Selasa, 04 Agustus 2015

Hubungan Ilmu Dengan Filsafat



HUBUNGAN ILMU DENGAN FILSAFAT


a)      Persoalan Filsafat
Menurut para ahli filsafat spekulatif (yang dibedakan dengan paham filsafat kritis) yang antara lain tokohnya C.D. Broad, tujuan filsafat adalah berupaya menyatu-padukan hasil-hasil yang pengalaman manusia dalam bidang keagamaan, etika, serta ilmu pengetahuan yang dilakukan secara menyeluruh.
Upaya ini diharapkan untuk mendapatkan kesimpulan pemahaman secara umum tentang manusia, masyarakat, alam dan hubungannya dengan manusia dan makhluk hidup lainnya serta pandangan-pandangan yang menjangkau ke arah masa depan.
Sebenarnya untuk mendeskripsikan pengertian filsafat akan lebih mudah dipahami lewat pendekatan operasional. Bersifat berfilsafat dapat mengandung arti melakukan aktifitas filsafat dengan demikian akan menggunakan seperangkat metode-metode filsafat dan sekaligus mempunyai filsafat.
  1. Himpunan pengetahuan merupakan unsur baik dalam rangka menghadapi dan mengusahakan pemecahan masalah yang semula dihadapi itu agar dapat diselesaikan dengan memuaskan.
  2. Himpunan pengetahuan khas ini ternyata juga dapat selalu dipergunakan sebagai masukkan (input) baru yang dipakai untuk titik tolak dan keranga acuan dalam menghadapi dan mengusahakan pemecahan masalah dihadapi dengan subjektif, dan persoalan tersebut dapat berupa persoalan hidup sehari-hari, persoalan mondial nasional, maupun universal dan sosial kemasyarakatan.
Dari kesimpulan di atas dapat diambil 2 pengertian pokok, yaitu :
Mencakup pengertian filsafat sebagai produk (hasil pemikiran manusia) dan dalam hal ini bersifat statis, dan filsafat sebagai proses, sehingga dalam hal ini filsafat bersifat dinamis.
  1. Filsafat sebagai produk mencakup pengertian
a.       Pengertian filsafat yang mencakup arti-arti filsafat sebagai jenis pengetahuan ilmu, konsep dan para filsuf pada zaman dahulu, teori, sistem atau tertentu, yang merupakan hasil dari proses berfilsafat dan mempunyai ciri tertentu.
b.      Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dan aktivitas berfilsafat.
  1. Filsafat sebagai suatu proses yang dalam hal ini filsafat diartikan dalam bentuk suatu aktivitas berfilsafat, dalam proses pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara metode tertentu yang sesuai dengan objek permasalahan.

b)     Berfikir Secara Kefilsafatan
Semua manusia hidup normal senantiasa ditandai dengan kegiatan-kegiatannya yang sangat khas, yaitu kegiatan berpikir. Maka kegiatan berpikir itulah yang membedakan makhluk manusia dengan makhluk lainnya. Namun demikian tidak semua kegiatan berfikir disebut kegiatan berfilsafat.
Ciri-ciri kegiatan berfikir secara berfilsafat sebagai berikut :
1)      Bersifat Kritis
-          Senantiasa mempertanyakan segala sesuatu.
-          Masalah-masalah
-          Hal-hal lain dihadapi manusia
2)      Bersifat Terdalam
Bukan hanya fakta-fakta yang sifatnya sangat khusus, dan empiris belaka namun intinya yang terdalam yaitu substansinya yang bersifat universal.
3)      Bersifat Konseptual
Menyajikan dengan konsep-konsep yang telah dipahami, pemahaman yang dalam serta berwawasan yang luas.
4)      Koheren (Runtut)
Berfikir kefilsafatan bukanlah merupakan suatu pemikiran yang acak, kacau dan pragmentoris. Pemikiran kefilsafatan berusaha menyusun suatu bagan yang konseptual yang koheren (runtut). Bilamana bagan konseptual dari suatu bagan konseptual dari suatu pemikiran kefilsafatan, terdiri atas A, B, C, D dan E, maka kesemuanya itu harus ada pada huruf bagan yang bersifat konseptual dan koheren (runtut).
5)      Bersifat Rasional
Bersikap secara logis dan tidak bertentangan dengan pendapat.
6)      Bersikap Menyeluruh (Komprehensif)
Dalam hal ini berarti bahwa suatu pemikiran kefilsafatan bukan hanya berdasarkan pada suatu fakta yang khusus dan individual saja, yang kemudian sampai pada kesimpulan yang khusus dan individual juga. Namun pemikiran kefisafatan haruslah sampai kepada suatu kesimpulan yang sifatnya paling umum (menyeluruh).
7)      Bersifat Universal
Sifat universal berarti sampai pada suatu kesimpulan yang bersifat umum bagi seluruh umat manusia dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun.
8)      Bersifat Spekulatif (Perekaan)
Pengajuan dugaan-dugaan yang masuk akal (rasional) yang melampaui batas-batas fakta.
9)      Bersifat sistematis
Berhubungan antara yang satu dengan yang lain yang terjalin dalam suatu kerjasama secara ketergantungan atau mempunyai urutan-urutan yang jelas dan terperinci.
10)  Bersifat bebas
Suatu bentuk pengetahuan intelektual adalah peniadaan kebebasan dan berfikir. Sifat berfikir secara kefilsafatan adalah berfikir secara bebas untuk sampai pada hakikat yang terdalam dan universal.