
Disinilah fungsi pendidikan dalam berbagai bentuk dan manifestasinya yang senantiasa berkembang dan berubah, merupakan refleksi dari kebudayaan mengantarkan manusia ke dalam fikiran dan alam modern yang ditandai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.      Perenialisme
Perenialisme dalam memandang keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Berhubung dengan itu dinilai sebagai zaman yang membutuhkan usaha untuk mengamankan lapangan moral, intelektual dan lingkungan sosial kultural yang lain. Ibarat kapal yang akan berlayar, zaman memerlukan pangkalan dan arah tujuan yang jelas. Perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan pangkalan yang demikian ini merupakan tugas yang pertama-tama dari filsafat dan filsafat pendidikan (Barnadib, 1996: 59)
Sesuai dengan asal katanya, yaitu perenial: hal-hal yang ada sepanjang masa, perenialisme mengikuti tradisi perkembangan intelektuali akademik yang ada pada dua zaman, Yunani dan abad pertengahan. Hal-hal yang ada sepanjang masa inilah yang perlu digunakan untuk menatap kehidupan sekarang yang penuh dengan liku-liku (Pratte, 1977: 166). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perenialisme bersifat regresif, artinya kembali kepada kebenaran yang sesungguhnya sebagaimana telah diletakkan dasarnya oleh para filosof zaman lampau. Motif dengan mengambil jalan regresif bukan hanya nostalgia atau rindu akan nilai-nilai lama untuk diingat atau dipuja, melainkan berpendapat bahwa nilai-nilai tersebut mempunyai kedudukan vital bagi pembangunan kebudayaan abad ini (Barnadib, 1996: 59).
Dalam memandang pengetahuan, perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah merupakan keyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian antara pikir dan benda-benda (Barnadib, 1996: 67). Maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. Hal ini berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah perhatian mengenai esensi dari sesuatu, artinya telah memenuhi syarat-syarat logis dan memiliki evidensi diri bagi pengertian yang dirumuskan.

4.      Rekonstruksionisme
Aliran ini memandang manusia sebagai makhluk sosial. Manusia tumbuh dan berkembang dalam keterkaitannya dengan proses sosial dan sejarah dari pada masyarakat. Pendidikan mempunyai peranan untuk mengadakan pembaharuan dan pembangunan masyarakat (Barnadib, 1996: 63).
Perkembangan ilmu dan teknologi tidak memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi masyarakat, namun juga membawa dampak negatif. Masyarakat yang hidup damai berangsur-angsur diganti oleh masyarakat yang coraknya tidak menentu, tiada kemantapan, dan yang lebih penting dari itu lepasnya individu dalam keterkaitannya dengan masyarakat serta adanya keterasigan, hal ini menciptakan budaya hegemoni sebagai ideologi.
George F. Kneller (1984: 195) membuat iktisar pandangan Michael W. Apple tentang ideologi yang dimaksud ada 3 unsur, (1) pandangan bahwa kemajuan itu tergantung dari sains dan industri, (2) suatu kepercayaan dalam masyarakat bahwa agar orang mampu menyumbangkan jasanya dalam masyarakat kompetitif, (3) kepercayaan bahwa hidup yang memadai dan sama dengan menghasilkan dan mengkonsumsikan barang dan jasa bagi masyarakat. Sehingga menurut Apple ketiganya tercermin dalam kurikulum sekolah. Agar keadaan masyarakat dapat diperbaiki, pendidikan menjadi wahana penting untuk rekonstruksi.
Hal tersebut yang menyebabkan tumbuhnya pikiran kritis rekonstruksionisme yang terjadi dalam masyarakat, sehingga dapat dikatakan rekonstruksi sebagai tujuan mencari titik kebenaran melalui lembaga pendidikan.

Selasa, 29 Desember 2015

Contoh Makalah Tentang Pengertian dan Teori-teori Kebenaran


A.    Pengertian Kebenaran
Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini, Plato pernah berkata : “Apakah kebenaran itu?” Lalu pada waktu yang bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab : “Kebenaran itu adalah kenyataan”, tapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Jadi ada 2 pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak, dna kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran) (Syafi’i, 1995).
Contoh Makalah Tentang Pengertian dan Teori-teori Kebenaran

Dalam bahanan ini, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilimiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama ataupun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan (Wilardo, 1985: 238-239). Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran (Daldjoeni, 1985: 235).
Selaras dengan Poedjawiyatna (1987: 16) yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengetahuan dan objeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek objek yang diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan objektif.
Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden, dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia.

B.     Teori-Teori Kebenaran
Untuk menentukan kepercayaan dari sesuatu yang dianggap benar, para filosof bersandar kepada 3 cara untuk menguji kebenaran, yaitu koresponden (yakni persamaan dengan fakta), teori koherensi atau konsistensi, dan teori pragmatis.
1.      Teori Korespondensi
Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi adalah paling diterima luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity ob ibjective reality). Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tetang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi pertimbangan itu berusaha untuk melukiskan, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Titus, 1987: 237).
Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri, 1990: 57). Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “Kota Yogyakarta terletak di pulau Jawa” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual, yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau Jawa. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “Kota Yogyakarta berada di pulau Sumatera” maka pernyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat objek yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Dalam hal ini maka secara faktual “kota Yogyakarta bukan berada di pulau Sumatera melainkan di pulau Jawa”.
Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yang sudah ditetapkan atau diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah (Jujun, 1990: 237).

2.      Teori Koherensi
Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (Jujun, 1990: 55)., artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika.
Misalnya bila kita menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si Hasan seorang manusia dan si Hasan pasti akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
Seorang sarjana Barat A.C Ewing (1951: 62) menulis tentang teori koherensi, ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu ideal yang tak dapat dicapai, akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik, dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya. Jika kita menganggap bahwa 2+2 = 5, maka tanpa melakukan kesalahan lebih lanjut, dapat ditarik kesimpulan yang menyalahi tiap kebenaran aritmatik tentang angka apa saja.
Kelompok idealis, seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel, Bradley dan Royce memperluas koherensi sehingga meliputi dunia; dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus-menerus dengan keseluruhan realitas dan memperoleh arti dari keseluruhan tersebut (Titus, 1987: 239). Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual, yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu.

3.      Teori Pragmatik
Teori Pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filsafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis (jujun, 1990: 57).
Pragmatisme menantang segala otoritanianisme, intelektualisme dan rasionalisme. Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility), kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (Titus, 1987: 241). Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis (Hadiwijono, 1980: 130) dalam kehidupan manusia.
Kriteria pragmatisme juga dipergunakan oleh ilmuan dalam menentukan kebenaran ilmiah dalam prespektif waktu. Secara historis pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar adalah suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan ini dianggap benar, sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilnya pernyataan baru, maka pernyataan itu ditinggalkan (Jujun, 1990: 59), demikian seterusnya. Tetapi kriteria kebenaran cenderung menekankan satu atau lebih dari tiga pendekatan    (1) yang benar adalah yang memuaskan keinginan kita, (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan dengan eksperimen, (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan hidup biologis. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden, koherensi, dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan dari pada saling bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu defenisi tentang kebenaran. Kebenaran adalah persesuaian yang setia pada pertimbangan dan ide kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya. Akan tetapi karena kita dengan sutuasi yang sebenarnya, maka dpat diujilah pertimbangan tersebut dengan konsistensinya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita anggap sah dan benar, atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang praktis (Titus, 1987: 245).

Senin, 28 Desember 2015

Pengertian Pengendalian, Piutang Serta Penilaian Piutang


A.    Pengertian Pengendalian (Control)
Kata pengendalian oleh sebagian pengarang buku sering kali disebut juga dengan pengawasan. Namun yang jelas bahwa maksud dan tujuan kedua pengertian tersebut sering tidak jauh berbeda. Pengendalian (Control) merupakan suatu konsep yang mempunyai arti yang luas. Pengendalian dapat ditetapkan pada benda, manusia dan organisasi. Dalam suatu organisasi, pengendalian mencakup baik itu pengendalian manajemen maupun proses perencanaan dan pengendalian lainnya.
Defenisi pengendalian menurut beberapa pengarang :
1.      Milton F. Usry, Adolph Matz
“Pengendalian (control) merupakan usaha sistematis perusahaan untuk mencapai tujuan dengan cara memperbandingkan pelaksanaan dengan rencana. Kegiatan-kegiatan harus terus menerus diawasi jika manajamen ingin tetap berada dalam batas ketentuan yang telah  digariskan.”
2.      J.B. Hecker
“Control adalah proses mengembangkan dan merevisi norma-norma (standard) yang memuaskan sebagai ukuran pelaksanaan dan menyediakan pedoman serta bantuan kepada anggota manajemen yang lain dalam menjamin adanya penyesuaian hasil pelaksanaan terhadap norma standar.

Pengertian Pengendalian, Piutang Serta Penilaian Piutang

Dari defenisi tersebut di atas terdapat berbagai cara dan penggunaan bahasa yang berlainan diantara satu pengarang dengan pengarang buku lainnya dalam memberikan defenisi terhadap control. Jadi control merupakan suatu jaminan atau penjagaan agar supaya pelaksanaan sedapat mungkin selaras dengan rencana yang telah ditetapkan atau telah disusun. Dan ini berarti pula untuk mengawasi pelaksanaan rencana dapat saja sesuai ataupun tidak sesuai dengan rencana. Dengan adanya control diharapkan adanya beberapa penyimpangan yang mungkin terjadi dapat dikurangi atau dapat diarahkan pada tujuan yang akan dicapai.
Pelaksanaan suatu pengendalian dapat berhasil dengan baik apabila terdapat faktor-faktor yang menunjang sebagai berikut :
1.      Terdapatnya perencanaan yang sistematis yang dapat menunjang pelaksanaan pengendalian.
2.      Adanya struktur organisasi yang dapat menimbulkan pelaksanaan dengan baik dan tidak terdapat banyak hambatan.
3.      Terdapatnya personil yang ahli dalam bidang pengendalian.
4.      Terdapatnya alat-alat yang dipakai untuk pelaksanaan pengendalian, seperti adanya laporan-laporan.
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa sistem pengendalian intern berguna untuk melakukan pengawasan akuntansi yang cukup terhadap hak milik, tentunya hak milik dalam hal ini adalah harta perusahaan yang termasuk diantaranya piutang.
Sistem internal control selain berguna mengamankan harta umumnya dan dalam hal ini piutang khususnya, dari kemungkinan terjadinya salah pembukuan seperti kesalahan dalam pembebanan. Kesalahan dalam kwantitasi harga atau hasil perkalian. Kesalahan atau kecurangan dapat saja terjadi walaupun persiapan telah dilakukan dengan matang. Tentu kesalahan atau kecurangan tidak diinginkan oleh perusahaan, karena hal tersebut dapat merugikan perusahaan sendiri serta dapat mempengaruhi hubungan baik dengan langganan.
Adapun langkah-langkah dalam melaksanakan pengendalian intern pada lazimnya adalah sebagai berikut :
1.      Faktur kepada pelanggan dibandingkan dengan memo penerimaan/ penyerahan oleh seorang pegawai yang independen. Perbandingan ini meliputi baik kwalitas maupun uraian mengenai barang-barang yang diserahkan.
2.      Sesuai barang yang dikeluarkan dari perusahaan harus mempunyai memo penyerahan/pengiriman, yang mana setiap memo telah diberikan nomor untuk memastikan bahwa semua nomor dapat dipertanggung jawabkan sebagai mana mestinya.
3.      Harga pada faktur dicek secara independen terhadap daftar harga, begitu juga harus dicek semua perkalian dan penjumlahan dalam faktur.
4.      Secara periodik perincian piutang dicek terhadap perkiraan buku besar dan direkonsiasikan oleh pegawai yang independen.
5.      Pengiriman laporan bulanan dan permintaan konfigurasi kepada langganan harus dilakukan secara mendadak oleh pihak ketiga yang independen.
6.      Semua tugas kepengurusan kas dipisahkan dari tugas penyelenggaraan catatan/pembukuan piutang.
7.      Semua penyesuaian untuk discount, return atau potongan lain harus mempunyai persetujuan khusus.
8.      Harus diselenggarakan catatan khusus mengenai piutang sangsi yang dihapuskan dana harus dilakukan suatu tindak lanjut yang tetap atas piutang seperti memperkecil adanya penerimaan tetapi tidak dibukukan.
9.      Secara berkala lembaran penerimaan dapat dibandingkan dengan perkiraan piutang dan laporan penerimaan / penyerahan.
10.  Faktur dapat dikirimkan kepada pelanggan melalui unit tersendiri.

B.     Pengertian Piutang dan Klasifikasi Piutang
Piutang merupakan unsur yang penting dalam neraca pada sebahagian besar perusahaan. Dalam arti luas piutang meliputi segala macam tuntutan atau klaim terhadap pihak lain yang pada umumnya akan berakibat adanya penerimaan kas dimasa yang akan datang. Piutang bukan hanya piutang pada langganan, tetapi juga meliputi piutang kepada pegawai, wesel tagih, piutang klaim biaya transport, piutang klaim asuransi serta piutang kepada pelanggan merupakan piutang yang terpenting dalam jumlah totalnya.
Niswonger and Fess dalam bukunya Accounting Principle mengartikan piutang sebagai berikut :
Piutang meliputi semua claim dalam bentuk uang terhadap perorangan, organisasi atau debitur lainnya, piutang timbul dari beberapa jenis transaksi, dimana pada umumnya dari transaksi penjualan barang ataupun jasa secara kredit.

Kemudian Jay Smith dan K. Fred Sjousen pakar akuntansi dari Brighan Young University Cinsinnati dalam bukunya Intermediate Accounting menyatakan sebagai berikut :
Dalam arti luas, istilah piutang dapat dipergunakan bagi semua pihak lain atas uang, barang atau jasa. Namun demikian, untuk tujuan akuntansi istilah ini pada umumnya diterapkan dalam pengertian yang lebih sempit yaitu untuk menjelaskan hak yang diharapkan dapat dipenuhi dengan penerimaan kas.

Piutang meliputi segala macam tuntutan atau klaim kepada pihak ketiga yang pada umumnya akan berakibat adanya penerimaan kas dimasa yang akan datang.
Dengan memahami beberapa pengertian di atas maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa piutang merupakan tuntutan-tuntutan atau klaim yang dilakukan perusahaan terhadap pihak lain, baik itu individu maupun kelompok. Tuntutan-tuntutan tersebut dapat berupa uang, barang, atau jasa-jasa yang kesemuanya itu akan membawa pengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan dan hubungan dengan pelanggan.
Tuntutan-tuntutan atau hak klaim yang dimiliki oleh perusahaan timbul sebagai akibat adanya penjualan barang-barang dan jasa secara kredit ataupun karena sebab-sebab lainnya. Dalam hal penjualan atay penyerahan jasa piutang dapat timbul apabila pekerjaan telah selesai dilakukan. Sedangkan untuk penjualan barang, piutang akan timbul sesuai dengan syarat penyerahan barang yaitu :
1.      Franko gudang (alamat) penjual, yang berarti hak milik atas barang yang diperjual belikan diserahkan dan berpindah kepada pembeli, sejak barang itu dimuat pada kendaraan pengangkut di tempat penjual. Dalam hal ini aka piutang dagang dan hasil penjualan yang dicatat dapat dianggap sebagai aktiva dan penghasilan yang sah.
2.      Franko gudang (alamat) pembeli. Yang berarti hak milik atas barang yang diperjual belikan diserahkan dan berpindah kepada pembeli, apabila barang tersebut sudah diterima oleh pembeli. Dalam hal ini piutang-piutang dan penghasilan juga telah sah di catat sebagai aktiva dan penghasilan.
Secara garis besar piutang dapat diklasifikasikan atau digolongkan menurut :
1.      Sumber asal mula terjadinya piutang yang terdiri dari piutang dagang (trade receivable) dan piutang non dagang (non receivable).
2.      Ada atau tidak adanya dokumen-dokumen tertulis yang berisi tentang kesanggupan untuk membayar yang mendukung tagihan.
3.      Untuk tujuan penyajian di dalam laporan keuangan.

C.    Penilaian Piutang
Pada umumnya dalam dunia perdagangan terjadinya penjualan secara kredit selalu mencakup tiga peristiwa yang hampir dapat dipastikan tidak akan berlangsung pada saat yang sama. Ketiga peristiwa tersebut adalah proses pemesanan, pengiriman atau penyerahan dan proses penagihan atau proses penerimaan hasil penjualan. Disamping itu adanya tenggang waktu antara saat barang diserahkan dengan saat pembayarannya mengakibatkan adanya kemungkinan tidak seluruh harga yang disepakati dapat direalisasikan menjadi kas. Kemungkinan semacam itu dapat saja terjadi sebagai akibat dari adanya sebahagian atau seluruh barang ditolak atau dikembalikan oleh sipembeli atau sipembeli tidak mampu atau sengaja tidak membayar. Kemudian dengan adanya tenggang waktu pembayaran setidak-tidaknya memerlukan biaya ekstra untuk merealisasikan hasil penjualan tersebut menjadi kas.
Di lain pihak secara teoritis piutang yang timbul dari penjualan barang-barang dan jasa dilaporkan menurut nilai bersih yang dapat direalisasikan atau nila tunainya. Dengan demikian piutang harus dicatat bersih dari setiap potongan yang dikeluarkan, return penjualan serta memperhitungkan suatu resiko tidak tertagihnya piutang. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Prinsip Akuntansi Indonesia yang mengisyaratkan bahwa piutang harus dinyatakan sebesar jumlah bruto tagihan dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih.
Penentuan mengenai jumlah atau besarnya piutang yang timbul dari transaksi-transaksi penjualan secara kredit, serta hubungannya dengan jumlah bersih yang dapat direalisir menjadi kas sangat erat hubungannya dengan masalah penilaian terhadap piutang. Masalah penilaian terhadap piutang mempunyai persoalan pokok sebagai berikut :
1.      Penentuan jumlah atau besarnya piutang.
2.      Kolektibilitas dan jangka waktu yang diperlukan untuk merealisasikan piutang menjadi kas.

D.    Kerugian Piutang Dicatat Pada Saat Piutang Betul-betul Tidak Bisa Ditagih
Metode ini biasanya digunakan dalam perusahaan-perusahaan kecil yang tidak dapat menaksir kerugian piutang dengan tepat. Pada akhir periode tidak ada taksiran piutang yang dibebankan, tetapi kerugian piutang baru di akui pada waktu diketahui ada piutang yang tidak dapat ditagih. Bila jelas-jelas diketahui adanya piutang yang tidak dapat ditagih maka piutang tersebut dihapuskan dan dibebankan pada rekening kerugian piutang.
Cara ini sering disebut dengan metode penghapusan langsung (Direct Write Off Bad Debts). Metode ini memiliki manfaat yang sederhana yaitu dalam perhitungan dan laporan kerugian piutang. Oleh karena metode penghapusan langsung ini kerugian piutang dicatat pada saat piutang tidak dapat ditagih maka pencatatannya adalah dengan mendebet rekening kerugian piutang dan mengkredit rekening piutang.

Sabtu, 26 Desember 2015

Upaya Membangkitkan Motivasi Belajar Di Sekolah


Untuk lebih mengoptimalkan dalam proses memotivasi murid dapat dilakukan beberapa pendapat seperti dikemukakan oleh Singer dalam Setiyobroto, yaitu : “memotivasilah yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan dan selalu berusaha untuk melakukan sebaik-baiknya.
Upaya Membangkitkan Motivasi Belajar Di Sekolah

Selanjutnya ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk memotivasi murid dalam belajar, antara lain :
1.      Memotivasi Instrinsik
-          Kenalilah apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai dalam belajar sehingga kegiatan belajar olahraga itu tidak sia-sia.
-          Bayangkanlah suatu kegagalan sebagai akibat kurang termotivasi untuk belajar.
-          Tanamkan dalam diri sendiri bahwa menuntut ilmu itu perlu dan tidak ada batasnya.
-          Tanamkan dalam diri sendiri “Semangat dan kemauan” untuk meningkatkan kualitas diri.
2.      Memotivasi Ekstrinsik
-          Meningkatkan penggunaan metoda mengajar secara bervariasi oleh pihak sekolah sehingga siswa tidak bosan dalam belajar.
-          Memberikan penghargaan berupa pujian, hadiah dan harapan yang positif terhadap murid.
-          Menjelaskan tujuan pembelajaran hendaknya pada setiap awal jam pelajaran guru harus menjelaskan tujuan belajar murid pada saat itu.
-          Menjelaskan keuntungan jika murid belajar dengan rajin dan tekun mengikuti aktifitas jasmani baik di sekolah maupun di luar sekolah.
-          Mengadakan kompetisi olahraga pada mereka.
-          Memimpin kegiatan ekstrakurikuler olahraga di sekolah dengan baik dan benar.
-          Melengkapi sarana dan prasarana olahraga di sekolah agar murid lebih termotivasi untuk melakukan kegiatan jasmani.

Jumat, 25 Desember 2015

Pengertian dan Prinsip-prinsip Motivasi Dalam Proses Pembelajaran

Tags

1.      Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti “menggerakkan” berdasarkan pengertian itu maksud motivasi menjadi suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan memberikan arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut. Menurut pandangan ini motivasi didefenisikan sebagai perspektif yang dimiliki orang mengenai dirinya dan lingkungan. Sebagai contoh, seorang siswa yang percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan yang diperlukan untuk melakukan suatu rangkaian gerakan, akan termotivasi untuk melakukan latihan-latihan dari gerakan tersebut konsep diri yang positif menjadi motor penggerak bagi kemauannya.
Motivasi dapat dijelaskan sebagai tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu. Dalam pengertian ini, siswa akan berusaha menguasai suatu tugas gerakan karena dirangsang oleh keuntungan serta prestasi yang akan diperolehnya. Dalam proses belajar motivasi siswa tercermin melalui ketekunan yang tidak mudah patah dalam menguasai tugas-tugas gerakan, meskipun dihadang banyak kesulitan. Motivasi juga ditunjukkan melalui intensitas dalam mengulangi setiap gerakan-gerakan yang telah ditugaskan.
Pengertian dan Prinsip-prinsip Motivasi Dalam Proses Pembelajaran

Tiga faktor diantaranya yaitu : latar belakang keluarga, kondisi sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir merupakan predicator yang paling baik untuk prestasi belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah sebagai alat pendorong dan penuntun arah bagi seorang dalam menguasai suatu tugas gerakan dalam olahraga. Berdasarkan penemuan di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan kekuatan yang kuat dan keras terhadap pencarian dan pencapaian tujuan. Untuk dapat menggerakkan atau meningkatkan motivasi belajar siswa perlu adanya penyesuaian metoda mengajar, memodifikasi alat lapangan dan   peraturan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya didalam setiap diri manusia telah ada mempunyai bentuk motiv. Motiv tersebut apa yang sudah digerakkan (motivasi) dan apa yang belum digerakkan (motiv). Berarti motiv-motiv termotivasi untuk mencapai tujuan.
Dengan demikian jelaskan bahwa motivasi dari diri (instrinsik) merupakan bentuk keinginan, perasaan, kesenangan, yang masih murni tanpa pengaruh dari luar diri. Misalnya, pendidikan jasmani dan kesehatan maupun kegiatan olahraga lainnya, secara efektif dan mandiri. Mereka mengetahui dan menyakini manfaat positif bagi dirinya jika aktif dalam kegiatan jasmani tersebut (tidak adanya paksaan dari luar diri).
Sedangkan motivasi dari luar (ekstrinsik) merupakan bentuk, keinginan, perasaan dan kesenangan yang diaktualisasikan karena ada pengaruh dari luar diri. Motivasi ekstrinsik ini perlu penguatan agar motiv terpacu untuk digerakkan.
Berkaitan dengan motivasi ekstrinsik ini maka pemberian penguatan yang positif akan memperbesar respon murid. Akan tetapi sebaliknya jika penguatan bersifat negatif, akan memperkecil respon murid-murid yang melakukan kebiasaan malas dalam belajar, akan dapat membangkitkan semangat dan aktivitas belajarnya secara positif bila guru mampu memberikan motivasi (instrinsik seperti memuji murid, memberikan harapan dan sebagainya. Dengan memberikan bonus atau hadiah bagi yang permainannya baik atau yang terbaik juga dapat membangkitkan motivasi dari murid tersebut bonus itu dapat berupa tambahan nilai bagi yang dapat melakukan olahraga dengan baik. Lebih baiknya apabila dibentuk kelompok-kelompok sehingga akan terjalin juga kebersamaan diantara mereka dan persaingan sehat akan tercipta.
Hendaknya hal inilah yang perlu dimiliki setiap guru olahraga agar murid-muridnya termotivasi dari luar dirinya (ekstrinsik) sehingga akan termotivasi kegiatan jasmani belajar olahraga di sekolah secara positif dan maksimal. Daya guru untuk membuat motivasi tersebut sangatlah besar dan berpengaruh. Murid akan senang melakukan olahraga apabila ada  disenanginya apakah cara gurunya berinteraksi atau berolahraga yang dilakukan. Dengan menanyakan kepada anak olahraga apa yang akan dilakukan juga merupakan salah satu cara agar mereka termotivasi untuk melakukan olahraga.

2.      Prinsip-prinsip Motivasi Dalam Proses Belajar Mengajar.
a.       Perhatian
Perhatian siswa muncul di dorong oleh rasa ingin tahu oleh karena itu rasa ingin tahu itu perlu mendapat rangsangan sehingga siswa akan memberikan perhatian, dan perhatian tersebut akan terpelihara selama pembelajaran, untuk itu guru olahraga dituntut keterampilan dalam menyusun materi pelajaran, agar penyajian materi tersebut dapat menarik perhatian siswa.

b.      Relevansi
Relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pelajaran dengan kebutuhan kondisi siswa. Motivasi siswa terpelihara apabila mereka beranggapan apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi, atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang, kebutuhan pribadi, ada tiga kategori yaitu :
1.      Nilai motivasi pribadi yaitu :
a.       Kebutuhan untuk berprestasi.
b.      Kebutuhan untuk memiliki.
c.       Kebutuhan untuk berafilisasi.
2.       Nilai yang bersifat istrumental, dimana penghasilan dalam mengerjakan suatu tugas dianggap sebagai tingkah laku untuk mencapai keberhasilan selanjutnya.
3.      Nilai kultural, apabila tujuan yang ingin dicapai konsisten atau sesuai dengan nilai yang dipegang oleh kelompok yang dipicu siswa, seperti orang tua, teman dan sebagainya.

c.       Percaya Diri
Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa motivasi akan meningkat sejalan dengan harapan untuk berhasil. Harapan ini sering dipengaruhi oleh pengalaman sukses dimasa lampau. Dengan demikian ada hubungan spiral antara pengalaman sukses dengan motivasi. Motivasi dapat menghasilkan ketekunan yang membawa keberhasilan serta prestasi dan pengalaman sukses tersebut akan termotivasi siswa untuk mengerjakan tugas berikutnya.

d.      Kepuasan
Kepuasan untuk mencapai tujuan dipengaruhi oleh konsekwensi yang diterima, baik yang berasal dari dalam maupun yang datang dari luar siswa. Bagi siswa yang pandai, peningkatan hasil belajarnya mencapai 34% dan bagi siswa yang berkemampuan rata-rata mencapai 71% dengan demikian kepuasan belajar yang termotivasi dapat mendorong semua siswa lebih giat belajar.
Meningkatkan dan memelihara motivasi siswa, guru dapat menggunakan pemberian penguatan berupa pujian, pemberian kesempatan dan lain-lain. Penghargaan sangat efektif untuk memotivasi siswa dalam mengerjakan tugas, baik tugas-tugas yang harus dikerjakan dengan segera atau pun tugas-tugas yang berlangsung terus-menerus.

Dari pengamatan di lapangan terhadap proses belajar mengajar pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar muridnya masih kurang. Hal ini terlihat dalam kegiatan belajar mengajar, dimana masih banyaknya ditemui murid yang malas dalam kegiatan belajar pendidikan jasmani. Apalagi pada kegiatan ekstrakurikuler olahraga maupun kegiatan senam kesegaran jasmani di sekolah.
Faktor yang menyebabkan masih banyak murid yang malas dalam pendidikan jasmani salah satu adalah kurangnya motivasi murid. Pada hal dalam usaha meraih cita-cita dalam bidang pendidikan, seorang murid haruslah giat dan rajin dan memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar. Karena belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan dan keterampilan serta nilai akhir untuk menentukan tingkat penguasaan ilmu murid.
Pada hakikatnya pekerjaan mengajar bagi guru bukanlah hanya sekedar melakukan sesuatu bagi murid tetapi lebih berupa menggerakkan murid untuk melakukan hal-hal yang dimaksudkan menjadi tujuan pendidikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa memberikan motivasi kepada murid merupakan salah satu tugas utama dan tanggung jawab guru sebagai seorang pendidik. Hal ini dimaksudkan agar semua murid dapat mengikuti belajar secara optimal.
Dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan guru yang bersangkutan juga harus mampu memotivasi siswanya. Upaya ini sangat tepat sekali dengan pendapat Kristono yang menyatakan bahwa : “motivasi mengenai jasmani sangat diperlukan melalui anak sekolah yang kemudian meluas sampai ke masyarakat. Jadi jelaslah dengan memotivasi siswa di sekolah berarti secara tidak langsung guru telah ikut membangkitkan motivasi di masyarakat” (1968: 37).

Kamis, 24 Desember 2015

Dampak Perkembangan Sistem Informasi Terhadap Masyarakat


Perkembangan teknologi informasi sampai dengan saat ini berkembang dengan pesat seiring dengan penemuan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam bidang Informasi dan Komunikasi sehingga mampu menciptakan alat-alat yang mendukung perkembangan Teknologi Informasi, mulai dari sistem komunikasi sampai dengan alat komunikasi yang searah maupun dua arah (interaktif).
Informasi dan teknologi merupakan 2 sahabat yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan erat satu sama lain. Bagaimana tidak? Dengan teknologi maka kebutuhan masyarakat akan informasi dapat segera terpenuhi dengan cepat dan mudah. Tidak jarang informasi tersedia instan berkat kecanggihan teknologi informasi yang digunakan. Oleh karena itu Teknologi Informasi pada saat ini sangat berkembang cepat seiring dengan perubahan zaman.
Komputer sendiri merupakan salah satu teknologi informasi yang berkembang dan berubah cepat dalam fungsinya sebagai pengolah data untuk mendapatkan informasi secara cepat dan akurat.
Manusia masa kini akhirnya berhadapan dengan berbagai tuntutan dan tantangan yang ditimbulkan hasil ciptaannya sendiri, yaitu teknologi. Betapapun canggihnya, setiap teknologi adalah hasil daya cipta manusia.

Dampak Perkembangan Sistem Informasi Terhadap Masyarakat


DAMPAK PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Dampak Perkembangan Teknologi Dilihat Dari Aspek Hukum
Perkembangan teknologi informasi khususnya internet yang demikian pesat telah memberikan pengaruh sangat besar terhadap hukum khususnya yang berkaitan dengan desain industri dan hak cipta. Pada kenyataannya, kesiapan dan pemahaman hukum masyarakat saat ini tampak tidak dapat secara penuh mengimbangi akses-akses yang ditimbulkan akibat pemanfaatan teknologi informasi itu.
Bidang hukum yang mengatur kegiatan teknologi informasi saat ini dikenal dengan Cyber Law. Bidang hukum ini memiliki keterkaitan sangat erat dengan hak milik intelektual, diantaranya dengan desain industri dan hak cipta. Desain industri dibidang teknologi informasi dan internet pada khususnya mencakup bentuk-bentuk desain khusus, konfigurasi, corak-corak, dan ornamen-ornamen. Bentuk karya desain industri itu dapat berupa desain homepage atau website dan desain-desain lainnya yang biasa ditampilkan dalam situs-situs internet dan dapat diakses oleh para pengguna internet.
Seseorang yang telah mendesain homepage pada prinsipnya telah melahirkan karya desain industri yang ditampilkan di dunia maya (virtual world).

Perkembangan Teknologi Informasi Menjadi Surplus
Begitu eratnya keterjalinan antara manusia dan teknologi sebagai perpanjangan kemampuannya, sehingga yang asalnya merupakan minus dari kemampuannya (ability), bisa dikembangkan menjadi surplus bagi kesanggupannya (capability). Menurut fitrahnya manusia tidak mampu terbang, namun dengan teknologi dia mampu terbang, bahkan tinggal beberapa lama di angkasa luar; pertemuan tatap muka (face-to-face) secara berhadapan juga dapat dilaksanakan dalam jarak amat jauh melalui tatap-citra (image-to-image).
Banyak lagi yang bisa dicontohkan sebagai ilustrasi untuk menunjukkan betapa teknologi telah memungkinkan terjadinya transformasi mendasar dan berskala luas, bahkan nyaris sulit dibatasi dalam peri kehidupan manusia dan kemanusiaan. Transformasi tersebut juga telah menimbulkan perubahan dalam berbagai pola berhubungan antar-manusia (pattern of human relations), yang pada hakikatnya adalah interaksi antar-pribadi dan sifatnya berhubungan intersubjektif.
Seiring dengan perkembangan teknologi, ruang dan waktu sebagai dimensi eksistensial juga berubah secara kuantitatif maupun kualitatif, terutama oleh faktor kekuatan (power) dan kecepatan (speed); kedua faktor ini makin mungkin meningkat pengaruhnya seiring dengan berlanjutnya pemutakhiran dan pencanggihan teknologi. Pengaruh faktor kekuatan dan kecepatan itu terutama mencuat dalam perkembangan teknologi transportasi serta komunikasi dan informasi.
Dalam kaitan ini, kiranya secara khusus perlu dicermati perkembangan teknologi yang menunjang kesanggupan untuk menyebar informasi dengan daya jangkau global.
Teknologi ini menerpa kita dengan bahan informasi secara bertubi-tubi serta melintas dengan kecepatan tinggi sekali lewat jaringan global yang diibaratkan sebagai super-highways. Kedua faktor itu pula yang menambah efisiensi, sehingga keterlambatan penguasaannya niscaya juga berarti ketertinggalan dalam laju proses modernisasi.

Teknologi Informasi Melampaui Kemampuan Manusia
Terpaan stimuli berupa bahan informasi yang berlangsung secara segera (instant) dan serentak (simultaneous) itu sangat jauh melampaui kemampuan manusia untuk menyerap dan mengendapkannya, kecuali dengan dukungan teknologi yang sepadan pula. Terwujudnya jaringan internet merupakan ilustrasi yang mengukuhkan betapa besar dampak mondial yang dapat ditimbulkan oleh kemajuan teknologi yang mendukungnya. Internet telah memberi wujud bagi keterbukaan dalam arti luas; keterbukaan berbagai sumber untuk memperoleh informasi, keterbukaan untuk menyebarkan informasi (tentu bisa juga yang bersifat mis- atau dis-informasi), keterbukaan menjalin komunikasi untuk berbagai kepentingan dari yang paling pribadi dan subjektif hingga yang paling objektif.

Rabu, 23 Desember 2015

Makalah Perkembangan Peserta Didik Tentang Perkembangan Sosial Anak

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Anak yang sedang dalam perkembangan setingkat sekolah dasar berada dalam periode konkret atau periode dunia realita. Suatu hal penting yang sedang terjadi dalam diri anak dimilikinya dengan dorongan ingin tahu tentang segala sesuatu yang ada pada dunia nyata yang ada di lingkungannya, baik yang bersifat fisik maupun sosial, anak ingin tahu bagaimana cara mengadakan hubungan dengan dunia realita yang ada di dunia sekitar pada saat ini pun timbul tentang adanya aturan-aturan atau hukum-hukum yang harus diikutinya dalam bertindak menghadapi dunia realita itu.

B.     Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan informasi tentang hakikat, ciri-ciri, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial pada anak usia SD serta usaha guru dalam membantu perkembangan sosial anak.
Makalah Perkembangan Peserta Didik Tentang Perkembangan Sosial Anak


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial adalah perkembangan yang terjadi pada anak dimana anak mempunyai keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain. Disini ruang gerak anak semakin luas karena anak tidak hanya bergaul dalam lingkungan keluarga, tetapi mulai melangkah ke lingkungan tetangga, bermain dengan teman sebaya bahkan anak ingin berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian anak memperoleh pengalaman tentang berbagai ragam orang dan tempat baru. Anak mulai merasakan kesenangan dan kegembiraan dalam berinteraksi dengan teman sebaya (anak bersosialisasi) dan mulai melakukan penyesuaian baru (beradabtasi).

B.     Ciri-ciri Perkembangan Sosial Anak
Ciri-ciri perkembangan sosial anak pada usia SD adalah anak cenderung untuk berkelompok-kelompok yang biasa disebut dengan geng. Anak sangat butuh untuk diterima oleh sekelompok teman sebayanya, terutama kelompok yang dalam pandangannya bergengsi. Anak akan merasa sepi apabila tidak bersama dengan teman sebayanya. Kepuasan bermain dengan teman sebaya dalam jumlah yang besar dapat menimbulkan rasa senang pada anak.
Di dalam geng, anak berusaha mati-matian untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan kelompok, misalnya cara berpakaian, berprilaku, dan dalam mengeluarkan pendapat.
Ciri-ciri geng anak pada tingkat SD adalah sebagai berikut :
1.      Geng anak-anak berfungsi semata-mata sebagai kelompok untuk bermain dan menyalurkan minat-minat yang cenderung sama.
2.      Untuk menjadi anggota geng anak harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan geng dan yang dipilih adalah anak yang populer diantara teman sebayanya.
3.      Anggota geng terdiri dari jenis kelamin yang sama.
4.      Pada anak yang lebih muda (kelas 1 dan 2) anggota geng terdiri dari 3 sampai 4 orang saja.
5.      Geng anak laki-laki sering terlibat dalam perilaku yang kurang baik.
6.      Kegiatan geng paling populer meliputi permainan olah raga, berkumpul dengan teman sebayanya untuk berbincang-bincang.
7.      Geng mempunyai pusat pertemuan yang biasanya jauh dari pengawasan orang tua.

Hurlock (Istiwidayati dkk, 1990) mengemukakan bahwa geng anak itu mempunyai pengaruh positif dan negatif terhadap perkembangan sosial anak-anak yang menjadi anggota geng.
Pengaruh positifnya adalah :
  1. Belajar tingkah laku demokrasi
  2. Belajar berbagai rasa dengan orang lain
  3. Belajar bersikap sportif
  4. Belajar menerima dan melaksanakan tanggung jawab
  5. Belajar untuk tidak tergantung dari pengawasan orang dewasa (khususnya orang tua)
  6. Belajar menyesuaikan diri dengan aturan dalam kelompok
  7. Belajar bersaing secara sehat dengan orang lain
  8. Belajar bermain dan berolahraga
  9. Belajar kerjasama dengan orang lain

Pengaruh negatif geng terhadap tingkah laku anak :
  1. Terjadi sikap menentang terhadap orang tua dalam bentuk menolak aturan-aturan bertingkah laku yang telah ditentukan oleh orang tua.
  2. Makin bertambah tajam permusuhan antara geng yang berbeda jenis kelamin.
  3. Kecendrungan anak untuk melakukan diskriminasi terhadap teman sebaya yang bukan anggota kelompok
Sementara Prayitno menjelaskan manfaat geng dalam perkembangan sosial anak, yaitu :
  1. Belajar bertingkah laku yang demokrasi, sehingga memiliki tingkah laku yang baik.
  2. Belajar bertenggang rasa / menghargai pendapat orang lain.
  3. Belajar bertanggung jawab.
  4. Belajar mandiri.
  5. Belajar menyesuaikan diri terhadap aturan-aturan yang berlaku.
  6. Belajar bekerjasama dalam menyelesaikan suatu kegiatan.

C.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
1.      Keluarga
Meliputi kondisi dan cara kehidupan keluarga dapat mempengaruhi perkembangan sosial anak.
2.      Kematangan
Kesiapan anak untuk mampu mempertimbangkan sesuatu dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional.
3.      Status ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai orang yang independent akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu “ia anak siapa”. Secara tidak langsung, dalam pergaulan sosial anak masyarakat dan kelompoknya akan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.
4.      Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberi warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan sosial mereka dimasa yang akan datang.
5.      Kapasitas mental : emosi dan inteligensi
Berpikir berarti meletakkan hubungan antar bagian pengetahuan yang diperoleh manusia (Mudjiran). Kemampuan berpikir mempengaruhi kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa yang baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan dalam keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.

Faktor Pendukung Perkembangan Sosial
Prayitno (1991: 9) mengemukakan bahwa faktor pendukung perkembangan sosial adalah sifat altruistic, kesadaran tentang diri sendiri, dan kesadaran tentang orang lain.
  1. Sifat altruistic, yaitu gejala tingkah laku dimana anak lebih cenderung mengutamakan kepentingan orang lain dari pada kepentingan diri sendiri.
  2. Kesadaran tentang diri sendiri, yaitu anak memahami tentang keadaan dirinya menyangkut fisik, intelektual, sosial, emosional, moral maupun berupa kekuatan dan kelemahan diri mereka sendiri.
  3. Kesadaran tentang orang lain, yaitu tumbulnya kesadaran dalam memahami perasaan, suasana hati dan pandangan orang lain. Ini meliputi : kemampuan empati, kemampuan role taking (menempatkan diri pada situasi orang lain)
Selain itu, faktor pendukung perkembangan sosial anak yaitu : penilaian terhadap diri sendiri, kemampuan memahami status diri sendiri dan kemampuan bertukar pendapat.

Perkembangan Identitas Diri
Kontrol diri adalah keseluruhan persepsi individu tentang dirinya; kemamuan, prilaku, dan harga diri. Konsep diri seseorang sangat mempengaruhi cara melihat dan memperlakukan dirinya dan berinteraksi dengan lingkungan.
Erikson (dalam Wahab, 1999: 168) berpendapat bahwa tema utama kehidupan adalah pencarian identitas. Identitas selain menyangkut pemahaman dan penerimaan diri juga terkait dengan pemahaman dan penerimaan masyarakat.
Konsep diri seseorang terbentuk dan dipengaruhi oleh orang tua, faktor kematangan, dan tingkat sosial. Perkembangan konsep diri berlanjut terus tanpa pernah benar-benar berhenti sampai di akhir hidup manusia.
Jadi dapat disimpulkan konsep diri itu merupakan berkembangnya pemahaman seseorang terhadap dirinya sehingga dia dapat mengembangkan dirinya kearah yang lebih baik dan terarah.
Usaha guru untuk mengembangkan identitas diri positif anak :
1.       Memberikan pengertian tentang keadaan fisiknya dan memberikan pengertian bahwa fisik itu pemberian Tuhan.
2.       Tidak menghalangi dan menghambat potensi.
3.       Tidak membiasakan anak terpelosok dan mengalami kegagalan.

D.    Usaha Guru dalam Proses Perkembangan Sosial Anak
Sekolah berperan penting dalam perkembangan sosial anak, melalui pergaulan di sekolah anak diperkenalkan dengan norma-norma pergaulan baik yang dekat seperti norma adat, norma agama, dan norma hukum maupun norma-norma kehidupan antar bangsa.
Usaha sekolah dalam membantu terwujudnya perkembangan sosial anak adalah dengan cara :
  1. Menciptakan berbagai kelompok-kelompok belajar.
  2. Meminta anak melaporkan hasil kerja kelompok.
  3. Membentuk kelompok-kelompok kegiatan ekstra kurikuler.
  4. Mengadakan kegiatan-kegiatan sosial seperti kunjungan ke panti asuhan, tempat-tempat bencana alam, mengunjungi teman sakit.
  5. Guru memperlihatlkan diri sebagai model dalam berperilaku sosial.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Perkembangan sosial adalah perkembangan yang terjadi pada anak dimana anak mempunyai keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Ciri-ciri perkembangan sosial anak pada usia SD adalah anak cenderung untuk berkelompok-kelompok yang biasa disebut dengan geng.
Perkembangan sosial dipengaruhi oleh keluarga, kematangan, status sosial, pendidikan dan kapasitas mental. Perkembangan sosial didukung oleh sifat altruistic, kesadaran tentang diri sendiri dan kesadaran tentang orang lain.
Konsep diri akan mempengaruhi cara seseorang dalam melihat dan memperlakukan dirinya dan cara orang lain (lingkungan) melihat dan memperlakukannya. Perkembangan sosial juga dipengaruhi sekolah.

B.     Saran
Agar perkembangan sosial anak dapat terarah dengan baik, diperlukan kerjasama antara guru dan orang tua.
Seorang guru sebaiknya dapat menyesuaikan program belajar dengan melihat perkembangan sosial anak, agar potensi yang terdapat pada anak dapat berkembang secara optimal.
Orang tua sebaiknya dapat menjadi teman dan pengawas bagi anak untuk meningkatkan perkembangan sosial anak agar berkembang ke arah positif.

DAFTAR PUSTAKA

Khairanis, dkk.2000.Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Padang: FIP UNP

Prayitno, Elida, dkk. 1999. Perkembangan Individu I. Padang: FIP UNP

Tim Pembina Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik. 2003. Padang : UNP