Selasa, 02 Juni 2015

Resensi Novel Ziarah Karangan Iwan Simatupang


RESENSI NOVEL ZIARAH
Resensi Novel Ziarah Karangan Iwan Simatupang


Judul                          : ZIARAH
Pengarang                  : Iwan Simatupang
Penerbit                      : Djambatan
Tahun Terbit             : 2002
Tebal buku                : 142 Halaman
Warna Buku              : Abu-abu dan Hijau Muda

Kepengarangan
(Iwan Simatupang). Dilahirkan di Sobolga 18 Januari 1928, meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Nama lengkapnya Iwan Martua Lokot Dongan Simatupang. Mendapat pendidikan HBS di Medan, sekolah dokter di Surabaya (tidak selesai), lalu belajar antropologi dan filsafat di RIJK – Universiteit Leiden, dan Paris. Dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Sebagai penulis ia sudah memulainya pada tahun 1952 di Majalah Siasat dan Mimbar Indonesia. Terkenal karena 2 novelnya Merahnya Merah (1968) dan Ziarah (1970). Ia juga menulis drama, antara lain Cactus dan Kemerdekaan dan Petang di Taman. Dua novelnya yang lain Kering (1972) dan Kooooong (1975), terbit setelah ia meninggal. Merahnya Merah mendapat hadiah nasional 1970, dan Ziarah dalam terjemahan bahasa Inggris mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977.
Novel ini menceritakan tentang kisah seorang pelukis yang pada awalnya tidak mau menerima kenyataan bahwa istrinya sudah meninggal. Dia sering berperilaku yang aneh-aneh, seperti minum arak kemudian dia meneriakkan nama istrinya keras-keras, tertawa keras-keras. Namun setelah mendapatkankan pekerjaan dari seorang Opseter pekuburan Kotapraja  untuk mengapur tembok pekuburan. Perilaku anehnya berubah, tapi orang-orang di Kotanya menganggap itu tidak wajar sehingga mereka menjadi berperilaku aneh.
Pagi itu dia bangun dengan rasa hari itu dia akan bertemu istrinya di salah satu tikungan, sedang istrinya telah mati entah berapa lama. Begitu malam jatuh, perutnya dituang dengan arak penuh-penuh, memanggil Tuhan keras-keras, untuk pada akhirnya tertawa keras. Tawa yang keras ini menjadi isyarat bagi orang-orang di sekitarnya untuk menuntunnya pulang kesatu kamar kecil, di satu rumah kecil, dipinggir kota kecil. Di atas balai-balai kecil, menghidupi detik-detik selanjutnya dari malam yang tersisa. Sudah tiga hari berturut-turut dia mengapur tembok luar pekuburan Kotapraja itu. Tiga hari pula lamanya sang Opseter terus mengintipnya dari celah-celah pintu dan jendela rumah dinasnya di kompleks pekuburan itu. Menjelang terbenamnya matahari, dia berhenti bekerja, membenahkan alat-alatnya, menagih upahnya, pergi tenang sambil bersiul-siul ke kedai arak.
Kini dia jadi perhatian umum, perbincangan seluruh kota. Perubahan tingkah pengapur ini mempengaruhi tingkah seluruh warga kota. Dalam dirinya berakhir satu kurun lagi. Oleh sebab itulah dia melihat dengan segala kebencian dari tembok ke pasa Opseter pekuburan. Dia mencoba menentangkan satu garis putih di tengah-tengah udara benderang itu. Di sebelah sana, Opseter itu dengan seluruh persoalannya. Disebelah sini, dia dengan persoalannya.
Besoknya pekuburan geger. Opseter didapati mati, menggantung dirinya di rumah dinasnya. Diatas meja di dapati sepotong kertas tulisan almarhum. Demi kelengkapan dan kesempurnaan, pelukis bekas pelukis, bekas pengapur dan yang bakal jadi opseter perkuburan, melambaikan tangannya dari jauh. Matahari tajam melukis langkahnya di atas aspal jalan yang mengambangkan uap pagi. Tiap langkahnya menginjak perkuburan tertentu dari mayat-mayat tertentu di bumi yang bersejarah telah jutaan tahun. Tiap langkahnya adalah dia yang berziarah pada kemanusiaan pada dirinya sendiri.
Tema dari novel ini adalah ketabahan seorang pelukis dalam menghadapi masalah hidupnya. Gaya bahasa yaitu mudah dipahami.
Keunggulannya yaitu ceritanya yang mengharukan membuat pembaca menjadi tertarik.
Kelemahan dari novel ini adalah alur ceritanya yang bolak-balik.
Novel ini boleh di baca oleh remaja, anak-anak. Karena isinya berisi tentang pengalaman hidup seseorang. Dan kita dapat mengambil pelajaran hidup dari ceritanya.