Minggu, 10 Mei 2015

Pergeseran Paradigma Manajemen

Pergeseran Paradigma Manajemen


Paradigma menentukan sikap kita, sikap kita menentukan tindakan kita terhadap sesuatu. Paradigma bisnis adalah cara berpikir orang dan cara orang melaksanakan bisnis.
Paradigma ibarat peta yang menggambarkan suatu teritorial. Peta memberikan panduan kepad akita untuk menjelajahi tutorial yang digambarkan dalam peta. Jika kita berkendaraan memasuki Jakarta pada tahun 2001 tanpa sebuah peta Jakarta di tangan atau keliru membawa peta Jakarta tahun 1945, kita akan banyak melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan serta gagal dalam menjelajahi kota Jakarta.
Di muka telah diuraikan secara mendalam jaman globalisasi ekonomi, jaman teknologi informasi, jaman strategic quality management, dan jaman Revolusi Manajemen terhadap lingkungan bisnis yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Lingkungan bisnis yang telah berubah tersebut memerlukan paradigma baru yang pas dengan kondisi lingkungan bisnis tersebut. Pergeseran paradigma terjadi melalui tiga tahap: normalcy, anomali, dan penggantian.
Normalcy. Dalam tahap ini, praktik-praktik manajemen benar-benar sesuai dengan prinsip-prinsip atau kebenaran yang diyakini oleh masyarakat. Antara pemikiran dan tindakan berjalan normal. Sebagai peta, paradigma benar-benar cocok dengan realitas yang digambarkan dalam paradigma tersebut. Praktik manajemen yang cocok dengan realitas tersebut adalah management by exception, mass production, produsen yang paling tahu mengenai kebutuhan customers, organisasi dibangun untuk memberikan kenyamanan bagi manajemen dalam melaksanakan transaksi bisnis dengan pemasok dan customers. Dalam tahap normalcy, praktik-praktik manajemen mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah yang timbul, karena kesesuaian antara praktik-praktik tersebut dengan paradigma manajemen yang digunakan.
Anomali. Dalam tahap ini, berdasarkan pengamatan karakteristik lingkungan bisnis yang dimasuki oleh perusahaan-perusahaan, dijumpai berbagai bukti yang bertentangan dengan asumsi manajemen tentang lingkungan bisnis yang selama ini digunakan. Realitas yang terdapat dalam lingkungan bisnis tidak lagi sesuai dengan paradigma yang digunakan. Praktik-praktik manajemen yang sebelumnya dapat menjanjikan sukses untuk penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi oleh manajemen, tidak lagi dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Sebagai contoh, dalam lingkungan bisnis global sekarang ini telah terjadi kematian sistem perencanaan strategik, sistem anggaran, sistem akuntansi biaya (the death of strategic planning, budgeting, and accounting). Sistem anggaran dalam manajemen tradisional disusun berdasarkan organisasi fungsional sehingga berfokus ke pencapaian tujuan fungsi, bukan tujuan perusahaan secara keseluruhan, yaitu menghasilkan value terbaik bagi customer. Manajer perusahaan yang menghadapi kompetisi global, tidak lagi dapat menggunakan informasi biaya yang dihasilkan oleh akuntansi biaya tradisional untuk menghadapi persaingan harga yang ketat, karena informasi biaya tersebut dihasilkan oleh sistem informasi yang berfokus ke biaya produksi.
Penggantian. Dalam tahap ini paradigma yang sebelumnya digunakan untuk menjalankan bisnis diganti dengan paradigma baru, paradigma yang dibangun atas dasar karakteristik lingkungan bisnis baru yang berhasil diamati. Sebagai contoh, oleh karena lingkungan bisnis sekarang dan di masa depan dikendalikan oleh customer, maka paradigma manajemen yang pas dengan lingkungan baru tersebut adalah paradigma customer value strategy. Paradigma lama yang memfokuskan ke kepentingan produsen kemudian diganti dengan paradigma customer value, dan prinsip-prinsip manajemen baru dibangun berdasarkan paradigma customer value tersebut.

Pergeseran Paradigma Manajemen Yang Sedang Berlangsung Sekarang
Paradigma baru yang sedang berkembang (emerging paradigm) dalam manajemen untuk menghadapi lingkungan bisnis global adalah (1) cuctomer value strategy, (2) continuous improvement, (3) organizational system.
Cctomer value strategy. Oleh karena dalam lingkungan bisnis di jaman globalisasi ekonomi ini customer memegang kendali bisnis, maka manajemen perusahaan harus mengubah paradigma mereka ke strategi penyediaan value terbaik bagi customers. Dalam paradigma ini, manajemen pertama kali harus mengenali siapa customer perusahaan dan kebutuhan customer apa yang dipenuhi oleh perusahaan. Cctomer value strategy adalah strategi manajemen untuk menyediakan value terbaik bagi customer untuk menjadikan perusahaan mampu bertahan dan bertumbuh di dalam lingkungan bisnis yang dimasukinya. Paradigma cuctomer value strategy adalah pandangan bahwa satu-satunya alasan keberadaan bisnis perusahaan adalah customer, oleh karena itu untuk mempertahankan keberadaan dan pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang, perusahaan harus mampu memproduksi produk dan jasa yang menghasilkan value terbaik bagi customer.
Contitnuous improvement. Oleh karena dalam lingkungan bisnis di jaman globalisasi ekonomi ini kompetisi semakin tajam dan perubahan telah mengalami perubahan, costumer value akan senantiasa mengalami perubahan dengan pesat dan radikal. Paradigma contitnuous improvement adalah pandangan bahwa perusahaan hanya akan mampu bertahan dan bertumbuh dalam jangka panjang, jika mampu secara berkelanjutan melakukan improvement terhadap sistem dan proses yang digunakan untuk menghasilkan value bagi customer.
Organizational system. Paradigma organizational system adalah pandangan bahwa untuk mampu bertahan dan bertumbuh di lingkungan bisnis global, sistem organisasi perusahaan harus didesain sedemikian rupa sehingga berorientasi untuk memuasi kebutuhan customer dan untuk memungkinkan dilaksanakannya improvement berkelanjutan terhadap sistem dan proses yang digunakan untuk menghasilkan value bagi customer. Desain sistem organisasi yang memenuhi tujuan tersebut adalah pendekatan lintas fungsional (cross functional approach) dan pemberdayaan karyawan (employee empowerment).
Dalam desain ini, sumber daya perusahaan diorganisasi menurut sistem yang digunakan untuk melayani customer. Dengan organisasi yang didesain seperti ini, customer akan memperoleh manfaat besar berikut ini :
1.      Oleh karena organisasi didesain berdasarkan sistem yang digunakan untuk memuasi kebutuhan customer, customer akan memperoleh value terbaik dari organisasi ini.
2.      Oleh karena case manager dalam desain organisasi ini bertanggung jawab untuk melakukan improvement berkelanjutan terhadap sistem yang dipimpinnya, customer akan mendapat value yang sesuai dengan perubahan kebutuhan mereka.
Pemberdayaan karyawan (employee empowerment) dapat diwujudkan dengan sistem organisasi yang memungkinkan karyawan mendapatkan kompetensi, informasi, wewenang, dan penghargaan, sehingga karyawan mampu melakukan pengambilan keputusan atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka.