Cerpen Di Rumah Jago


DI RUMAH JAGO

Cerpen Di Rumah Jago

Akhirnya rencana kami sekeluarga untuk menengok “Rumah Jago” jadi juga. Rumah Jago, memang terdengar aneh untuk nama sebuah rumah. Diberi nama begitu sebab Ayah membangun sebuah patung jago besar di depan rumah itu. Kami jarang tinggal di Rumah Jago. Menurut Ayah jaraknya terlalu jauh dari pasar dan pertokoan. Karena itu Ayah membeli sebuah rumah lagi di pusat kota. Rumah Jago hanya sekali-sekali saja kami tengok.

Kami berangkat menuju Rumah Jago kira-kira pukul satu siang. Sampai di Rumah Jago sudah pukul lima sore.

“Perutku sudah keroncongan nih, Bu!” keluhku.

“Ya ampuuuun! Kita lupa berbelanja,” pekik ibuku.

Ooh, lemas aku mendengarnya. Langsung kuhempaskan tubuhku ke sofa. Ayah dan Mbak Nonik, kakakku, tertawa geli melihatku.

“Aduuuh, kasihan si Tambun. Dia sudah kelaparan, tuh!” ejek Mbak Nonik. Aku tak menanggapi ocehannya.

Akhirnya Ayah mengajak untuk berbelanja sore itu juga. “Ayo cepatlah, ini hampir malam. Lagipula aku juga sudah lapar,” katanya. Tentu saja aku tidak ikut. Hanya ayah dan ibu dan kakaku saya yang pergi. Bila perut kosong rasanya aku malas untuk berjalan selangkahpun.

Hari mulai malam. Mereka belum juga pulang. Perutku sudah mulai nyeri. Lampu-lampu telah sejak sore tadi kuhidupkan. Aku menuju lantai atas, ke kamar tidur. Cepat-cepat kuhidupkan lampu. Ternyata takut juga tinggal sendirian di rumah sebesar ini.

Kamar tidurku menghadap ke teras depan. Kubuka gorden sehingga aku dapat melihat teras depan, gerbang, dan rumah tetangga depan. Kamar depannya pun juga dapat kulihat dengan jelas.

Iseng-iseng kurogoh kantongku. Masih ada coklat sebatang lalu kukupas. Namun ketika akan kugigit, tiba-tiba terdengar suara berkelontang dari rumah tetangga depan. Aku terkejut setengah mati. Coklat di tanganku terjatuh. Tampak dengan jelas dua orang laki-laki sedang berkelahi di dalam kamar itu.

Tampa yang satu menonjok wajah lawannya. Laki-laki itu terkulai lemas. Lalu terjatuh. Mungkin ia mati! Aku tak dapat melihat keadaannya karena jendela kamar itu agak tinggi. Pandanganku terhalang. Laki-laki yang memukul tiba-tiba menoleh ke arah jendela lalu mendongak. Dia melihatku, tampak terkejut.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Segera kututup gorden dan kumatikan lampu. Tak lama setelah itu bel gerbang berbunyi. Tak mungkin itu orang tuaku dan Mbak Nonik, karena tak terdengar suara mobil.

Pelan-pelan kuintip dari balik gorden. Ternyata laki-laki yang memukul tadi yang berdiri di depan gerbang. Dia mendongak ke arah jendela. Aku mundur lalu terduduk di lantai. Kubiarkan dia mengebel sampai bosan. Selang beberapa saat kudengar suara mobil. Aku bangkit lalu mengintip. Ternyata ada sebuah mobil melaju meninggalkan rumah depan itu. Tak kuceritakan apa yang baru ku lihat pada orang tua dan kakakku. Aku masih sangat terkejut dan takut sekali. Sebenarnya aku sering membaca novel detektif. Tapi tak kukira aku akan melihat pembunuhan dengan mata kepalaku sendiri. Orang tuaku dan Mbak Nonik baru pulang pukul sembilan malam. Aku sudah tak berselera lagi untuk makan. Meskipun mereka membelikan pizza keju kesukaanku.

Dua hari pun berlalu. Namun peristiwa itu masih tetap terbayang-bayang. Sejak kejadian itu pula rumah depan tersebut kosong. Hari ini, di daerah ini akan diadakan malam kesenian 17-an. Mbak Nonik mengajakku untuk melihatnya. Kami duduk di deretan bangku paling depan. Acara demi acara telah lewat. Aku mulai mengantuk. Aku menguap. Bersamaan dengan itu kulihat sekilas laki-laki pembunuh itu. wajahku pucat. Untung Mbak Nonik tidak melihatnya.

“Mbak Non, ayo pulang. Ngantuk sekali nih,” kataku gemetar menahan gelisah. “Sebentar lagi!” jawabnya santai tanpa memperhatikan aku yang hampir menangis ketakutan.

Pada saat itu kulihat si pembunuh tadi naik ke atas panggung. Dia menonjok lawan mainnya keras sekali, persis seperti peristiwa malam itu.

Saat itu aku terbahak ketika semua penonton sedang tegang menyaksikan adegan di panggung tersebut. Aku baru sadar! Yang kulihat malam itu adalah babak dalam sebuah drama. Kedua orang yang berkelahi itu pastilah sedang berlatih. Laki-laki itu terus mengebel gerbang pasti ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, supaya aku tidak salah paham.

Ketika drama berakhir, semua pemain memberi hormat. Laki-laki tadi tersenyum kepadaku. Penonton bertepuk tangan puas dan diantara mereka, akulah yang bertepuk tangan paling keras.

“Hei, katamu sudah mengantuk. Ayo pulang!” kata Mbak Nonik sambil menarik tanganku.

“Nanti dulu! Aku ada urusan sebentar,” tolakku. Kemudian aku bergegas berlari menghampiri laki-laki tadi. Meninggalkan kakakku yang masih bengong keheranan.

Di depan laki-laki itu kuutarakan semua dugaanku tadi. Dan dia mengangguk membenarkannya. Ketika kami mengobrol tiba-tiba datang seorang laki-laki. Dia adalah teman berlatihnya malam itu. “Hai, Dik! Jangan dikira aku mayat hidup, lho!” serunya sambil tersenyum simpul . “Untung kamu belum lapor polisi,” katanya lagi sambil menepuk punggungku keras-keras. Aku mengangguk dan meringis menahan sakit. Tapi, pikirku setiap orang pasti akan berprasangka sama seperti aku jika melihat peristiwa malam itu. Betul nggak?***

0 Response to "Cerpen Di Rumah Jago"

Posting Komentar