Cerpen Tangisan Malam Karya Noval Oktrizardi


Cerpen Tangisan Malam Karya Noval Oktrizardi


Mentari telah membenamkan dirinya, pijar senja terlihat merubah langit biru menjadi hitam. Hembusan angin malam terasa menusuk-nusuk kulit ku. Aku pun terbuaikan alam mimpi, mimpi yang indah. Tersentak serta terbangun aku dari tidurku, mataku sungguh sangat berat, bulu-bulu mataku bakbesi yang tertancap di pelipis mataku. Sekali aku terpejam, sekali pun aku terjaga dan begitu terus sampai aku mendengar tangisan yang memekikkan telingaku. Kulihat jam masih menunjukkan 12.00 malam, tangis itu terdengar semakin jelas di telingaku. Tak kuat aku menahan rasa takut itu, bulu roma ku yang dibuatnya merinding, serta hatiku terus berkata “suara siapa itu, siapa yang menangis malam-malam seperti ini”. Otak ku pun berfikirnya semakin mengembang menakutkan hatiku, aku terus memungkiri suara tangis itu. Semakin suara itu aku upayakan untuk menghilangkannya, semakin jelas suara itu membayang-bayang ditelingaku. Suara itu aku hilangkan dan terus berusaha aku hilangkan, kaki tangan semua anggota badanku terasa membeku. Sekejap fikiran ku mulai tenang suara tangis itu berhenti menggema gubuk bambuku ini.

Mataku pun kembali terpejam setelah suara tangis itu mengguncang indra pendengar ku menghilang lenyap tengah malam. Aku tenang dalam mimpi indahku yang teralas dipan bambu.

Mentari itu kembali muncul menyiram terang mataku dari kegalauan malam yang ku alami. Ku lupakan semuanya ku hilangkan rasa takut itu tangisan malam yang mengelitik seluruh tubuh. Aku singsingkanlengan baju ini, membantu ibuku menjajakan kue serta pangan lain di warung kami yang kecil ini. Berbagai macam gorengan ibu jual serta pangan-pangan lain ibu jual untuk menghidupi serta menyekolahkan aku beserta adik-adikku. Seusai membantu ibu menjajakan pangannya, aku pun bersiap-siap berangkat ke sekolah, untuk menuntut ilmu agar keluarga ku kelak akan bahagia.

Sekarang aku yang duduk di kelas XII SMA, terus dan terus giat belajar, mengingat perjuanga ibuku yang banting tulang sendirian menghidupi 3 anaknya sepeninggalan ayahku. Gempa disertai tsunami itu telah meluluh lantakkan keluargaku, menghapus segala kebahagiaan, dan hanya meninggalkan duka yang mendalam. Bertahun kami pun melupakannya, membangun puing-puing sejak meninggalnya ayah setelah berusaha menyelamatkan keluarganya dari ancaman keganasan gempa dan air laut yang meluap, walau ia tidak sempat menyelamatkan dirinya sendiri. Memang sakit dan tetesan air mata selalu jatuh kalau semua itu teringat, melupakan dan mengikhlaskannya adalah lebih baik dari mengingat-ingat semuanya itu. Melupakan semua kejadian itu aku pun berusaha membayar balas budi orang tua ku itu dengan cara membuat mereka bangga dengan menorehkan segudang prestasi, belajar serius dan hal yang paling aku inginkan untuk menghajikan ibuku sebelum ia menyusul ayahku ke alam baka. Budi itulah nama yang singkat tapi penuh makna yang mendalam nama pemberian orang tuaku. Aku sendiri mengartikan nama itu dengan andai aku besar nanti aku akan membalas semua jerih payah orang tuaku yang ia berikan padaku. Mengingat semasa hidupnya ayah yang hanya seorang petani, demi keluarganya ia bercucuran keringat, pundaknya membungkuk membebani semua ekonomi keluargaku.

* * * *

Bel sekolah tanda masuk berbunyi, semua teman-teman dan juga aku masuk ke dalam kelas, membuka pelajaran yang akan diajarkan oleh guru bidang studi yang bersangkutan. Hari ini pelajaran yang paling aku sukai Bahasa Indonesia, terutama membuat dan membacakan puisi di depan kelas. Guruku menyuruh membuka buku hal 67, yang mana pelajaran itu adalah pelajaran yang aku sukai yaitu puisi. Pengarahan dan pengajaran puisi cepat aku tanggap seketika, ketika guru menginstruksikan membuat puisi dan membacakannya di depan kelas aku acungkan tanganku.

“Saya, Buk…..!”

“Ya, Budi silahkan maju dan membacakan puisimu itu”

Aku pun melangkah ke depan kelas, ku bayangkan sebuah podium dan panggung yang megah, tempat aku membacakan puisi ini serta disaksikan oleh orang-orang penting dan pejabat-pejabat negara. Aku menarik nafas, membusungkan dada dan mulai membacakan puisi karya ku itu, tatapan mata yang menyampaikan makna dari puisi itu ke pada seluruh teman-temanku.

AYAH
Karya : Budi

Pundakmu menghitam dan membungkuk
Kuku-kuku kakimu berlumut dan dekil
Kau teteskan keringat darahmu hanya….
Untuk ku…..
Untuk ibu…. Dan adik….adikku
Ayah…..
Bahkan kau korbankan nyawa
Hanya untuk menyelamatkan kami
Dari kemurkaan bumi dan laut
Ayah….kudo’akan engkau disini


Tepuk tangan dari semua teman-teman yang merespon kesedihanku, memberikan semangat buat ku, karena tepukkan tangan itu sungguh sangat berarti bukan untuk ku tapi untuk ayah yang selalu menemaniku. Aku kembali duduk disertai tepuk tangan yang seakan tak pernah henti, seingat pesan ibu aku pun merendahkan hatiku agar aku tidak menjadi sombong dan tinggi hati atas semua itu, karena itu adalah jurang kehancuran.

Pelajaranku semua sudah usai, tepat jam dua siang aku pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku melihat jajaran goreng yang masih banyak bertumpukkan di warung kecil ibu, aku pun segera mengganti seragam sekolahku. Ku ambil sebuah dulang (tempat saji) serta lembaran koran bekas dan beberapa kantong plastik. Aku pun memasukkan semua gorengan yang masih panas ke dalam dulang yang aku siapkan. Berbagai gorengan aku masukkan, dan aku jual keliing perumahan yang ditempati orang-orang kaya. “Goreng…. Goreng…. Goreng….” Ku teriakkan sambil ku putar kepala ku kiri dan kanan. Tapak kaki ku mulai dibasahi keringat, hampir sebagian baju basah. Tidak satupun gorengan yang aku jajakan terjual bahkan satu pun tak terjual. Otakku kembli berfikir serta mengejek diriku sendiri.

“Aku memang bodoh, inikan perumahan orang kaya semua siapa yang ingin membeli, mana mungkin orang-orang kaya makan-makanan kampung seperti ini jangankan memakannya melihatnya pun mereka sudah alergi”.

Dengan keputus asaan aku meninggalkan perumahan itu dan berniat menjualnya ke tempat lain, teriakku semakin melambat langkahku seperti orang yang gagal dalam hidup. Satu langkah lagi aku keluar dari gerbang perumahan itu, aku tetap tertunduk lesu dan suaraku semakin menghilang meneriakkan “Goreng” dan sampai tak terdengar lagi.

“Nak….nak…. goreng….goreng….” teriakkan itu membuatku berhenti tapi tak ku hiraukan, aku fikir itu hanya hayalan ku yang sedang putus asa. Sampai terdengar untuk kedua kalinya aku berhenti dan membalikkan tubuh ku yang membelakangi perumahan itu. Terlihat seorang ibu-ibu berpakaian rapi dan anggun layaknya seorang pejabat negara, melambaikan tangannya dan serta memanggil-manggilku. Aku pun menghampirinya dengan wajah yang senang dan gembira.

“Gorengnya buk!”

“Berapa harganya satu nak”

“Seribu saja kok buk, gak mahal-mahal”

“Oh….kalau begitu kamu masuk saja ke rumah, ibu beli semuanya”

Wajahku berseri-seri setelah mendengar kata-kata itu, ia pun memanggil pembantunya untuk membawa gorengan yang dia beli ke dalam rumahnya. Ibu itu kembali menyuruh ku untuk masuk ke rumahnya, dengan sopan santun menolak tawaran ibu itu melihat kondisiku tap sepantasnya masuk ke rumah itu. Aku pun berusaha menjawabnya agar aku tetap menunggu di luar rumahnya, walaupun begitu ibu tersebut bersikeras membujuk aku untuk masuk ke rumahnya itu. Tanpa mengurangi rasa hormat aku pun melangkahkan kakiku untuk pertama kalinya menginjak sebuah rumah yang bagaikan istana itu. Setelah aku masuk ke dalamnya semua tampak begitu mewah dan berkilau. Pajangan-pajangan keramik yang harganya mungkin dapat membeli gubuk dan warung kecil yang ku tempati. Ibu itu pun menyuruh aku duduk di sofa yang besarnya hampr sama dengan dipan (tempat tidur) di rumahku. Tapi saat mendudukinya sangatlah nyaman dan empuk, bahkan serasa duduk di atas awan tak sama seperti kursiku ataupun kasur ku di rumah seperti kita berada di atas batu. Itu semua hanya sebuah perbandingan aku pun tambah merasa bersyukur kepada Tuhan, karena itu akan ia berikan nanti pada keluargaku. Ibu itu pun pergi meninggalkan aku sendirian tanpa ada kecurigaan sedikitpun tergambar di wajahnya seperti yang aku bayangkan selama ini tentang orang kaya. Ibu itu pun menjernihkan pikiranku tentang orang-orang kaya. Terlintas do’a dan niat dalam fikiranku bahwa aku kaya dan sukses nanti aku akan seperti ibu ini yang ramah kepada semua orang tanpa batas antara si kaya dan si miskin.

Ibu itupun kembali menghampiriku yang sedang duduk menghayal-hayal dan berandai-andai. Dia berjalan dengan anggun membawa dulang gorengan ku dan memberikan aku uang. Setelah melihat uang yang ibu itu kasih aku terkejut padahal goreng yang aku bawa hanya 50 buah, jika dikalikan 1000 rupiah, harganya 50.000 rupiah tapi uang yang ia kasih melebihi uang yang seharusnya ia bayar aku pun kaget, tanpa berkata aku lihatkan uang itu padanya. Seakan mengerti maksudku ibu itu berkata “Ambillah uang itu lebihnya untuk jajan kamu, supaya kamu sukses nanti kamu bisa mengasih orang yang tidak mampu lebih dari itu”. Seakan dia membaca pikiranku dan memberi pelajaran yang akan selalu ku ingat nantinya. Aku pun melangkah pulang setelah berpamitan pada ibu itu, baru dua tiga langkah aku berjalan ibu itu memanggilku kembali. Pikiranku menjadi kacau seakan-akan dia berubah pikiran, aku membalikkan badan.

“Iya buk ada apa” dengan pelannya.

“Ndak, ibuk cuman nanya nama kamu siapa, dan kamu tinggalnya dimana”

“Nama aku Budi buk, aku tinggal di kampung samping perumahan ini buk, yang ada warung goreng kecil di depannya”.

“Mm…kapan-kapan ibu akan makan goreng disana yah”

“Baik buk, saya tunggu kedatangannya”

Aku pun kembali berpamitan kepada ibu itu, dengan hatinya gembira aku pergi meninggalkan rumah yang bersahaja itu. Aku melenggang riang pulang ke rumah, membawa hasil yang banyak bagiku. Kuceritakan kejadian itu semua kepada ibu dan memberikan semua uang yang diberikan ibu tadi kepada ibuku. Tapi ibu mengembalikannya kepadaku, agar aku menabungnya semua untuk menambah biaya sekolahku. Dengan hati yang agak berat aku pun menerimanya, dan menyimpannya ke dalam tabunganku.

* * * *

Malam yang sunyi di dalam sebuah gubuk diterangi oleh seberkas cahaya dari lentera yang tertancap di dinding. Aku terduduk diam menatap kegelapan di depan barak gubukku, nyanyian jangkrik menjadi hiburan, sorot cahaya kunang-kunang sebagai lampu yang berkelap-kelip, serta angin yang menusuk-nusuk kulitku. Sebotol minuman ku genggam bagaikan di restoran mahal, menghayal akan indahnya duniawi yang tak pernah aku rasakan. Mata ku sudah sempoyongan, nyamuk-nyamuk balapan di depan wajahku, aku pun pergi tidur memimpikan keindahan.

“Tak…tik….tak…tik…” detak detik jarum jam ku selalu terasa bising di telingaku, badanku bagaikan udang goreng. Kedinginan, kegelisahan serta suara tangis itu terdengar lagi, untuk kedua kalinya aku terjadi di tengah malam, dan kembali mendengarnya. Siapa yang tidak takut malam-malam mendengar suara tangisan malam hari. Bulu kudukku kembali berdiri seperti kemaren, kaki ku terasa bagaikan di atas baja, detak jantungku seakan bergenti, dan aku pun ingin tuli supaya tangisan itu hilang dari pendengaranku.

Aku pejamkan mata, dan ku tutup telingaku dengan bantal yang menopang kepalaku selama aku tertidur. Beberapa menit aku melakukannya sontak sama dengan kemarin, suara itu lenyap tiba-tiba, hanya tinggal nyanyian jangkrik terbawa angin.

Pagi-pagi buta aku terbangun dari tidur, melakukan semua aktivitas sehari-hariku. Dan kembali berangkat sekolah. Sepulang sekolah aku melewati perumahan ibu Darti yang membeli gorengan aku kemarin, hanya bermaksud lewat dan menandakan rumah yang akan aku hadiahkan ke ibu saat aku sukses nanti, tapi Ibu Darti memanggilku dari rumahnya.

Ibu Darti itu pun memberikan sejumlah uang kepada ku uang itu sangatlah banyak bagiku, tapi akupun tidak menerimanya karena atas dasar apa dia memberi ku uang itu. Aku pun dipaksa untuk menerimanya, dan dia bilang untuk tabunganku dan uang jajan. Aku pun kembali menolaknya, dan ibu itu menyuruh menyapu taman serta mencuci mobilnya. Dan aku pun dengan senang hati melakukannya. Seusai melakukan semuanya aku pun berpamitan dengan Ibu Darti selain dia memberi ku uang, ia pun memberikan bingkisan kepadaku untuk ku bawa pulang.

Sesampainya di rumah hari sudah menunjukkan pukul 6 sore, aku yang membawa bingkisan dari Bu Darti yang ternyata berisi makanan enak dan lezat yang selama ini tidak pernah aku makan bahkan melihatnya. Kami sekeluarga memakannya dengan lahap setelah aku menceritakan asal muasal dari mana datangnya makanan yang aku bawa ini.

* * * *

Perut kami sekeluarga telah kenyang, makanan yang jarang kami makan itu kami habiskan semuanya. Malam telah larut aku beserta ibu dan adikku telah terlelap tidur. Mataku sayup-sayup terbuka, rasa kantuk masih ada dan beratnya bulu mataku membuat mataku tertutup. Sekejap aku terlelap, mataku kembali melotot memandangi langit-langit gubukku setelah tangis itu terdengar lagi. Aku yang kehabisan akal untuk melenyapkan suara tangis itu. Aku pun terduduk dari dipan, dengan gemetaran kaki ku berdiri dan melangkah tertunduk-tunduk. Aku terus dan terus mendekati suara tangis itu mencari sumbernya, aku pun terhenti disebuah pintu yang hampir habis termakan usia. Aku tersandar di pintu itu menatap tangisan ibuku sedang berdo’a. (*)


----- Selesai -----

0 Response to "Cerpen Tangisan Malam Karya Noval Oktrizardi"

Posting Komentar