Selasa, 02 Juni 2015

Contoh Proposal Tindakan Kelas Melalui Metode Pembiasaan


MENINGKATKAN KEMAMPUAN DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
PADA MATA PELAJARAN FIQIH MELALUI METODE PEMBIASAAN
DI KELAS VIII MTsS PADANG KANDANG
KAB. PADANG PARIAMAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan faktor utama yang sangat menentukan terhadap keberhasilan pembangunan terutama sekali sumber daya manusia.
Dengan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun pelajaran 2006/2007 pada MAN Koto Tangah Padang diharapkan guru lebih profesional dalam mengelola proses belajar mengajar dan mengembangkan silabus mata pelajaran.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.
Kurikulum yang diberlakukan pada tahun 2006 ini adalah kurikulum yang berbasis kompetensi yang bersifat out come.
Pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi lebih ditekankan kepada siswa sebagai peserta didik, sedangkan guru sebagai fasilitator dan motivator.
Guru yang profesional sebagai penyelenggara pendidikan dituntut kemampuannya untuk mengelola kegiatan belajar mengajar secara lebih baik.
Salah satu mata pelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah Al-Qur’an Hadist.
Adapun tujuan mata pelajaran Al-Qur’an Hadist adalah untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan sebagai berikut :
1.      Mampu mendefenisikan Al-Qur’an dan wahyu, mengetajui kemujizatan, mengenal kedudukan, fungsi dan tujuan Al-Qur’an, cara-cara dan hikmah diturunkannya Al-Qur’an dan mengetahui pokok-pokok isi Al-Qur’an.
2.      Mampu mengenali persamaan, perbedaan hadist, sunnah, khabar dan atsar, unsur-unsur hadist dan kitab-kitab kumpulan hadist.
3.      Memahami kemurnian dan kesempurnaan Al-Qur’an, dan menerapkan prinsip Al-Qur’an sebagai sumber nilai, mengenali nikmat Allah dan mensyukurinya dan memahami ajaran Al-Qur’an tentang pemanfaatan alam.
4.      Memahami ajaran Al-Qur’an dan hadist tentang pola hidup sederhana, pokok-pokok kebajikan dan amar ma’ruf nahi mungkar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
5.      Mampu memahami ajaran Al-Qur’an mengenai dakwah, tanggung jawab manusia, kewajiban berlaku adil dan jujur.
6.      Mampu memahami ajaran Al-Qur’an mengenai etika pergaulan, kerja keras, pembangunan pribadi dan masyarakat dan mengenai ilmu pengetahuan.

Berdasarkan hasil pengamatan selama ini pada MAN Koto Tangah Padang terdapat hasil belajar Al-Qur’an Hadist siswa kurang memuaskan.
Hal ini dapat di lihat pada tabel 1. Nilai rata-rata ujian semester II Kelas X MAN Koto Tangah Padang Tahun 2006/2007.

Tabel 1. Nilai Rata-rata Ujian Semester II Kelas X MAN Koto Tangah Padang
No
Kelas
Rata-rata Ujian Semester II
Jumlah Siswa
1
2
3
X1
X2
X3
58
59
59
35
31
31

Rendahnya nilai rata-rata ujian semester II kelas X tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
  1. Suasana belajar mengajar yang monoton karena guru masih menggunakan metode yang konfensional.
  2. Siswa belum termotivasi untuk belajar.
  3. Belum diberdayakannya seluruh fotensi yang ada pada diri siswa, sehingga belum mencapai kompetensi individual.

B.     Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah masih rendahnya motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran di kelas, dan masih rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa pada waktu ulangan harian dan nilai semester.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah; Bagaimana Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa MAN Koto Tangah Padang.
Masalah motivasi dan hasil belajar siswa diperoleh dengan melakukan tindakan yaitu menggunakan strategi belajar dengan Cooperative Learning Tipe Jigsaw II.

C.    Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan kerangka teoritis yang dikemukakan maka pertanyaan penelitian adalah :
Apakah dengan menggunakan strategi belajar dengan menggunakan Cooperative Learning Tipe Jigsaw II dapat meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa?

D.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas maka tujuan penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apakah dengan strategi pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw II dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadist.
2.      Untuk mengetahui apakah strategi pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw II dan meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadist.

E.     Kegunaan Penelitian / Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka diharapkan hasil penelitian tindakan kelas ini bermanfaat untuk :
1.      Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan Al-Qur’an Hadist.
2.      Salah satu pedoman bagi guru untuk menggunakan strategi mengajar yang efektif.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Proses Pembelajaran
Pencapaian keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh proses pembelajaran.
Proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas tidak terlepas dari tiga komponen antara lain : siswa, guru dan sarana pembelajaran.
Tugas guru dalam proses pembelajaran tidak hanya menyampaikan materi (guru sebagai komunikator), tetapi juga sebagai fasilitator, motivator dan elevator.
Sujana (1998 : 14) mengatakan bahwa : “unsur yang paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah guru, gurulah ujung tombak pendidikan, sebab guru secara langsung berupaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi cerdas, terampil dan beromal”.
Guru harus menguasai teknik-teknik mengajar dalam melakukan proses pembelajaran.
Tugas utama seorang guru adalah mengkoordinir dan melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Untuk mencapai proses pembelajaran yang optimal guru dituntut untuk membangkitkan motivasi siswa terhadap pelajaran yang diberikan.
Untuk itu guru dituntut untuk menemukan strategi yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Seperti yang dikemukakan oleh Imansyah Ali Pande (1998: 71) bahwa : “pada sistem pembelajaran, guru dituntut untuk mencari cara efisien dapat menetapkan metode yang terbaik untuk mencapai tujuan belajar yang diharapkan”.
Merupakan suatu kenyataan, bahwa proses pembelajaran yang dilakukan guru masih menggunakan metode konvensional seperti : ceramah, tanya jawab, diskusi, sehingga proses pembelajaran berjalan secara monoton (satu arah atau dua arah saja, sehingga hasil belajar tidak tercapai secara optimal).

B.     Tinjauan Tentang Motivasi
Guru yang sukses adalah guru yang berhasil menjadikan siswa termotivasi dalam belajar (Elida Prayitno, 1989).
Salah satu masalah yang dihadapi oleh guru adalah bagaimana seorang guru dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Karena salah satu faktor keberhasilan suatu pembelajaran sangat ditentukan oleh adanya motivasi siswa untuk belajar.
Guru harus menyadari bahwa motivasi yang dipunyai siswa ada yang berasal dari dalam (motivasi instrinsik) dan motivasi dari luar (motivasi ekstrinsik).
Motivasi instrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri siswa, misalnya siswa tersebut belajar karena ingin mendapatkan pengetahuan, nilai dan keterampilan, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul karena adanya rangsangan dari luar misalnya siswa ingin belajar, karena ingin mendapatkan nilai bagus, mendapat pujian, sasana belajar menyenangkan.

C.    Tinjauan Tentang Hasil Belajar
Hasil belajar yang didapatkan siswa merupakan suatu bukti bahwa seorang siswa telah belajar. Belajar merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan. Seseorang dikatakan telah belajar apabila terjadi perubahan tingkah laku.
Tingkah laku manusia meliputi aspek pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etika, budi pekerti dan sikap.
Ali Pande (1984) menyatakan bahwa :
“Belajar adalah aktifitas yang menghasilkan perubahan pada diri siswa, baik mengenai tingkat kemampuan intelektual maupun perkembangan jiwa, penghargaan, minat, penyesuaian diri dan segala aspek organismenya”.
Hasil belajar merupakan salah satu tolak ukur atau patokan dalam menentukan keberhasilan siswa dalam memahami dan mengetahui suatu mata pelajaran.
Hasil belajar dapat memberikan informasi kepada lembaga atau siswa tentang kemampuan yang dicapai siswa yang berhubungan dengan materi, keterampilan dan sikap siswa tentang mata pelajaran yang telah dipelajari.
Hasil belajar adalah tingkah laku yang timbul dari yang tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, perubahan dalam sikap dan kebiasaan, menghargai perkembangan sifat sosial, emosional, pertumbuhan jasmani (Oemar Hamalik, 1983: 21).

D.    Strategi Cooperative Learning
Strategi Cooperative Learning adalah strategi pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Slavin (1983) mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.
Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktifitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.
Ada beberapa karakteristik dan model cooperative learning yaitu : Pertama, kelompok merupakan kelompok heterogen yang anggotanya terdiri dari siswa yang berbeda dari segi etnis, agama, budaya, jenis kelamin dan kemampuan intelektual. Kedua, adanya tugas yang bersifat koperatif atau tugas yang menuntut kerjasama dari anggota untuk bisa menyelesaikannya. Karakteristik ketiga adalah, adanya interaksi yang intens antara siswa dalam kelompok, sehingga meraka bisa saling mengerti akan pendapat temannya tentang masalah yang dibahas. Keempat, adalah fungsi dan peranan guru yang hanya sebagai manajer dan fasilitator belajar, sehingga siswa bisa berfikir kritis untuk memecahkan masalah mereka.
Karakteristik kelima, adalah diperlakukannya beberapa keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerjasama (Maria Montessori, 2006: 8).
Keberhasilan belajar menurut model belajar ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan belajar akan semakin baik apabila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok belajar kecil yang terstruktur dengan baik.
Melalui belajar dari teman sebaya dan dibawah bimbingan guru, maka proses penerimaan siswa akan semakin mudah dan cepat terhadap materi yang dipelajari.
Penggunaan model pembelajaran ini secara tepat berpengaruh pada peningkatan motivasi belajar siswa dan hasil belajarnya.
Disamping itu dapat meningkatkan hubungan yang baik antara siswa yang berbeda etnis, agama dan meningkatkan keinginan untuk bekerjasama dengan orang lain, meningkatkan rasa persatuan teman sekelas, memupuk harga diri dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain yang mempunyai perspektif berbeda (Slavin, 1995).
Dalam model Cooperative Learning tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan cooperative seperti: menggunakan kesepakatan, menghargai konstribusi, mengambil giliran dan berbagai tugas, berada dalam kelompok, berada dalam tugas, mendorong partisipasi, mengundang orang lain, menyelesaikan tugas dalam waktunya dan menghormati perbedaan individu.
Hasil penelitian yang dilakukan Weeb (1985) menemukan bahwa dalam pembelajaran dengan model cooperative learning, sikap dan perilaku siswa berkembang kearah suasana demokrasi dalam kelas. Disamping itu, penggunaan kelompok kecil mendorong siswa lebih bergairah dan termotivasi dalam mempelajari IPS.

E.     Strategi Pembelajaran Jigsaw II
Strategi Cooperative Learning Jigsaw II adalah suatu tipe Cooperative Learning yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1977).
Model strategi Cooperative Learning Jigsaw II adalah strategi yang berorientasi pada siswa. Dalam strategi ini siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 6 orang untuk menguasai materi pelajaran dan tugas yang direncanakan.
Fungsi utama guru bukanlah memberi informasi, akan tetapi hanya sebagai fasilitator dalam belajar. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar merupakan kunci utama keberhasilan pelaksanaannya.
Strategi Cooperative Learning Jigsaw II menempatkan siswa dalam kelompok secara cooperative (kerjasama) untuk menguasai pengetahuan dan kemampuan yang sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator yang akan dipelajari.
Siswa ditempatkan dalam kelompok heterogen yang berbeda dari berbagai segi seperti kemampuan akademis, gender, ras, karakteristik sosial maupun etnik.
Kelompok ini disebut kelompok asal (home group), jumlah anggotanya terdiri dari dua sampai enam orang.
Siswa juga bekerja dalam kelompok ahli (expert group) yang merupakan wakil-wakil dari kelompok asal yang mempunyai topik yang  sama.
Kalau ada empat sub topik yang akan dibahas, maka jumlah anggota per kelompok juga empat orang. Ssetiap anggota kelompok yang mempunyai sub topik yang sama akan membentuk kelompok-kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik tersebut.
Setelah kelompok ahli selesai membahas dan mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, maka masing-masing anggota akan kembali kepada kelompok asalnya.
Untuk mengajarkan pada teman sekelompoknya (home group) apa yang telah mereka dapatkan pada diskusi kelompok ahli.
Tanggung jawab kelompok adalah memastikan bahwa setiap anggota dari kelompok asal benar-benar telah menguasai semua materi yang telah diberikan pada semua kelompok asal. Selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa dalam strategi Jigsaw II ini juga dituntut saling ketergantungan positif (saling memberi tahu) terhadap teman sekelompoknya. Pada akhir pembelajaran atau setelah siswa menguasai materi pelajaran dalam satu atau setelah siswa menguasai materi pelajaran dalam satu atau lebih pertemuan, siswa harus mengikuti ujian tertulis yang materinya merupakan hal yang dibahas pada pertemuan tersebut.
Ujian atau tes dilaksanakan secara individu. Setelah diperiksa, maka sistem penilaian yang diterapkan adalah adanya nilai individual dan nilai kelompok.
Nilai atau score setiap siswa dibandingkan dengan nilai mereka masing-masing sebelum dijadikan score awal. Setiap siswa yang mengalami kenaikan score dari score awal akan mendapatkan bonus dengan menggunakan kriteria tertentu.
Jumlah bonus yang diperoleh oleh setiap anggota kelompok dicari rata-ratanya dan menjadi nilai kelompok. Kelompok yang mempunyai nilai rata-rata tertinggi atau baik diumumkan dan diberi penghargaan.
Kelompok tidak akan sukses kecuali setiap anggotanya memberikan kontribusi yang berasal dari kenaikan nilai masing-masing semua anggota kelompok harus bekerjasama agar setiap anggota bisa meningkatkan nilai masing-masing.

F.     Langkah-Langkah Pelaksanaan Jigsaw II
Melaksanakan strategi Jigsaw II berarti terjadinya pengalihan beban kerja dari guru kepada siswa.
Supaya bisa berjalan lancar, maka guru harus mempersiapkan beberapa hal antara lain :
1.      Menentukan tujuan yang akan dicapai, strategi Jigsaw II menghendaki materi pokok yang harus dibahas oleh siswa. Jumlah anggota kelompok tergantung kepada jumlah sub materi pokok.
2.      Menentukan bahan atau sumber belajar seperti buku teks, materi ajar . modul yang relevan dengan topik yang akan dibahas.
3.      Menentukan skor awal siswa (base score) nilai awal siswa bisa didapatkan melalui beberapa cara :
a.       Dengan melakukan pree test dan hasilnya sebagai skor awal.
b.      Mengambil nilai rata-rata ulangan harian siswa sebelumnya, dalam mata pelajaran yang sama.
c.       Menggunakan nilai semester atau nilai tahun sebelumnya, seandainya di awal tahun ajar.
4.      Menempatkan siswa pada kelompok asal (home group yang heterogen) terutama secara akademis dengan cara :
a.       Merangking siswa sampai mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah.
b.      Membagi siswa dalam kelompok sehingga setiap kelompok mempunyai kekuatan yang seimbang, seperti contoh table dibawah   ini :

Tabel 2. Contoh Pembagian Kelompok
Kemampuan
Nama Siswa
Rangking
Kelompok
ATAS

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
MENENGAH

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
J
I
H
G
F
E
D
C
B
A
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
BAWAH

31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
J
I
H
G
F
E
D
C
B
A

5.      Menempatkan siswa dalam kelompok ahli (expert group). Anggota kelompok ahli adalah setiap siswa yang mempunyai materi yang sama tetapi berasal dari kelompok asal (home group) yang berbeda. Penempatan siswa pada topik materi sebaiknya berdasarkan hasil diskusi anggota kelompok asal.
6.      Menyusun tes yang berisi soal-soal yang meliputi semua topik materi yang dibahas oleh semua kelompok ahli.

G.    Tugas Guru Dalam Pelaksanaan Jigsaw II
Walaupun siswa belajar secara aktif dalam Jigsaw II, tetapi guru tetap mempunyai peranan penting terutama dalam :
a.       Memonitor pelaksanaan proses pembelajaran antara lain, mengamati siswa berdiskusi dalam kelompok, mengatur waktu, menjaga suasana kelas tetap kondusif dan memberi bantuan bagi kelompok yang mengalami kesulitan.
b.      Memeriksa hasil tes siswa dan menghitung kenaikan skor siswa dari skor awal.

Tabel 3. Posisi Kelompok Berdasarkan Perolehan Skor
No
Nama Siswa
Skor Awal
Skor Tes
Kenaikan
Posisi Group
1
2
3
4
Andi
Weni
Meta
Dedi
90
90
87
85
94
100
95
89
20
40
20
20
Rata-rata
25
Super
Team

Tabel 4. Kriteria Dalam Penentuan Kenaikan Skor
Skor Tes
Kenaikan
10 angka dibawah skor awal
Antara 10 angka di bawah skor awal atau sama
1-10 angka di atas skor awal lebih 10 angka diatas skor
awal
Sempurna/betul semua
0
0
20
30
40

c.       Menghitung kenaikan skor per group dan tentukan kelompok pemenang
Pada waktu menghitung rata-rata kenaikan skor kelompok, maka kelompok dengan kenaikan rata-rata paling tinggi dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
Rangking I      Super Team
Rangking II     Best Team
Rangking III   Good Team
d.      Berikan penghargaan pada kelompok terbaik, seperti dengan tepuk tangan, ucapan selamat yang ditempelkan di papan tulis.


BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

A.    Jenis, Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah di dalam kelas dengan melaksanakan tindakan atau perlakuan tertentu. Dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang yang sedang melaksanakan Praktek Lapangan sebagai observer (pengamat).
Subjek penelitian adalah siswa MAN Koto Tangah Padang Kelas X. Tempat penelitian adalah pada kelas X3 MAN Koto Tangah Padang, waktu penelitian dilaksanakan pada Semester I tahun pelajaran 2007/2008 pada Bulan November 2007.

B.     Desain Penelitian
Penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus. Tiap siklus terdiri dari empat kegiatan yaitu :
a.       Perencanaan
b.      Tindakan
c.       Observasi
d.      Refleksi
Empat aspek penelitian ini didasar kepada model Kemmis, dkk. (1982)
Rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang tersusun, yaitu mempertimbangkan resiko yang ada dan hendaknya dipilih karena memungkinkan peneliti untuk bertindak secara efektif dalam berbagai keadaan. Tindakan yang dilakukan yaitu tindakan yang disertai niat untuk memperbaiki keadaan.
Tindakan dituntun oleh perencanaan, kegiatan tindakan dengan kegiatan observasi berlangsung sekaligus. Ketika peneliti melakukan kegiatannya pada saat itu dilakukan observasi. Pembatas antara observasi dengan kegiatan tindakan hanya berlaku secara teoritis.

C.    Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus. Prosedur kegiatan penelitian tindakan pada siklus pertama, kedua dan ketiga dapat dilihat pada tabel berikut.


Tabel 5. Prosedur Kegiatan Penelitian Tindakan
No
Kegiatan
Siklus I
Siklus II
Siklus III
1
Perencanaan
a.   Membuat perangkat PBM
·    Silabus
·    Menyusun RPP menggunakan strategi Jigsaw
b.   Mempersiapkan bahan ajar
c.   Membuat lembar observasi untuk siswa dan untuk guru
d.  Menyusun alat evaluasi untuk melihat tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan
Perencanaan pada siklus ke II sama dengan siklus pertama
Ada beberapa hal yang harus diperbaiki pada siklus II ini.
Sama dengan siklus II tetapi ada beberapa perubahan yang perlu diperbaiki
2
Pelaksanaan/ Tindakan
1.   Menggunakan nilai ulangan harian untuk menentukan nilai awal
2.   Membentuk kelompok berdasarkan nilai awal
3.   Memberi nama kelompok
4.   Membuka pelajaran dengan memberi motivasi siswa
5.   Memfasilitasi kerja kelompok
6.   Memberi bahan ajar untuk didiskusikan oleh kelompok ahli
7.   Melaksanakan tes
8.   Menilai tiap siswa dan nilai kelompok
Sama dengan siklus I
Sama dengan siklus II
3
Observasi
1.  Mengamati siswa berdiskusi untuk mengetahui motivasi siswa dengan lembaran observasi yang berisi keterampilan kooperatif
2.  Mencatat kelemahan-kelemahan yang dilakukan siswa dalam diskusi kelompok
Sama dengan siklus I
Sama dengan siklus II
4
Refleksi
a.   Menganalisis aktifitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung yaitu dengan presentasi aktivitas siswa
b.  Menilai hasil belajar siswa
c.   Mencarikan jalan keluar untuk meningkatkan motivasi hasil belajar.
Sama dengan siklus I
Sama dengan siklus II



           
D.    Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1.      Teknik Pengumpulan Data
-          Pengamat (observer) mencatat semua tindakan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
-          Pengamatan dilakukan observer setiap sepuluh menit.
2.      Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan untuk mengetahui motivasi dan kemampuan siswa adalah lembaran observasi yang berupa komponen keterampilan kooperatif. Hasil belajar diperoleh dengan menggunakan tes. Lembaran observasi dapat dilihat pada lampiran.

E.     Teknik Analisa Data
Data yang didapat pada setiap siklus observasi dianalisis dengan menggunakan presentase. Tindakan yang dinilai berdasarkan jumlah siswa yang terlibat dalam aktifitas pembelajaran. Data yang diperoleh melalui tes pada setiap siklus dianalisis dengan melihat rata-rata nilai yang diperoleh dan dinilai menurut penilaian Jigsaw II untuk mengetahui kenaikan skornya.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan :
1.      Pembelajaran dengan menggunakan strategi Kooperative Learning Tipe Jigsaw II dapat meningkatkan aktifitas dan motivasi belajar siswa.
Siswa berani mengeluarkan pendapat, aktif dalam berdiskusi dan aktif belajar kelompok. Siswa belajar dengan cara memakai buku, berdiskusi, belajar kelompok, mencari dan menemukan sendiri, siswa belajar bertanggung jawab, sehingga menimbulkan kepercayaan pada diri sendiri. Dengan strategi Jigsaw dapat meningkatkan keinginan siswa untuk mendapatkan prestasi/nilai yang lebih baik dan menggunakan waktu sebaik mungkin.
2.      Walaupun peningkatan hasil belajar belum mencapai tingkat ketuntasan maksimal (85% siswa mendapat nilai 65) tetapi bila dibandingkan dengan metode konvensional, maka strategi Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar.

B.     Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut :
  1. Setiap guru dianjurkan untuk memberikan motivasi belajar kepada siswa, diantaranya dengan melaksanakan strategi pembelajaran yang bervariasi, tidak hanya melalui ceramah saja.
  2. Penggunaan strategi Kooperatif Learning Tipe Jigsaw II dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, menimbulkan rasa tanggung jawab, menghargai kelompok, percaya diri, serta dapat mengurangi aktifitas negatif siswa seperti ngobrol dengan teman, sering keluar pada jam pelajaran. Oleh karena itu guru mata pelajaran lain dapat menerapkan strategi ini dalam pembelajaran.
  3. Dalam penilaian, guru hendaknya memberikan suatu penghargaan kepada siswa yang mendapat nilai terbaik berupa reward atau penghargaan lainnya, karena hal ini dapat memotivasi siswa lainnya untuk bersaing dengan temannya.



DAFTAR PUSTAKA


-         Prayitno, Elida. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta : Depdikbud, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi P2LPTK.

-         Slavin, Robert. 1995. Cooperative Learning, Theory Research and Practice. Boston : Allyn and Bacon.

-         …………… 1983. Cooperative Learning. Maryland : John Hopkins University.

-         Solihatin, Etin, Dra. H, MPd. Cooperative Learning. Jakarta : Bumi Aksara.

-         Sudjana, Nana. 1989. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru.