Jumat, 27 Mei 2016

Makalah Tentang Pengaruh Keluarga Terhadap Kenakalan Remaja dan Cara Penanggulangannya

BAB I
PANDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalan bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya.
Perkembangan anak pada umumnya meliputi keadaan fisik, emosional sosial dan itelektual. Bila kesemuanya berjalan secara harmonis maka dapat dikatakan bahwa anak tarsebut dalam keadaan sehat jiwanya. Dalam perkembangan jiwa terdapat periode-periode kritik  yang berarti bahwa bila periode-periode ini tidak dapat dilalui dangan harmonis maka akan timbul gejala-gejala yang menunjukan misalnya keterlambatan, ketegangan, kesulitan penyesuaian diri kepribadian yang terganggu bahkan menjadi gagal sama sekali dalam tugas sebagai makhluk sosial untuk mengadakan hubungan antar manusia yang memuaskan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang dilingkungannya.
Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menepati kedudukan yang primer dan fundamental, oleh sebab itu keluarga mempunyai peranan yang besar dan vital dalam mempengaruhi kehidupan seorang anak, terutama pada tahap awal maupan tahap-tahap kritisnya. Keluarga yang gagal memberi cinta kasih dan perhatian akan menumpuk kebencian, rasa tidak aman dan tindak kekerasan kapada anak-anaknya. Demikian pula jika keluarga tidak dapat menciptakan suasana pendidikan, maka hal ini akan menyebabkan anak-anak terperosok atau tersesat jalannya.
Dalam makalah ini penulis menyajikan mengenai pengaruh keluarga terhadap kenakalan remaja dan beberapa penanggulangannya.

Makalah Tentang Pengaruh Keluarga Terhadap Kenakalan Remaja dan Cara Penanggulangannya

1.2 Pembatasa Masalah
Disini penulis akan membahas tentang pangaruh keluarga terhadap kenakalan anak remaja. Fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Pada hakekatnya, keluarga merupakan wadah pembenrukan masing-masing anggotanya. Terutama anak-anak yang masih berada bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya.
Mengingat tentang pembahasan pengaruh keluarga terhadap kenakalan anak sangat luas. Oleh karena itu, disini membahas tentang pengertian kenakalan anak remaja, kenakalan anak dan pengendalian terhadap kenakalan anak.

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan pokok dari karya tulis ini adalah untuk memenuhi nilai ujian semester dua kelas XI bidang studi Bahasa Indonesia dan menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia yang Ibu Guru berikan kepada saya.
Dalam hal ini penulis membahas tentang pengertian kenakalan anak remaja, pengaruh keluarga terhadap kenakalan anak dan pengendalian terhadap kenakalan anak.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Kenakalan Anak Remaja
            Kenakalan remaja merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial. Menurut Paul Moedikdo,SH kenaklan remaja ada 3 yaitu :
  1. Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
  2. Semua perbuatan penyelewengan dari norna-norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
  3. Semua perbuatan yang menunjukan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Adapun gejala-gejala yang dapat memperhatikan hal-hal yang mengarah kepada kenakalan remaja yaitu :
1.    Anak-anak yang tidak disukai oleh teman-temannya sehingga anak-anak tersebut menyendiri. Anak yang demikian dapat menyebabkan kegoncangan emosinya.
2.    Anak-anak yang sering menghindarkan diri dari tanggung jawab di rumah atau di sekolah.
3.    Anak-anak yang sering mengeluh dalam arti bahwa mereka mengelami masalah yang oleh dia sendiri tak sanggup mencari permasalahannya. Anak seperti ini sering terbawa kepada kegoncangan emasi.
4.    Anak-anak yang mengalami Phobia dan gelisah dalam melewati batas yang berbeda dengan ketakutan anak-anak normal.
5.    Anak-anak yang suka berbahong.
6.    Anak-anak yang suka menyakiti atau mengganggu teman-temannya di sekolah atau di rumah.
7.    Anak-anak yang menyangka bahwa semua guru mereka bersikap tidak baik terhadap mereka dan sengaja menghambat mereka.
8.    Anask-anak yang tidak sanggup memusatkan perhatian.

2.2 Pengaruh Keluarga Terhadap Kenakalan Anak
Pengaruh keluarga dalam kenakalan remaja yaitu :
2.2.1 Keluarga yang Broken Home
          Masa remaja adalah masa dimana seseorang sedang mengalami saat kritis sebab ia mau menginjak ke masa dewasa. Remaja barada dalam masa peralihan. Dalam masa peralihan itu pula remaja sedang mencari identitasnya. Dalam proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan dirinya, remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari oarang yang dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya. Seperti yang telah disebutkan diatas fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga manjamin rasa aman maka dalam masa kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan realisasi fungsi tersebut. Sebab dalam masa yang kritis seseorang kehilangan paganggan yang memadai dan pedoman hidupnya. Masa kritis diwarnaim oleh konflik-konflik internal, pemikiran kritis, perasaan mudah tersinggung, cita-cita dan sebagainya. Masalah keluarga yang broken home bukan menjadi masalah baru tatapi merupakan masalah yang utama dari akar-akar kehidupan seorang anak. Keluarga merupakan dunia kaekraban dan diikat oleh tali batin, sehingga menjadi bagian yang vital dari kehidupannya.
Penyebab timbulnya keluarga yang broken home antara lain :
2.2.1.1 Orang Tua yang Bercerai
Perceraian menunjukan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar-dasar perkawinan yang telah terbina bersama telah goyah dan tidak mampu menopang kehidupan yang harmanis.
2.2.1.2 Kebudayaan Bisu dalam Keluarga
Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan dalam situasi yang perjumpaan yang sifatnya sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak.
2.2.1.3 Perang Dingin dalam Keluarga
Dapat dikatakan perang dingin adalah lebih berat dari kebudayaan bisu. Sebab dalam perang dingin selain kurang terciptanya dialog juga disisipi oleh rasa perselisihan dan kebencian dari masins-masing pihak. Awal perang dingin dapat disebabkan karena suami mau memenangkan pendapat dan pendiriannya sendiri, sedangkan istri hanya mempertahankan keinginan dan kehendaknya sendiri.
Susuasana perang dingin dapat menimbulkan rasa takut dan cemas  pada anak-anak. Anak-anak menjadi tidak betah dirumah sebab merasa tertekan dan bingung serta tegang. Anak-anak menjadi tertutup dan tidak dapat mendiskusikan problem yang dialami . Semangat belajar dan konsentrasi mereka menjadi lemah. Anak-anak berusaha kompensasi semu.

2.2.2     Pendidikan yang Salah
2.2.2.1 Sikap memanjakan anak
Keluarga mempunyai perenan di dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupaka lingkungan pertama dari tempat kehadirannya dan mempunyai fungsi untuk menerima, merawat dan mendidik seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi tempat pendidikan pertama yang dibutuhkan oleh seorang anak , dan cara bagaimana pandidikan itu diberikan akan menentukan. Sebab pendidikan itu pula pad prinsipnya adalah untuk meletakkan dasar dan arah bagi seorang anak.
2.2.2.2 Anak tidak diberikan pendidikan agama
Hal ini dapat terjadi bila orang tua tidak memberikan pendidikan agama atau mencarikan guru agama di rumah atau oarang tua mau memberikan pendidikan agama dan mencarikan guru agama tetapi anak tidak mau mengikuti. Bagi anak yang tidak dapat / mengikuti pendidikan agama akan cenderung untuk tidak mematuhi ajaran-ajaran agama. Seseorang yang tidak patuh pada ajaran agama mudah terjerumus pada perbuatan keji dan mungkar jika ada faktor yang mempengaruhi seperti perbuatan kenakalan remaja.

2.2.3     Anak yang ditolak
Penolakan anak biasanya dilakukan oleh suami istri yang kurangsecara spikis. Misalkan mereka mengharapka anak laki-laki tetapi memperoleh anak perempuan. Sering pula disebabkan oleh rasa tidak senang dengan anak pungut atau anak dari saudara yang menumpang di rumah mereka. Faktorlain karena anaknya lahir dengan keadaan cacat sehingga dihinggapi rasa malu. Anak-anak ditolak akan merasa diabaikan, terhina dan malu sehingga mereka mudah sekali pengembangkan pola penyesalan, kebencian dan agresif.

2.3       Pengendalian Terhadap Kenakalan Anak
Dalam mengatasi kenakalan remaja yang paling dominan adalah dari keluarga merupakan lingkunganyang paling pertama ditemui seorang anak. Di dalam menghadapi kenakalan anak pihak orang tua kehendaknya dapat mengambil dua sikap yaitu :
2.3.1   Sikap / cara yang bersifat preventif
Yaitu perbuatan atau tindakan orang tua terhadap anak yang bertujuan untuh menjauhkan sianak dari pada perbuatan buruk atau dari lingkungan pergaulan yang buruk. Dalam hal sikap yang bersifat preventif, pihak orang tu dapat memberikan atau mengadakan tindakan : Menanamkan rasa disiplin dari ayah terhadap anak. Memberikan pengawasan dan perlindungan terhadap anak oleh ibu. Mencurahkan kasih sayang dari kedua orang tua terhadap anak. Menjaga agar tetap terdapat suatu hubungan yang bersifat intim dalam satu ikatan kekuarga.
Disamping hal tersebut diatas maka hendahnya diadakan pula : Pendidikan agama untuk meletakkan dasar moral yang baik dan berguna. Penyaluran bakat sianak ke arah pekerjaan yang berguna dan produktif. Rekreasi yang sehat sesuai dengan kebutuhan jiwa anak. Pengawasan atas lingkungan pergaulan anak sehai-hari.

2.3.2     Sikap / cara yang bersifat represif
Yaitu pihak orang tua hendaknya ikut serta secaraaktif dalam kegiatan sosial yang bertujuan untuk menanggulangi masalah kanakalan anak seperti menjadi anggota badan kesejahteraan anak-anak. Selain itu pihak orang tua terhadap anak yang bersangkutan dalam perkara kanakalan handaknya mengambil siakap yaitu : Mengadakan introspeksi sepenuhnya akan kealpaan yang telah diperbuatnya sehingga menyebabkan anak terjerumus dalam kenakalan. Memahami sepenuhnya akan latar belakang dari pada masalah kenakalan yang menimpa anaknya. Meminta bantuan para ahli (Psikolog atu petugas sosial) di dalam mengawasi perkembangan kehiduoan anak, apabila dipandang perlu. Membuat catatan perkenbangan pribadi anak sehari-hari.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Jelaslah bahwa kenakalan remaja sangat dipengaruhi oleh keluarga walaupun faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Faktor keluarga sangatlah penting karena merupakan lingkungan pertama, lingkungan primer.
 Apibila lingkungan keluaga tiadak harmonis yaitu mengalami hal-hal yang telah disebutkan diatas seperti keluarga broken home yang disebaabkan perceraian, kebudayaan bisu dan perang dingin serta kesalahan pendidikan akan berpengaruh kepada anak yang dapat menimbulkan kenakalan remaja.

3.2 Saran
Bagajmanapun kenakalan remaja harus dilakukan pengendalian karena apabila berkelanjutan akan menyebabkan kerusaka pada kehidupannya pada masa yang akan datang. Selain pihak keluarga pengendalian kenakalan remaja juga harus dilakukan dari lingkungan remaja tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Admasasmita, Ramli, 1984, Problema Kenakalan Anak / Remaja (Juridis, Sosio, Kriminologis), Armico , Bandung.
2.    Ahmadi, Habu,  1979, Psikologi Sosial, Bina Ilmu, Surabaya.
3.    Hamiru la, Ode, 1986, Faktor-faktor Lingkungan Sosial Dalam Kaitannya Dengan Remaja Nakal yang Menyalahgunakan Narkotika yang Direhabilitasi Pada Panti Rehabilitasi Korban Narkotika, Surabaya.
4.    Mulyono Y, Bambang, 1986, Kenakalan Remaja Dalam Persepektif Pendekatan Sosiolagi, Psikologi, Teologis dan Usaha Penanggulangan, Andi Offset, Jakarta.
5.    Simanjuntak, B, 1984, Latar Belakang Kenakalan Remaja, Alumni, Jakarta.

6.    Soekanta Soedjono, 1981, Memperkenalkan Sosiologi, CV Rajawalli, Jakarta.

Kamis, 26 Mei 2016

Makalah Singkat Tentang Stratifikasi Sosial

I.                  STRATIFIKASI SOSIAL
Sratifikasi sosial = Pengelompokkan sosial
-          Terjadi karena adanya pandangan masyarakat yang menggolongkan seseorang dalam berbagai kategori, dari lapisan paling atas hingga paling bawah.
-          Adanya perbedaan status dilakalangan masyarakat.

Nasution (1999) menyebutkan 3 metode menentukan Stratifikasi Sosial
A.   Metode Objektif
Stratifikasi sosial ditentukan dengan menggunakan penilaian objektif antara lain :
·        Tinggi rendah pendidikan
-          Keterampilan
-          Perubahan mental
-          Selera
-          Minat
-          Tujuan
·        Pekerjaan
-          Tinggi dan rendahnya pendidikan
-          Teman bergaul
-          Jam bekerja
-          Kebiasaan sehari-hari
-          Selera bacaan
-          Standar moral
·        Pendapatan
Pendapatan pekerja profesional lebih dipandang dari pekerja kasar.
Pendapatan dari hasil meminta-minta dipandang lebih hina, dari pekerja kasar.

Makalah Singkat Tentang Stratifikasi Sosial

B.   Metode Subjektif
Stratifikasi sosial dirumuskan berdasarkan pandangan anggota masyarakat menilai dirinya dalam hierarki kedudukan dalam masyarakat.
-          Masing-masing orang boleh berpendapat, berperasaan, digolongan mana ia berada.
-          Masing-masing orang cenderung berperilaku menurut norma sosial yang dianggap sekelompok atau sekelas.

C.   Metode Reputasi
Stratiufikasi dirumuskan menurut bagaimana anggota masyarakat menempatkan masing-masing diri dalam satu kelompok yang telah teridentifikasi dalam masyarakat.

Warner menemukan 6 kelompok melalui metode ini yaitu :
1.     Upper-upper class à                 keluarga kaya lama,
(kelas sosial paling atas)             keturunan raja, yang
atas lapisan atas                         telah berpengaruh lama di
                                                   masyarakat


2.     Upper middle class à                Pengusaha profesional
(sosial menengah lapisan atas)   yang berhasil dari
                                                   keluarga baik
3.     Lower upper class à                 Orang kaya yang baru
(sosial atas lapisan bawah)         berpengaruh di
                                                   Masyarakat
4.     Lower middle class à                Juru tulis, pegawai kantor,
(kelas sosial menengah               guru, pengrajin terkemuka
lapisan bawah)
5.     Upper lower class à                  Para pekerja tetap dengan
(kelas sosial atas                         penghasilan minim
lapisan paling bawah)
6.     Lower class à                            Pekerja tidak tetap, buruh
(kelas sosial rendah                    musiman, dan
lapisan bawah)                           pengangguran

II.               Fungsi dan Yang Menyebabkan Terjadinya Stratifikasi Sosial
a.     Fungsi
-          Mudah menyesuaikan diri = Pribadi
-          Ekonomi masyarakat = Umum
-          Merencanakan pembangun = Umum  
-          Pemerataan pembangunan = Umum
-          Menentukan kebijakan = Umum

b. Faktor penyebab
-          Tingkat pendidikan
-          Tingkat pendapatan
-          Pekerjaan
-          Keturunan
-          Keyakinan

-          Golongan (partai)

Rabu, 25 Mei 2016

Pengaruh Tingkat Pengangguran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Barat

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembangunan nasional bertujuan untuk menciptakan manusia Indonesia seutuhnya. Konsep ini merujuk pada manusia yang sejahtera dengan kualitas hidup yang tinggi, memiliki hubungan yang harmonis dengan lingkungan baik lingkungan alam, sosial serta penciptaannya. Penduduk merupakan objek pembangunan yang bisa terkena dampak positif maupun negatif dari pembangunan dan penduduk juga bisa menjadi subjek yang merupakan titik sentral dari pembangunan nasional yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, kondisi lingkungan hidup serta pembangunan nasional yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, kondisi lingkungan hidup serta pembangunan yang berkelanjutan.

B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka pembahasan ini dapat dirumuskan dengan melihat sejauh mana pengaruh dari tingkat pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat.

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Sebagai tugas akhir pelajaran.
2.      Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh tingkat pengangguran terhadap perkembangan perekonomian di Sumatera Barat.

Pengaruh Tingkat Pengangguran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Barat


BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

A.    Kajian Teoritis
1.      Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi bersangkut paut dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan. Dalam pertumbuhan ekonomi biasanya  telaah proses produksi yang melibatkan sejumlah jenis produk dengan menggunakan sejumlah sarana produksi tersebut.
Pertumbuhan ekonomi dalam arti terbatas, yaitu peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan bisa berlangsung tanpa terujudnya pembangunan. Sebaliknya, pembangunan ekonomi dalam arti luas harus meliputi pertumbuhan (sebagai salah satu ciri pokok ekonomi dalam proses pembangunan). Hal ini berhubungan dengan kenyataan pertambahan penduduk di masyarakat di negara sedang berkembang.
Sehubungan dengan itu laju pertumbuhan (cepat lambatnya meningkat produksi barang dan jasa) harus cukup tinggi dalam arti melampaui tingkat pertambahan penduduk (Djojohadikusumo, 1993:2).
Ada beberapa teori yang ikut memberikan fundamen yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi. Teori-teori tersebut dikemukakan oleh para ahli-ahli ekonomi Neoklasik, Adam Smith dan Arsyad (1999:59) ada tiga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu Sumber Daya Alam, jumlah penduduk dan stok barang modal yang ada, dimana jumlah penduduk akan meningkat jika tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari tingkat upah subsistem. Tingkat upah yang tinggi dan meningkat jika permintaan akan tenaga kerja tumbuh lebih cepat dari pada penawaran tenaga kerja.

2.      Pengangguran
Pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja, yang secara aktif mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak memperoleh pekerjaan yang diinginkan.
Macam-macam pengangguran :
“Untuk mengelompokkan masing-masing pengagguran diperlukan defenisi-defenisi : waktu, intensitas pekerjaan dan produktifitas. Selain itu untuk efektifnya seseorang bekerja faktor-faktor seperti motivasi, sikap dan hambatan-hambatan budya juga harus diperhatikan.
Lima bentuk pengangguran yaitu :
a)      Pengguran terbuka : baik sukarela (mereka yang tidak bekerja karena mengharapkan pekerjaan yang lebih baik) maupun secara terpaksa mereka yang tidak bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan.
b)      Setelah menganggur (Under Employment) : mereka yang bekerja selama-lamanya (hari, minggu, musiman) kurang dari yang bisa mereka kerjakan.
c)      Tampaknya bekerja tetapi tidak bekerja secara penuh : yaitu yang digolongkan sebagai pengangguran terbuka dan setengah menganggur.
d)     Tenaga kerja yang lemah (impared) : yaitu mereka yang mampu bekerja full time tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi karena penyakitan.
e)      Tenaga kerja yang tidak produktif : yaitu mereka yang mampu bekerja secara produktif tetapi karena sumber daya penolong kurang memadai maka mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu dengan baik.
Berdasarkan pada faktor-faktor yang menimbulkannya, pengangguran dapat dibedakan pada tiga jenis yaitu :
a)           Pengangguran Konjungtur (Cyclical Unemployment), yaitu pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan-perubahan dalam tingkat kegiatan perekonomian.
b)          Pengangguran Struktural, yaitu pertumbuhan dan perkembangan ekonomi selalu diikuti oleh perubahan struktur dan corak kegiatan ekonomi. Pengangguran struktural terjadi sebagai akibat dari merosotnya permintaan dan peralatan produksi yang semakin canggih maka banyak perusahaan-perusahaan atau industri yang tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.
c)           Pengangguran Normal, yaitu apabila suatu periode perekonomian tertentu terus menerus mengalami perkembangan yang pesat, jumlah dan tingkat pengangguran akan menjadi semakin rendah, pada akhirnya perekonomian dapat mencapai pengerjaan tenaga kerja penuh.
Akibat Buruk Pengangguran
1)      Akibat buruk keatas perekonomian
Setiap negara akan berusaha agar tingkat kemakmuran masyarakat dapat dimaksimumkan dan perekonomian selalu mencapai pertumbuhan perekonomian yang teguh. Tingkat pengangguran yang relatif tinggi tidak memungkinkan masyarakat mencapai tujuan tersebut. Hal ini dapat dengan jelas dilihat dengan memperhatikan berbagai akibat buruk yang bersifat ekonomi yang ditimbulkan oleh masalah pengangguran.
Akibat buruk tersebut antara lain :
Ø  Pengangguran menyebabkan masyarakat tidak memaksimumkan tingkat kemakmuran.
Ø  Pengangguran mengakibatkan pendapatan pajak pemerintah berkurang.
Ø  Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan perekonomian.

2)      Akibat buruk keatas individu dan masyarakat
Pengangguran akan mempengaruhi kehidupan individu dan kestabilan sosial dalam masyarakat. Beberapa keburukan sosial yang diakibatkan oleh pengangguran adalah :
Ø  Pengangguran mengakibatkan kehilangan mata pencaharian dan pendapatan.
Ø  Pengangguran dapat menyebabkan kehilangan keterampilan.
B.     Kerangka Konseptual
Tingkat pengangguran dapat dipengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Dimana semakin tinggi tingkat pengangguran suatu daerah maka semakin lesu tingkat pertumbuhan ekonominya. Hal ini disebabkan karena sebagian banyak orang yang menganggur maka akan menyebabkan beban pemerintah akan semakin bertambah.

C.    Data
1.      Pengangguran di Sumatera Barat
Pada zaman sekarang ini banyak sekali permasalahan yang timbul dalam kehidupan di berbagai negara salah satunya adalah masalah pengangguran yang terjadi di Indonesia. Pengangguran itu tidak hanya tejadi di Indonesia tetapi diseluruh dunia. Daerah Sumatera Barat sebagai salah satu propinsi di Indonesia juga tidak terlepas dari permasalahan pengangguran, adapun perkembangan dari tingkat pengangguran selama empat tahun terakhir adalah :
Tabel
Perkembangan Pengangguran Di Sumatera Barat Tahun 2001 – 2004

Tahun
Penganggur
( Jumlah )
2001
2002
2003
2004
64.725
105.987
245.607
328.373


2.      Perkembangan PDRB Sumatera Barat
Setiap daerah harus mempunyai sumber-sumber keuangan daerah sendiri agar dapat menutupi pembiayaan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas daerah untuk menunjang pembangunan. Hal ini didasari pada ketentuan bahwa daerah otonomi berhak untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, karena pemerintah pusat dan pemerintah yang lebih tinggi tidak akan sepenuhnya memberikan bantuan. Daerah otonomi diberi wewenang untuk menggali dan menghasilkan sumber-sumber keuangan dari daerah sendiri yang dituangkan dalam APBD dimana salah satu keuangan dari daerah tersebut adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Agar kesinambungan pembangunan daerah di Sumatera Barat dapat terjamin, salah satu sasaran pembangunan daerah ditujukan untuk meningkatkan penerimaan daerah, agar dana untuk pembangunan pada masa yang akan datang dapat terpenuhi dengan cara menggali dan memelihara sumber dana yang ada pada daerah Sumatera Barat.
Tabel
Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi
Di Sumatera Barat Tahun 1999 – 2004

Tahun
DPRB Perkapita Sumbar
( Rp )
Kenaikan
( % )
2001
6.075.716,04
-
2002
6.853.825,83
12.81
2003
7.479.495,52
9.39
2004
8.360.743,13
11.51

Dari tabel diatas terlihat bahwa terjadinya perubahan yang berfluktuasi dari tingkat kenaikan PDRB Perkapita di Sumbar, dimana pada tahun 2002 terjadi peningkatan yang tinggi dari tahun sebelumnya (2001) yaitu sebesar 12.81 % dengan PDRB sebesar 6.853.825,83 kemudian melemah di tahun 2003 dengan persentase kenaikannya hanya 9.39 % dengan PDRB sebesar 7.479.495,52 dan pada tahun 2004 naik 11.51 % dengan PDRB sebesar 8.360.743,13.

  1. Pembahasan
Pengangguran merupakan masalah yang selalu dihadapi oleh setiap perekonomian. Dalam pembahasan ini ditemukan bahwa terdapat pengaruh yang berarti dari tingkat pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat.
Kita lihat pada tahun 2002 peningkatan jumlah penggangguran tidak begitu besar dari tahun sebelumnya (2001) yaitu dari 64.725 menjadi 105.987 sehingga pertumbuhan ekonomi dapat naik sebesar 12.81 %. Pada tahun 2003 jumlah pengangguran meningkat cukup tinggi dari tahun sebelumnya yaitu dari 105.987 naik menjadi 2045.605. Hal ini menyebabkan menurunnya kenaikan pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 9.39 %. Begitu juga yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
Jadi berdasarkan data yang ada dapat kita lihat bahwa semakin tinggi tingkat pengangguran maka semakin menurun persentase kenaikan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat atau dengan kata lain pertumbuhan ekonomi menjadi semakin lesu. Banyaknya pengangguran tenaga kerja akan menyebabkan produksi menjadi rendah maka pendapatan rendah dan permintaan perkapita menjadi rendah oleh karena itu tingkat tabungan dan investasi rendah sehingga pembangunan dan pertumbuhan ekonomi akan rendah pula.

Menurut Boediono (1985:1) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan output dalam jangka panjang. Perhatian tekanan pada tiga aspek pengertian tersebut yaitu :
a)      Proses, yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang.
b)      Output Perkapita, dimana perlu diperhatikan output total (GDP) dan sisi jumlah penduduk.
Waktu (Jangka Panjang), yaitu kenaikan output perkapita selama satu atau dua tahun yang kemudian diikuti dengan penurunan output perkapita bukanlah pertumbuhan ekonomi.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Pengangguran merupakan fenomena yang selalu ada di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya di negara yang sedang berkembang bahkan di negara maju pun terdapat pengangguran. Tingkat pengangguran di Indonesia masih tergolong tinggi, khususnya di daerah Sumatera Barat jumlah pengangguran selalu mengalami kenaikan tiap tahunnya.

B.     Saran
Sesuai pada pembahasan sebelumnya, maka pada akhir penulisan makalah ini penulis menyampaikan beberapa buah saran Pemprov khususnya dan pembaca pada umumnya, yaitu :
1.      Diharapkan kepada pemerintah Propinsi Sumatera Barat dapat menekan tingkat pengangguran sedini mungkin, baik dengan perluasan lapangan kerja, pemberian modal dalam bentuk pinjaman, peningkatan kualitas tenaga kerja yang terampil dan ahli di bidangnya, karena tingkat pengangguran dapat menghambat pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.
2.      Diharapkan kepada masyarakat yang pada saat ini dalam keadaan menganggur agar secepatnya mempunyai pekerjaan agar tidak mempunyai dampak buruk terhadap segala aspek kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Acley  Gardener. 1993. Teori Ekonomi Makro. Diterjemahkan oleh P. Sihontang. UI.

Akhiruddin. 1998. Prinsip – Prinsip Geografi Ekonomi dan Industri. FPIPS IKIP Padang.

Arsyad Lincolin. 1999. Ekonomi Pembangunan. FE UGM.