Selasa, 05 Januari 2016

Contoh Makalah Tentang Kesenian Anak Nagari Minangkabau



A.    Pengertian dan Fungsi
Bagi masyarakat Minangkabau seni merupakan bagian dari adat istiadat yaitu sebagai perhiasan atau permainan. Pada umumnya kesenian Minangkabau bersumber dari gejala alam baik gerak, bunyi dan bentuknya. Ungkapan adat menyebutkan sebagai berikut :
“Panakiak pisau sirauik
panungkek batang lintabuang,
salodang ambiak ka niru
Satitiak jadikan lauik
sakapa jadikan gunuang
alam takambang jadikan guru”.
Contoh Makalah Tentang Kesenian Anak Nagari Minangkabau

Ungkapan adat tersebut mengisyaratkan bahwa setiap orang harus mampu mempertinmggi rasa, memberi nilai tambah, mendayagunakan sesuatu serta mengembangkan akal-pikiran dan daya kreasi. Seseorang harus kreatif dan peka terhadap gejala alam, sebab dialah yang akan menghasilkan kreasi walau hanya dari gejala alam.
Kesenian masyarakat Minangkabau umumnya tumbuh dan berkembang di nagari-nagari. Hampir setiap nagari mempunyai kesenianannya sendiri. Disebabkan pertumbuhan dan perkembangannya di nagari-nagri, maka disebut dengan “Kesenian Anak Nagari”. Kesenian anak nagari biasanya dimainkan oleh remaja-remaja sebagai wujud pengembangan kreativitas dalam bentuk permainan dan perhiasan.
Fungsi kesenian anak nagari adalah :
  1. Sebagai alat penyampaian pesan-pesan, perasaan dan pandangan hidup.
  2. Sebagai media komunikasi antara seseorang atau sekelompok orang dengan yang lainnya.
  3. Sebagai media pendidikan dan transformasi nilai dari generasi yang ke generasi secara sinambung.
  4. Sebagai fisualisasi kebesaran, kemajuan, kejayaan dan harga diri suatu masyarakat. 
B.     Wujud Kesenian Anak Nagari
Kesenian anak nagari tumbuh dan berkembang sesuai irama dan kondisi alam sekitarnya. Daerah pantai dengan lambaian daun kelapa, deburan ombak, akan menghasilkan derap dan irama seni yang berbeda dengan daerah pegunungan yang diwarnai aliran air, lembah memanjang, padi menguning.
Contoh perbedaan itu antara lain : bunyi saluang terdengar begitu mendayu dan irama selaras, berbeda dengan bunyi rabab dengan irama lembut ditingkah hentakan keras. Saluang berkembang di daerah darat sedangkan rabab terdapat di daerah pantai. Secara umum warna dan kondisi alam memberi pengaruh terhadap hasil penciptaan karya seni itu.

Wujud kesenian anak nagari meliputi :
  1. Seni gerak : seperti tari, pencak silek.
  2. Seni bunyi : seperti saluang, dendang, bansi, pupuik, rabab, siul, genggoang, talempong, gandang.
  3. Seni rupa : seperti ukiran, sulaman, bordir, anyaman.
  4. Seni sastera : seperti pantun, kaba, pasabahan, basijobang.
  5. Seni gabungan unsur-unsur : seperti randai, indang, dikir dan tabuik.
Kalau diperhatikan saat sekarang, tidak semua kesenian yang masih dimainkan oleh masyarakat. Beberapa bentuk kesenian tidak ditemukan lagi, bahkan sudah ada yang hilang. Kesenian yang sudah jarang ditemukan dalam aktivitas anak nagari disebut “Kesenian langka”, seperti Dabuih (debus) yaitu permainan tari dicampur silat dengan menusukkan pisau ke tubuh bahagian tertentu tanpa luka atau gores. Kemudian dikenal permainan “Tari piring di atas kaca, Dikir rebana, Talempong bakatuntang, Simuntu (tari topeng), Sampeloang sijundai (saluang gadang), Alu baganto, dan lain sebagainya.
Pada umumnya penampilan seni yang langka dipimpin oleh seorang “TUO” dengan pengetahuan yang tinggi, bahkan mempunyai ilmu gaib, mantra dan kebal. Permainan langka ini jarang dan bahkan tidak diturunkan ke generasi muda. Tidak diketahui secara pasti kenapa hal ini terjadi, namun diperkirakan tidak tertariknya generasi muda sekarang atau hematnya para Tuo tersebut dalam menurunkan ilmunya. 

C.    Pengaruh Era Global Terhadap Kesenian Anak Nagari
Sekarang terlihat gejala bahwa remaja kurang tertarik mengikuti atau menyaksikan kegiatan upacara adat dan kesenian Minangkabau, baik mereka yang hidup di kampung/desa atau di kota-kota. Kaula muda/remaja lebih tertarik dengan kesenian yang datang dari Barat. Pada umumnya remaja menganggap kesenian anak nagari sudah usang atau kuno, sedangkan yang datang dari Barat adalah suatu modern, seiring dengan kemajuan zaman (iptek).
Mereka beranggapan bahwa kesenian dan upacara adat tidak saja kuno tetapi juga sering bertele-tele bahkan tidak praktis. Remaja sekarang lebih suka kepada hal-hal yang praktis, lebih dinamis dan bergejolak cendrung keras. Gejala ini juga memperlihatkan kesan individual dan mengabaikan norma kesopanan.
Apabila diperhatikan hal semacam ini dengan seksama, kehidupan remaja sekarang sudah mulai “tercabut dari akarnya” dan tidak bertumpu pada nilai budaya aslinya. Hal ini seperti makhluk yang hidup di dua belahan bumi yang berbeda, satu kakinya hidup di tanah Minangkabau sementara yang satunya lagi menginjak Eropah, atau berpijak dengan kaki Indonesia tapi berkepala Barat. Masyarakat muda kita tidak obahnya hidup dalam dua alam. Hal semacam ini jelas tidak akan membawa pertumbuhan masyarakat yang baik dan berkepribadian utuh.
Untuk memahami hal ini lebih mendalam, kiranya kita perlu mencoba menelusuri apa yang menjadi pemicu sehingga gejala itu semakin hari semakin merebak dan merusak kehidupan remaja kita.
Berbagai hal, baik datang dari dalam maupun dari luar yang mempengaruhi kecendrungan itu antara lain :
1.       Orang tua atau keluarga dan lembaga pendidikan formal kurang memperkenalkan upacara adat dan kesenian anak nagari kita kepada anak kemenakan, anak didik sedini mungkin dan sinambung. Akibat jarangnya anak-anak mengetahui tata upacara adat dan kesenian anak nagari, mereka menjadi asing terhadap kegiatan itu.
2.       Derasnya arus informasi yang datang melalui media massa yang membawa corak tata kehidupan modern dari Barat. Media informasi sekarang sudah menjadi sumber belajar yang penting di tengah-tengah masyarakat. Hal-hal yang sering disajikan oleh media massa, terutama media elektronik, sangat besar peranannya membentuk watak dan sikap seseorang, apalagi kaum remaja.
3.       Penampilan atau pegelaran kesenian anak nagari jarang. Bahkan semakin langka diadakan, sehingga hal itu semakin jauh dari kehidupan remaja. Apabila ada pagelaran tata upacara adat dan kesenian anak nagari, pelaku umumnya kaum tua-tua, dan sedikit sekali melibatkan remaja, terutama di kota-kota.

Upaya yang dapat mengembalikan corak dan kecendrungan remaja mencintai kesenian anak nagari :
  1. Mempelajari adat sedini mungkin, baik melalui pendidikan formal atau non formal.
  2. Membiasakan diri dalam kehidupan, terutama kesenian anak nagari kita yang beraneka ragam seiring nafas kehidupan kita sendiri, jangan merasa asing dengan kesenian anak nagari sendiri.
  3. Berusaha melestarikan dan mengembangkan kesenian dengan mengikuti bahkan mengadakan lomba kesenian anak nagari di lingkungan masing-masing, secara berkala.