Jumat, 27 Mei 2016

Makalah Tentang Pengaruh Keluarga Terhadap Kenakalan Remaja dan Cara Penanggulangannya


BAB I
PANDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalan bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya.
Perkembangan anak pada umumnya meliputi keadaan fisik, emosional sosial dan itelektual. Bila kesemuanya berjalan secara harmonis maka dapat dikatakan bahwa anak tarsebut dalam keadaan sehat jiwanya. Dalam perkembangan jiwa terdapat periode-periode kritik  yang berarti bahwa bila periode-periode ini tidak dapat dilalui dangan harmonis maka akan timbul gejala-gejala yang menunjukan misalnya keterlambatan, ketegangan, kesulitan penyesuaian diri kepribadian yang terganggu bahkan menjadi gagal sama sekali dalam tugas sebagai makhluk sosial untuk mengadakan hubungan antar manusia yang memuaskan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang dilingkungannya.
Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menepati kedudukan yang primer dan fundamental, oleh sebab itu keluarga mempunyai peranan yang besar dan vital dalam mempengaruhi kehidupan seorang anak, terutama pada tahap awal maupan tahap-tahap kritisnya. Keluarga yang gagal memberi cinta kasih dan perhatian akan menumpuk kebencian, rasa tidak aman dan tindak kekerasan kapada anak-anaknya. Demikian pula jika keluarga tidak dapat menciptakan suasana pendidikan, maka hal ini akan menyebabkan anak-anak terperosok atau tersesat jalannya.
Dalam makalah ini penulis menyajikan mengenai pengaruh keluarga terhadap kenakalan remaja dan beberapa penanggulangannya.

Makalah Tentang Pengaruh Keluarga Terhadap Kenakalan Remaja dan Cara Penanggulangannya

1.2 Pembatasa Masalah
Disini penulis akan membahas tentang pangaruh keluarga terhadap kenakalan anak remaja. Fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Pada hakekatnya, keluarga merupakan wadah pembenrukan masing-masing anggotanya. Terutama anak-anak yang masih berada bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya.
Mengingat tentang pembahasan pengaruh keluarga terhadap kenakalan anak sangat luas. Oleh karena itu, disini membahas tentang pengertian kenakalan anak remaja, kenakalan anak dan pengendalian terhadap kenakalan anak.

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan pokok dari karya tulis ini adalah untuk memenuhi nilai ujian semester dua kelas XI bidang studi Bahasa Indonesia dan menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia yang Ibu Guru berikan kepada saya.
Dalam hal ini penulis membahas tentang pengertian kenakalan anak remaja, pengaruh keluarga terhadap kenakalan anak dan pengendalian terhadap kenakalan anak.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Kenakalan Anak Remaja
            Kenakalan remaja merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial. Menurut Paul Moedikdo,SH kenaklan remaja ada 3 yaitu :
  1. Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
  2. Semua perbuatan penyelewengan dari norna-norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
  3. Semua perbuatan yang menunjukan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Adapun gejala-gejala yang dapat memperhatikan hal-hal yang mengarah kepada kenakalan remaja yaitu :
1.    Anak-anak yang tidak disukai oleh teman-temannya sehingga anak-anak tersebut menyendiri. Anak yang demikian dapat menyebabkan kegoncangan emosinya.
2.    Anak-anak yang sering menghindarkan diri dari tanggung jawab di rumah atau di sekolah.
3.    Anak-anak yang sering mengeluh dalam arti bahwa mereka mengelami masalah yang oleh dia sendiri tak sanggup mencari permasalahannya. Anak seperti ini sering terbawa kepada kegoncangan emasi.
4.    Anak-anak yang mengalami Phobia dan gelisah dalam melewati batas yang berbeda dengan ketakutan anak-anak normal.
5.    Anak-anak yang suka berbahong.
6.    Anak-anak yang suka menyakiti atau mengganggu teman-temannya di sekolah atau di rumah.
7.    Anak-anak yang menyangka bahwa semua guru mereka bersikap tidak baik terhadap mereka dan sengaja menghambat mereka.
8.    Anask-anak yang tidak sanggup memusatkan perhatian.

2.2 Pengaruh Keluarga Terhadap Kenakalan Anak
Pengaruh keluarga dalam kenakalan remaja yaitu :
2.2.1 Keluarga yang Broken Home
          Masa remaja adalah masa dimana seseorang sedang mengalami saat kritis sebab ia mau menginjak ke masa dewasa. Remaja barada dalam masa peralihan. Dalam masa peralihan itu pula remaja sedang mencari identitasnya. Dalam proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan dirinya, remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari oarang yang dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya. Seperti yang telah disebutkan diatas fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga manjamin rasa aman maka dalam masa kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan realisasi fungsi tersebut. Sebab dalam masa yang kritis seseorang kehilangan paganggan yang memadai dan pedoman hidupnya. Masa kritis diwarnaim oleh konflik-konflik internal, pemikiran kritis, perasaan mudah tersinggung, cita-cita dan sebagainya. Masalah keluarga yang broken home bukan menjadi masalah baru tatapi merupakan masalah yang utama dari akar-akar kehidupan seorang anak. Keluarga merupakan dunia kaekraban dan diikat oleh tali batin, sehingga menjadi bagian yang vital dari kehidupannya.
Penyebab timbulnya keluarga yang broken home antara lain :
2.2.1.1 Orang Tua yang Bercerai
Perceraian menunjukan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar-dasar perkawinan yang telah terbina bersama telah goyah dan tidak mampu menopang kehidupan yang harmanis.
2.2.1.2 Kebudayaan Bisu dalam Keluarga
Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan dalam situasi yang perjumpaan yang sifatnya sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak.
2.2.1.3 Perang Dingin dalam Keluarga
Dapat dikatakan perang dingin adalah lebih berat dari kebudayaan bisu. Sebab dalam perang dingin selain kurang terciptanya dialog juga disisipi oleh rasa perselisihan dan kebencian dari masins-masing pihak. Awal perang dingin dapat disebabkan karena suami mau memenangkan pendapat dan pendiriannya sendiri, sedangkan istri hanya mempertahankan keinginan dan kehendaknya sendiri.
Susuasana perang dingin dapat menimbulkan rasa takut dan cemas  pada anak-anak. Anak-anak menjadi tidak betah dirumah sebab merasa tertekan dan bingung serta tegang. Anak-anak menjadi tertutup dan tidak dapat mendiskusikan problem yang dialami . Semangat belajar dan konsentrasi mereka menjadi lemah. Anak-anak berusaha kompensasi semu.

2.2.2     Pendidikan yang Salah
2.2.2.1 Sikap memanjakan anak
Keluarga mempunyai perenan di dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupaka lingkungan pertama dari tempat kehadirannya dan mempunyai fungsi untuk menerima, merawat dan mendidik seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi tempat pendidikan pertama yang dibutuhkan oleh seorang anak , dan cara bagaimana pandidikan itu diberikan akan menentukan. Sebab pendidikan itu pula pad prinsipnya adalah untuk meletakkan dasar dan arah bagi seorang anak.
2.2.2.2 Anak tidak diberikan pendidikan agama
Hal ini dapat terjadi bila orang tua tidak memberikan pendidikan agama atau mencarikan guru agama di rumah atau oarang tua mau memberikan pendidikan agama dan mencarikan guru agama tetapi anak tidak mau mengikuti. Bagi anak yang tidak dapat / mengikuti pendidikan agama akan cenderung untuk tidak mematuhi ajaran-ajaran agama. Seseorang yang tidak patuh pada ajaran agama mudah terjerumus pada perbuatan keji dan mungkar jika ada faktor yang mempengaruhi seperti perbuatan kenakalan remaja.

2.2.3     Anak yang ditolak
Penolakan anak biasanya dilakukan oleh suami istri yang kurangsecara spikis. Misalkan mereka mengharapka anak laki-laki tetapi memperoleh anak perempuan. Sering pula disebabkan oleh rasa tidak senang dengan anak pungut atau anak dari saudara yang menumpang di rumah mereka. Faktorlain karena anaknya lahir dengan keadaan cacat sehingga dihinggapi rasa malu. Anak-anak ditolak akan merasa diabaikan, terhina dan malu sehingga mereka mudah sekali pengembangkan pola penyesalan, kebencian dan agresif.

2.3       Pengendalian Terhadap Kenakalan Anak
Dalam mengatasi kenakalan remaja yang paling dominan adalah dari keluarga merupakan lingkunganyang paling pertama ditemui seorang anak. Di dalam menghadapi kenakalan anak pihak orang tua kehendaknya dapat mengambil dua sikap yaitu :
2.3.1   Sikap / cara yang bersifat preventif
Yaitu perbuatan atau tindakan orang tua terhadap anak yang bertujuan untuh menjauhkan sianak dari pada perbuatan buruk atau dari lingkungan pergaulan yang buruk. Dalam hal sikap yang bersifat preventif, pihak orang tu dapat memberikan atau mengadakan tindakan : Menanamkan rasa disiplin dari ayah terhadap anak. Memberikan pengawasan dan perlindungan terhadap anak oleh ibu. Mencurahkan kasih sayang dari kedua orang tua terhadap anak. Menjaga agar tetap terdapat suatu hubungan yang bersifat intim dalam satu ikatan kekuarga.
Disamping hal tersebut diatas maka hendahnya diadakan pula : Pendidikan agama untuk meletakkan dasar moral yang baik dan berguna. Penyaluran bakat sianak ke arah pekerjaan yang berguna dan produktif. Rekreasi yang sehat sesuai dengan kebutuhan jiwa anak. Pengawasan atas lingkungan pergaulan anak sehai-hari.

2.3.2     Sikap / cara yang bersifat represif
Yaitu pihak orang tua hendaknya ikut serta secaraaktif dalam kegiatan sosial yang bertujuan untuk menanggulangi masalah kanakalan anak seperti menjadi anggota badan kesejahteraan anak-anak. Selain itu pihak orang tua terhadap anak yang bersangkutan dalam perkara kanakalan handaknya mengambil siakap yaitu : Mengadakan introspeksi sepenuhnya akan kealpaan yang telah diperbuatnya sehingga menyebabkan anak terjerumus dalam kenakalan. Memahami sepenuhnya akan latar belakang dari pada masalah kenakalan yang menimpa anaknya. Meminta bantuan para ahli (Psikolog atu petugas sosial) di dalam mengawasi perkembangan kehiduoan anak, apabila dipandang perlu. Membuat catatan perkenbangan pribadi anak sehari-hari.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Jelaslah bahwa kenakalan remaja sangat dipengaruhi oleh keluarga walaupun faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Faktor keluarga sangatlah penting karena merupakan lingkungan pertama, lingkungan primer.
 Apibila lingkungan keluaga tiadak harmonis yaitu mengalami hal-hal yang telah disebutkan diatas seperti keluarga broken home yang disebaabkan perceraian, kebudayaan bisu dan perang dingin serta kesalahan pendidikan akan berpengaruh kepada anak yang dapat menimbulkan kenakalan remaja.

3.2 Saran
Bagajmanapun kenakalan remaja harus dilakukan pengendalian karena apabila berkelanjutan akan menyebabkan kerusaka pada kehidupannya pada masa yang akan datang. Selain pihak keluarga pengendalian kenakalan remaja juga harus dilakukan dari lingkungan remaja tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Admasasmita, Ramli, 1984, Problema Kenakalan Anak / Remaja (Juridis, Sosio, Kriminologis), Armico , Bandung.
2.    Ahmadi, Habu,  1979, Psikologi Sosial, Bina Ilmu, Surabaya.
3.    Hamiru la, Ode, 1986, Faktor-faktor Lingkungan Sosial Dalam Kaitannya Dengan Remaja Nakal yang Menyalahgunakan Narkotika yang Direhabilitasi Pada Panti Rehabilitasi Korban Narkotika, Surabaya.
4.    Mulyono Y, Bambang, 1986, Kenakalan Remaja Dalam Persepektif Pendekatan Sosiolagi, Psikologi, Teologis dan Usaha Penanggulangan, Andi Offset, Jakarta.
5.    Simanjuntak, B, 1984, Latar Belakang Kenakalan Remaja, Alumni, Jakarta.

6.    Soekanta Soedjono, 1981, Memperkenalkan Sosiologi, CV Rajawalli, Jakarta.