Sabtu, 09 Mei 2015

Karakteristik Lingkungan Bisnis


JAMAN GLOBALISASI EKONOMI
Kita sekarang telah mengarungi Abad XXI, suatu abad yang diawali dengan globalisasi ekonomi yang melanda semua negara di dunia. Dalam sejarah umat manusia, belum pernah pergantian abad, yang sekaligus merupakan pergantian millennium (masa seribu tahun), ditandai dengan globalisasi ekonomiyang sedemikian pesat dan pervasif. Globalisasi ekonomi dimungkinkan dengan semakin luasnya penerapan teknologi informasi (komputer, telekomunikasi, dan peralatan kantor elektronik) dalam semua arena kehidupan dan kemajuan yang pesat dalam bidang transportasi.
Tiba-tiba manajemen perusahaan Indonesia dipaksa untuk mengikuti “olimpiade” dalam menghasilkan produk dan jasa, dengan mengikuti aturan-aturan tingkat dunia. Keadaan ini memaksa manajemen perusahaan Indonesia untuk mengubah secara radikal prinsip-prinsip manajemen yang selama ini digunakan untuk menghasilkan produk dan jasa bagi masyarakat.
Untuk dapat  bertahan hidup dan bertumbuh dalam lingkungan bisnis yang telah berubah ini, manajemen perusahaan perlu mengubah paradigma manajemen mereka agar sikap dan tindakan mereka dalam menjalankan bisnis menjadi efektif.

Proses Globalisasi Ekonomi
Secara garis besar, globalisasi ekonomi ditandai dengan empat proses berikut ini: mobilitas, keserentakan, pencarian jalan bebas hambatan, dan kemajemukan. Kombinasi keempat proses tersebut mengakibatkan meningkatnya aktivitas lintas batas antarnegara dan pemanfaatan teknologi informasi yang memungkinkan komunikasi informasi ke seluruh dunia hampir secara sekejap.
1.      Mobilitas
Pada waktu teaching hospitals di Boston USA mengalami kekurangan tenaga perawat, secara cepat rumah sakit di sana memenuhi kebutuhan mereka dari ketersediaan tenaga perawat di Irlandia dan Pilipina.
Disamping modal dan angkatan kerja, ide sangat mudah menembus batas-batas antarnegara melalui media global, computer, dan telekomunikasi. Dalam tahun 1994, CNN mencakup penyiaran di 140 negara, dengan jumlah penonton 123 juta rumah tangga. Koran Wall Street Journal, International Herald Tribune, dan US Today melalui teknologi cetak jarak jauh, dapat dinikmati oleh pembacanya di seluruh pelosok dunia pada saat bersamaan. Transfer informasi berkecepatan tinggi (hight speed information transfer) memungkinkan transfer informasi melalui komputer dan telekomunikasi tanpa hambatan oleh kekuasaan pemerintah negara manapun. Mesin fax menjadikan aliran ide antarindividu menembus batas-batas antarnegara.
2.      Keserentakan
Di masa lalu TV hitam putih memerlukan waktu 12 tahun untuk memasuki pasar di Eropa dan Jepang sejak dipasarkan pertama kali di USA. TV warna hanya memerlukan waktu sekitar lima sampai enam tahun untuk memasuki pasar di Jepang, dan sedikit lebih lama untuk memasuki Eropa, setelah TV warna ditemukan di USA. Facimilie hanya memerlukan satu bulan untuk masuk ke pasar Indonesia sejak diperkenalkan di USA. Proses keserentakan menjadi semakin tinggi dalam jaman globalisasi ekonomi ini.
3.      Pencarian jalan bebas hambatan
Monopoli pengiriman surat dan  barang oleh pos di semua negara dipecah oleh bisnis pengiriman barang dan surat seperti Federal Express dan DHL. Monopoli siaran TV oleh pemerintah dipecahkan dengan munculnya siaran TV swasta dan cable TV. Teknologi EFT (Electronic Fund Transfer) memungkinkan transfer dana antarperusahaan menembus batas-batas negara dapat berlangsung tanpa dapat dideteksi oleh bank sentral. Malaysia mempercepat akselerasi pendidikan rakyatnya dengan mengubah undang-undang pendidikannya untuk memungkinkan masuknya pendidikan tinggi luar negeri beroperasi di negara tersebut. Indonesia perlu segera merevisi undang-undang pendidikannya untuk memungkinkan negara-negara maju (seperti Australia) mendirikan pendidikan tinggi di Indonesia. Proses pencarian jalan bebas hambatan menjadi semakin meluas dalam jaman globalisasi ekonomi.
4.      Kemajemukan (pluralisme)
Jaman globalisasi ekonomi ditandai dengan meningkatnya proses kemajemukan, yang menjadikan pusat tidak dapat lagi mampu mengendalikan semua urusan. Jaman ini menjadikan lingkungan bisnis sangat turbulen. Lingkungan bisnis ini menjadikan pemusatan pengambilan keputusan di kantor pusat menjadi tidak efektif lagi. Dengan samakin turbulennya lingkungan bisnis, perusahaan-perusahaan memerlukan kecepatan respon terhadap setiap perubahan yang terjadi. Bahkan desentralisasi wewenang pengambilan keputusan ke manajemen bawah saja tidak cukup untuk menghadapi lingkungan bisnis yang kompleks dan turbulen; perusahaan banyak yang menempuh pemberdayaan karyawan menjadikan karyawan perusahaan memiliki wewenang untuk akses ke pusat informasi dan menggunakannya untuk pengambilan keputusan atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa otorisasi dari manajer atasannya.


Gambaran Perubahan Lingkungan Bisnis di Jaman Globalisasi Ekonomi
Pasar tidak lagi hanya dimasuki oleh pesaing-pesaing domestik, namun telah didatangi oleh pesaing-pesaing mancangeara yang membawa produk dan jasa yang sarat dengan kandungan pengetahuan tingkat dunia.
Globalisasi ekonomi berdampak terhadap 3 C : customer, competition, and change. Perusahaan-perusahaan dipaksa memasuki suatu daerah yang di dalamnya 3 C tersebut mengalami perubahan yang sangat berbeda dengan keadaannya di masa yang lalu.
1.      Customer memegang kendali bisnis
Akibat globalisasi ekonomi, terjadi pergeseran kekuasaan dalam pasar. Keadaan yang sebelumnya produsen yang menentukan produk dan jasa apa yang harus disediakan di pasar, berubah menjadi customer menentukan produk dan jasa yang mereka butuhkan, yang harus dipenuhi oleh produsen.
Customers meminta produk dan jasa yang didesain untuk memenuhi kebutuhan unik dan tertentu mereka. Customers secara individual menuntut agar ia diperlakukan secara individual. Customers menjadi sangat pemilih (choosy). Dengan perubahan karakteristik customer ini, filosofi yang digunakan oleh produsen dalam menghasilkan produk dan jasa berubah dari mass production menjadi mass customization. Filosofi mass customization dipakai untuk memenuhi kebutuhan customer berdasarkan anggapan bahwa pasar pada dasarnya berupa segmented market. Setiap market segment terdapat sekelompok customers yang menuntut untuk diperlakukan secara khusus oleh produsen sesuai dengan kebutuhan khusus mereka.
Teknologi informasi menyediakan shared database yang mudah diakses, yang memungkinkan para produsen produk dan jasa serta pengecer untuk memiliki dan menggunakan informasi mengenai costumer mereka, tidak hanya informasi dan berbagai tuntutan mereka, sehingga keadaan ini meletakkan dasar baru dalam persaingan.
2.      Kompetisi semakin tajam
Globalisasi ekonomi tidak hanya menambah jumlah pesaing di pasar, namun juga menyebabkan bervariasinya persaingan yang terdapat di psar. Produk dan jasa dalam persaingan global bersaing berdasarkan kandungan pengetahuan yang terdapat di dalamnya. Persaingan global diwarnai oleh keadaan yang didalamnya perusahaan yang memiliki kinerja yang baik mendesak keluar perusahaan yang buruk. Teknologi informasi telah mengubah secara dramatis karakteristik persaingan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya oleh banyak perusahaan. Teknologi informasi memperluas hal yang mungkin dilaksanakan oleh perusahaan dalam menjalankan bisnis mereka, sehingga meningkatkan tuntutan customers terhadap perusahaan-perusahaan yang memenuhi kebutuhan mereka.
3.      Perubahan menjadi berubah
Globalisasi ekonomi menyebabkan karakteristik perubahan sangat berbeda dengan sebelumnya. Jika dimasa lalu orang hanya mengenal bahwa yang konstan di dunia ini hanya perubahan, dalam jaman globalisasi ekonomi ini, perubahan telah berubah menjadi konstan, pesat, radikal, serentak, dan pervasif. Perubahan menjadi suatu yang normal terjadi. Globalisasi ekonomi telah mengubah tingkat perubahan yang terjadi dalam bisnis. Tingkat perubahan menjadi meningkat dengan pesat dan serentak. Di samping itu, perubahan yang terjadi mempunyai dampak merembes (pervasif) ke seluruh dunia.


Perubahan Jalan Pikiran Produsen Ke Logika Customer
Namun, mengubah jalan pikiran bukan merupakan hal yang mudah dilakukan, karena orang memiliki kecendrungan untuk functional fixation, mudah menafsirkan sesuatu yang baru dengan konsep lama yang telah dimiliki sebelumnya. Berikut ini disajikan perbedaan jalan pikiran produsen dan logika customers menurut Risabeth Moss Kanter dalam bukunya yang berjudul World Class: Thriving Locally in The Global Economy.
1.      Produsen berpikir bahwa mereka membuat produk. Customers berpikir bahwa mereka membeli jasa.
2.      Produsen menginginkan untuk memaksimumkan kembalian (return) atas sumber daya yang mereka miliki. Custumers mempedulikan tentang apakah sumber daya digunakan oleh produsen untuk memberikan manfaat bagi customer, bukan bagi pemiliknya.
3.      Produsen khawatir tentang kekeliruan yang terlihat. Customer meninggalkan produsen karena kekeliruan yang tidak terlihat.
4.      Produsen berpikir bahwa teknologi mereka menciptakan produk. Customer berpikir bahwa kebutuhan merekalah yang menciptakan produk.
5.      Produsen mengorganisasi kegiatan untuk kenyamanan intern mereka. Customer menginginkan kenyamanan mereka yang diutamakan.
Logika produsen: mereka membuat produk. Logika customer: mereka membeli jasa. Dipandang dari sisi customer, produk yang dihasilkan oleh produsen tidak lebih dari sekedar suatu alat berwujud untuk mendapatkan jasa yang dapat dihasilkanoleh produk tersebut. Suatu produk baru dapat menghasilkan value bagi customer setelah melalui use process (yang secara keseluruhan melalui tahap-tahap lengkap: find, acquire, transport, store, use, dispose of, stop).
Logika produsen: memaksimisasi kembalian (return) atas sumber daya yang mereka miliki. Logika customer: seluruh sumber daya perusahaan digunakan untuk menghasilkan manfaat bagi customer. Produsen menginginkan untuk dapat menjual lebih banyak melampaui kapasitas untuk membuat yang telah mereka miliki. Namun, customer tidak perlu peduli dengan kepemilikan sumberdaya tertentu; mereka menginginkan berbagai sumberdaya terbaik ditarik bersama dari berbagai sumber untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka. Pergeseran logika produsen ini menjadikan perusahaan lebih fleksibel: kepemilikan atas fasilitas tetap menjadi berkurang dan kemitraan dengan perusahaan lain menjadi meningkat untuk memenuhi kebutuhan tertent customer.
Logika produsen: khawatir tentang kekeliruan yang terlihat. Logika customer: mereka meninggalkan produsen karena kekeliruan yang tidak terlihat. Customer menginginkan masalah mereka dapat diselesaikan dan mimpi mereka terpenuhi. Di masa lalu, produsen hanya memfokuskan untuk menghasilkan zero defect dalam pengelolaan kualitas, sehingga dapat menghindarkan diri dari biaya-biaya yang timbul sebagai akibat terjadinya kekeliruan yang dapat terlihat. Di masa kini, produsen lebih mengkhawatirkan terjadinya kekeliruan yang tidak terlihat-kegagalan untuk mengambil resiko. Perusahaan perlu melaksanakan inovasi untuk memenuhi kebutuhan customer tersebut, atau pihak lain yang akan memenuhinya. Di masa kini, bisnis dikelilingi oleh (1) kesempatan yang terselubung-harapan dan impian customer-dan (2) musuh yang tidak terlihat-perusahaan baru di luar negeri atau di luar industri yang memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi harapan dan impian customer tersebut.
Logika produsen: teknologi mereka menciptakan produk. Logika customers: kebutuhan mereka yang menciptakan produk. Produsen yakin bahwa mereka berorientasi ke pasar jika mereka menanyakan kepada customer tentang pendapat customer terhadap produk yang telah ada.
Logika produsen: kegiatan diorganisasi untuk kenyamanan intern mereka. Logika customer: kenyamanan mereka yang perlu diutamakan. Menurut logika produsen, pertimbangan manajerial merupakan yang utama: mengorganisasi fungsi, membuat deskripsi pekerjaan, atau membuat sistem pengendalian. Sebagai contoh, dari sudut produsen, keseragaman dan strandarisasi merupakan hal yang sangat memudahkan pengelolaan. Namun, customer menginginkan keberagaman dan kesesuaian dengan keinginan mereka. Oleh karena itu, dimasa sekarang, produsen yang berorientasi kepada customer mengutamakan kenyamanan customer dalam mendesain sistem informasi manajemen untuk melayani transaksi perubahan dengan customer.