Masalah Perkembangan Anak Menurut Pandangan Islam



A.    Perhatian Islam Terhadap Perkembangan Anak
1.      Akhlak Sosial
Manusia adalah makhluk sosial, dimana Allah menciptakan manusia agar melakukan interaksi sosial. Dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, dianjurkan kepada kita untuk menampilkan akhlak sosial yang baik. Rasulullah menyuruh kita untuk memperhatikan temannya, berteman dengan teman yang baik, dan menjauhi teman yang berperangai buruk. Akhlak sosial yang baik diantaranya : menyingkirkan benda yang mengganggu orang di jalan, lemah lembut, berkasih sayang, murah hati, tidak kasar, tidak mencaci maki dan selalu riang gembira. Dengan berakhlak sosial, maka anak akan diterima oleh lingkungannya dengan baik. Namun terkadang akhlak sosial ini tidak tumbuh pada diri seorang anak karena beberapa sebab serta faktor yang tidak mendukung

B.     Penghambat Perkembangan Sosial Anak
Perkembangan sosial adalah tahapan perilaku sosial anak mengikuti kematangan sosial dan interaksinya dengan lingkungan. Beberapa wujud perkembangan sosial tercermin pada perilaku anak terhadap teman-teman. Apabila perilaku sosial tidak memenuhi harapan sosial, maka akan membahayakan bagi penerimaan sosial oleh kelompoknya. Semakin jauh anak berada di bawah harapan sosial akan semakin merugikan penyesuaian pribadi dan sosial serta semakin jelek konsep diri seorang anak.
Beberapa penghambat perkembangan sosial :
  1. Adanya keterlantaran sosial terhadap anak. Ketelantaran sosial ini berarti hilangnya kesempatan untuk berhubungan dengan orang lain, sehingga menimbulkan keterlantaran dalam kesempatan belajar menjadi pribadi sosial.
Keterlantaranini disebabkan oleh kurangnya waktu orang tua merawat bayi dan anaknya hingga kekurangan rangsangan yang memotivasinya untuk menjadi bagian dari kelompok sosial atau keluarga.
  1. Meningkat dan berkurangnya partisipasi sosial secara berlebihan. Kurangnya hubungan sosial akan berbahaya bagi sosialisasi dan jika sebaliknya, akan menyulitkan anak untuk mengembangkan dirinya sebagai individu.
  2. Adanya ketergantungan yang berlebihan terhadap orang tua. Anak juga memerlukan orang lain selain orang tuanya, apabila ketergantungan terhadap orang tua harus berlanjut maka akan membahayakan bagi penyesuaian sosial dan pribadi. Anak akan merasa lebih rendah dari teman sebagai yang sudah mandiri.
  3. Anak yang melakukan penyesuaian secara berlebihan cepat atau lambat semua anak akan mengetahui bahwa kelompok sosial menilai, dan kemudian menerima mereka atas dasar kesediaannya memenuhi harapan sosial. Jika lingkungannya baik maka tuntutannya tentu baik, jika buruk maka tuntutannya pun hal-hal yang buruk. Penyesuaian berlebihan yang dilakukan anak terhadap lingkungannya mengakibatkan hilangnya individualitas, anakpun tidak memiliki pandangan yang baik bagi dirinya sendiri dan cenderung tidak memiliki prinsip hidup.
  4. Anak yang tidak mampu menyesuaikan diri. Ketidakmampuan menyesuaikan diri ini sama bahayanya dengan anak yang menyesuaikan diri secara berlebihan. Anak akan terbuang dari hubungan sosial akibatnya mereka akan terlantar dalam hal kepuasan menjadi anggota suatu kelompok, dan mereka juga tidak dapat memperoleh pengalaman yang hanya didapat dari keanggotaan dalam kelompok. Dua penyebab dari kasus ini adalah tidak punya motivasi untuk menyesuaikan diri, dan kuang pengetahuan tentang harapan kelompoknya atau cara untuk memenuhi harapan dalam suatu kelompok.
  5. Munculnya prasangka terhadap perilaku orang lain. Bahaya bagi anak yang berprasangka dan begitu juga bagi korbannya. Seiring anak menjadi kejam, tidak toleran, kaku, dingin dan ingin membalas dendam. Sedangkan bagi meraka yang menjadi korban merasa bahwa lingkungannya memusuhinya, sehingga anak menarik diri, menjadi agresif, dan menunjukkan reaksi pertahanan yang berlebihan. Sebagian lainnya menjadi pengacau atau anak nakal terhadap lingkungan sekitarnya.
-          Luqman berkata “Wahai putraku, jauhilah olehmu teman yang buruk (jahat). Karena teman jahat itu ibarat pedang yang terhunus. Bentuknya membuatmu kagum, namun bekas (luka yang disebabkan)nya sangatlah buruk”.
-          Teman yang buruk (berakhlak jahat) itu bagaikan penyakit yang menular maka jauhilah.
-          Berteman dengan orang baik itu, seperti berteman dengan penjual minyak wangi, meskipun kamu tidak membelinya namun kamu rasakan wanginya. Sedangkan berteman dengan pandai besi walaupun kamu tidak ikut membuatnya namun kamu rasakan juga panas apinya.

C.    Masalah Perkembangan Sosial
  1. Agresif
Islam menyuruh pengikutnya untuk senantiasa memperbaiki budi pekertinya, dan dilarang untuk berbuat tidak baik seperti agresif dengan mengancam, menyerang secara verbal dan fisik.
Agresif seringkali muncul pada masa kanak-kanak, yang berupa tingkah laku menyerang baik secara fisik ataupun verbal. Bahkan berupa ancaman yang disebabkan karena adanya rasa permusuhan dalam diri anak.
Sebagian besar prilaku mengancam dan menyerang pada anak didefenisikan sebagai agresif. Bagi sebagian orang tua, anak berebut mainan hingga sampai pada perkelahian dianggap hal yang biasa. Bahkan terkadang dianggap sebagai sebuah persaingan yang sehat. Bagi anak yang belum berusia empat tahun yang normal dan sehat secara emosional, akan mengalami beberapa serangan seperti : menggigit, memukul, menendang, melempar benda-benda dan berteriak. Semua ini adalah cara insting mengekspresikan rasa tidak senang atau menginginkan sesuatu.
Serangan adalah sebuah masalah, seperti mengancam rasa aman anak lain. Karena tujuannya adalah merusak di saat ia gagal memenuhi keinginannya.
a.       Penyebab Agresif
1)      Agresif sebagai reaksi emosi terhadap frustasi seperti dilarang melakukan sesuatu.
2)      Agresif anak diperlakukan secara tertentu oleh orang tuanya, sehingga tingkah agresif mengalami peningkatan dan pengurangan. Hal ini dapat terjadi karena diantara keluarga ada yang menghargai tindakan agresif dan anak mendapat kekuatan dan pembelaan dari respon keluarganya.
3)      Agresif anak adalah hasil dari mencontoh tingkah laku orang tuanya atau tindakan lingkungan dimana dia tinggal. Karena orang tua dan lingkungan juga merupakan model yang paling efektif bagi perkembangan jiwa seorang anak.

b.      Bentuk-Bentuk Agresif
1)      Letupan kejengkelan
2)      Marah secara hebat
3)      Menyerang dengan fisik
4)      Mengancam
5)      Tempertantrum / ledakan marah
6)      Merusak

c.       Ciri – Ciri Agresif
1)      Usia dua tahun anak meredakan kemarahan dengan cara memukul.
2)      Usia empat tahun anak lebih senang bertengkar mulut.
3)      Usia tujuh tahun, kontrol agresif pada anak meningkat.
4)      Usia delapan-sembilan tahun, anak sudah bisa mengontrol agresifnya meskipun suatu waktu masih terjadi.
5)      Jika usia diatas sembilan tahun masih agresif maka perlu penanganan segera oleh para ahli.

d.      Cara Mencegah Agresif
1)      Sebagai orang tua harus bersikap tegas, agresif sering kali disebabkan oleh kurangnya disiplin dari kedua orang tua di rumah. Sebagai contoh memberikan kepada anak apa yang mereka inginkan manakala anak menangis. Karena merasa kasihan padahal kita tahu bahwa permintaannya tersebut kurang bermanfaat. Dan ini dilakukan anak sejak mereka masih bayi, dimana ketika bayi menginginkan sesuatu maka menangislah ia. Sikap ini terkadang terbawa sampai besar.
2)      Terima kehadiran anak apa adanya, orang tua yang menolak kehadiaran anak, tidak hanya gagal memberikan afeksi tapi juga cenderung melakukan hukuman fisik yang keras. Ada sebagian orang yang membedakan anak laki-laki dengan anak perempuannya. Apabila dianugrahi Allah anak perempuan maka ia tidak suka, ini termasuk kebiasaan orang Jahiliyah.
3)      Membatasi tontonan yang memperlihatkan kekerasan. Acara televisi yang mempertontonkan kekerasan merupakan sarana belajar tingkah laku agresif yang efektif. Oleh karena itu orang tua harus mendampingi anak-anak menonton televisi meskipun itu film anak-anak. Karena sekarang sinetron dan film untuk anak pun tidak lepas dari kekerasan, kekejaman saling menghina dan terkadang juga pornografi. Hal ini bisa dilakukan jika orang tua di rumah bersama-sama anak, disamping itu juga biasakan anak meminta izin setiap mereka mau menonton. Jangan biarkan mereka menghidupkan televisi sendiri dan memilih siaran sendiri tanpa diketahui oleh orang tua.
4)      Meningkatkan rasa bahagia  didalam keluarga. Orang yang bahagia cenderung bersikap baik pada dirinya dan orang lain. Bahagia bukan hanya didapat dari berlimpahnya harta, bahagia bisa dirasakan jika ada rasa syukur dengan ada yang ada pada dirinya, dan tidak iri dengan reski orang lain.
5)      Orang tua dan anggota keluarga lainnya, tidak bertengkar di depan anak. Sebab ini menjadi contoh yang sangat buruk dan menyakitkan bagi seorang anak. Anak bingung siapa diantara kedua orang tuanya yang harus di bela.
6)      Mengajak anak bergerak dan beraktivitas seperti berolahraga dan hingga terjadi pelepasan energi. Ini dapat dilakukan diluar rumah dengan memberikan kebebasan bermain pada anak dibawah pengawasan orang tua.
7)      Meningkatkan keterlibatan orang tua, anak yang masih kecil butuh keterlibatan orang dewasa dalam aktivitasnya. Perhatian orang tua membuat anak merasa tenang dan aman.

e.       Cara Mengatasi Agresif
1)      Berikan reward atau ganjaran untuk tingkah laku yang diharapkan. Tatkala kita membalas prilaku yang baik dari anak, dengan mengimbanginya dengan kebaikan dan penerimaan berarti kita telah menebarkan rasa percaya diri anak.
2)      Lingkungan yang terdiri dari orang tua, keluarga atau teman, sebaiknya tidak memperdulikan tingkah laku agresif agar anak mengerti bahwa jika ia melakukan tingkah tersebut, ia tidak akan mendapatkan perhatian.
3)      Mengajar tingkah laku dan keterampilan sosial pada anak, mereka melakukan tingkah laku agresif karena kurang memahami keterampilan sosial,  untuk itu orang tua perlu melatih anak untuk mengatakan apa yang ia inginkan dan ia kehendaki. Serta memikirkan secara jelas segala resiko yang didapat saat ia melakukan sesuatu.
4)      Pada saat yang tepat, beri anak alternatif untuk meredakan kemarahannya, seperti beri kesempatan untuk bermain, menggambar bebas, atau bercerita dan orang tua sebagai pendengar aktifnya.
5)      Menetapkan aturan yang jelas. Orang tua harus tegas ketika anak melakukan aksinya, baik dari nada bicara ketika menegur kesalahan anak, atau ekspresi yang menunjukkan bahwa kedua orang tuanya tidak setuju dan tidak senang dengan prilaku yang tidak baik.
6)      Mencari sumber agresifitas
Beberapa anak berlaku agresif karena kebutuhan akan kasih sayang yang tidak terpenuhi. Karena itu orang tua seharusnya senantiasa menjaga hubungan yang harmonis dengan anak-anaknya.

  1. Berbohong
Berbohong adalah merupakan satu hal yang dilarang oleh agama. Tidak seorangpun yang senang bila ia dibohongi. Mengatakan sesuatu yang tidak benar dan berdusta merupakan tindakan yang tidak diterima oleh lingkungan sosial. Islam menyuruh kita menghindari tingkah laku bohong. Karena sifat ini akan merugikan diri sendiri dan orang lain.
Berbohong adalah sikap sengaja mengatakan sesuatu yang tidak benar dengan tujuan memperoleh keuntungan. Seringkali orang tua yang menjadi pihak pihak pertama yang memberikan contoh sehingga anak belajar berbohong. Jika orang tua memberikan alasan dan mengucapkan bohong untuk menghindari sesuatu kegiatan didepan anak, berarti orang tua secar tidak memberikan contoh yang buruk pada anak.
Anak berbohong untuk menghindari hukuman dari tingkah lakunya yang tidak benar. Contoh, jika anak tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sekolah, dengan mudah ia berkata bahwa guru tidak memberinya tugas. Semakin keras dan sering orang tua memberi hukuman, maka semakin sering pula anak berbohong untuk menghindari hukuman dari orang tua.
a.       Penyebab Berbohong
1)      Anak berbohong untuk melindungi dirinya. Misalnya dari hukuman orang tua.
2)      Anak menolak kenyataan yang ada di sekitarnya, untuk mengatasi ingatan dan perasaan yang menyakitkannya.
Contoh : Disekolah ia mendapat hukuman dari guru, namun anak menceritakan bahwa ia diberi hadiah oleh guru.
3)       Anak membutuhkan perhatian dari orang tuanya atau lingkungan. Dengan berbohong, anak berharap mendapatkan perhatian.
4)      Anak belum dapat membedakan antara kenyataan dan fantasi ini bisa muncul pada anak kecil.
5)      Anak berbohong karena ingin melindungi temannya dari serangan atau kritikan.
6)      Anak punya rasa benci kepada orang lain.
7)      Anak ingin mendapatkan sesuatu dari lingkungannya tetap tidak boleh, sehingga anak berbohong.
8)      Anak yang mempunyai citra diri negatif. Anak yang merasa dirinya tidak berarti, bohong adalah cara dia mengangkat harga dirinya.
9)      Anak yang tidak dipercaya orang tuanya.
10)  Anak mendapatkan contoh yang salah dari lingkungannya sehingga membenarkan tingkah laku bohong.

b.      Cara Mencegah Bohong
1)      Orang tua seharusnya tidak memojokkan anak dengan pertanyaan yang bernada menuduh, karena setiap anak butuh kepercayaan.
2)      Orang tua harus mendiskusikan tentang masalah-masalah moral yang baik dan moral yang buruk, agar anak bisa menilai sendiri prilakunya.
3)      Orang tua sebaiknya menghindari pemberian hukuman yang keras, dan berlebihan, tidak seimbang dengan kesalahan yang anak lakukan. Pemberian hukuman yang tidak proporsional membuat anak mencari cara selamat dengan berbohong agar terhindar dari hukuman.
4)      Orang tua memberikan contoh yang baik dan lebih mawas diri terhadap kecendrungan yang biasa dilakukan, seperti melebih-lebihkan cerita, ingkar janji, tidak mengakui kesalahan dan menyuruh anak berbohong seperti mengatakan pada tamu bahwa ayah ibu tidak di rumah pada hal sedang berada di rumah.

c.       Cara Mengatasi Berbohong
1)      Anak diberi hukuman sebagai pengalaman bahwa berbohong justru merugikan. Orang tua juga harus menanamkan pentingnya nilai kejujuran dengan menunjukkan bahwa bila ia berterus terang mengenai masalahnya, mungkin orang tua bisa membantu kesulitannya.
2)      Mengajarkan nilai-nilai moral, dengan menegaskan bahwa berbohong tidak baik, merusak kepercayaan diri dan merugikan orang lain.
3)      Mencari penyebab dari tingkah laku bohong dan mengupayakan penyelesaiannya.
4)      Jika kasusnya sudah berat dan kebiasaan bohong sukar untuk diperbaiki maka diperlukan bantuan para ahli.

  1. Curang
a.       Penyebab Curang
1)      Ada tekanan dari luar untuk menjadi orang terbaik, seperti tekanan orang tua agar anak selalu menjadi juara kelas.
2)      Anak yang egosentris, sehingga selalu ingin menang.
3)      Merasa takut gagal, sebab anak tidak pernah disiapkan menghadapi konsekuensi dalam melakukan sesuatu.

b.      Cara Mengatasi Sifat Curang
1)      Orang tua menunjukkan ketidaksukaan terhadap tingkah lakunya.
2)      Anak diajarkan mengenal akibat dari sikap curang, yang akan merugikan dirinya dan orang lain.
3)      Anak curang juga karena kurang perhatian dari orang tua. Oleh karena itu berilah anak kasih sayang dan cinta tanpa syarat, hal ini dapat dilakukan dengan menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua tidak tergantung pada prestasi anaknya saja. Hal ini tentu membuat anak nyaman dan tidak merasa terbebani. Dan perlu dijelaskan bahwa jika ia berprestasi. Itu untuk kebaikan dirinya sendiri.
4)      Rasa percaya diri perlu ditumbuhkan dengan membantu anak menerima segala kelebihan dan kekurangannya, kemampuan dan keterbatasannya.

  1. Gangguan Tingkah Laku
Berakhlak baik adalah anjuran Nabi SAW. Diantara akhlak yang baik adalah menolong sesama manusia, berhati lembut, menghormati norma sosial.
Gangguan tingkah laku adalah sikap yang berlawanan dengan norma sosial dan ini dilakukan terus menerus. Gangguan tingkah laku dapat dideteksi dengan munculnya beberapa gejala seperti : melawan, membangkang, menyerah, berkelahi, merusak, marah, mencuri, berbohong, membolos, kabur, mengganggu, kasar pada hewan dan manusia, dan terkadang paksaan sesksual. Gangguan tingkah laku ini ada yang bersifat sosial dan ada yang bersifat non sosial. Gangguan ini bisa berlaku dimana saja, bisa dalam keluarga dan bisa terjadi di tengah masyarakat. Ini bisa terjadi pada masa kanak-kanak maupun orang dewasa.
a.       Penyebab Gangguan Tingkah Laku
Ganguan tingkah laku dapat terjadi karena beberapa hal diantaranya :
1)      kerusakan otak.
2)      Penganiayaan anak.
3)      Pertumbuhan yang buruk, baik oleh keluarga maupun lingkungan.
4)      Gagal di sekolah.
5)      Pengalaman pergaulan, salah memilih teman.
6)      Keluarga yang negatif.
Gangguan tingkah laku dapat berakibat fatal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami gangguan tingkah laku akan tidak bahagia di saat dewasa. Bahkan cenderung bermasalah dalam pergaulan melanggar hukum dan norma sosial.

b.      Cara Mengatasi Gangguan Tingkah Laku
1)      Perlu bimbingan psikoterapi.
2)      Pendekatan perubahan tingkah laku dalam keluarga.
3)      Pengobatan medis.
4)      Ajarkan anak untuk mengontrol rasa marahnya.
5)      Training memecahkan masalah dan keterampilan sosial.
6)      Nasehat tentang program modifikasi tingkah laku yang diterapkan di kelas.
7)      Tegakkan hukum untuk kedisiplinan.

  1. Membangkang
Membangkang berarti menentang lingkungan sosial, baik itu kepada orang tua atau gurunya. Beberapa bentuk membangkang antara lain membantah, tidak mengikuti aturan, mengerjakan larangan, melawan, protes dan mengkritik. Diantara penyebab-penyebab terjadi pembangkangan antara lain :
1)      Orang tua menerapkan disiplin yang longgar, umumnya karena orang tua tidak dapat berkata-kata “tidak” pada anaknya.
2)      Orang tua yang menjalankan disiplin secara berlebihan cenderung otoriter, dan sangat mendominasikan anak.
3)      Orang tua menjalankan disiplin dengan tidak konsisten.
4)      Orang tua selalu dalam keadaan stress dan konflik karena sibuknya kerja.
5)      Anak kreatif, hingga tidak mau diatur dan ia hanya melakukan apa yang ia inginkan.
6)      Anak marah, kecewa terhadap orang tua dan lingkungannya.
7)      Adanya contoh dari orang tua yang tidak taat hukum dan tidak menghargai peraturan.
8)      Anak cerdas dan biasanya juga suka membantah namun bedanya anak ini lebih konsekuen dengan tingkah lakunya.
9)      Anak terlalu lelah, sakit, lapar dan perasaan tidak mengenakkan lainnya.

Ada beberapa cara untuk mengatasi sikap membangkang ;
-          Jika anak sering melakukan sikap ini, maka carilah pembimbing yang profesional.
-          Tanpa campur tangan dari orang tua dan lingkungannya anak-anak terus berlaku tidak baik di sekolah, mendapat kesulitan dalam menangani pekerjaan sekolah dan terus melakukan tingkah laku kekerasan.
-          Pendekatan perlakuan yang terbaik untuk anak-anak kecil dengan pola perilaku yang dimodifikasi dibawah pengawasan yang ahli dan berkualitas.
-          Terkadang anak mengekspresikan pembangkangannya dengan menolak aturan dengan cara menghindar atau tanpa melakukan apa-apa. Namun ada juga yang menyatakan “tidak” secara verbal. Untuk itu orang tua perlu menerapkan disiplin yang tegas dan baik.
-          Suasananya keluarga harus dibuat tenang, tentram dan damai serta memberi contoh yang baik.

Demikianlah beberapa hal negatif yang sering terjadi pada diri anak. Jika orang tua lengah dalam menjaga dan mendidik anak-anaknya. Masalah yang ada bukan hanya menyusahkan orang tua namun juga lingkungannya dan para guru di sekolah. Tingkah laku diatas juga akan membuat anak tersisih dan di jauhi oleh teman sebayanya.
Oleh sebab itu suka atau tidak, orang tua harus melihat kembali pla pendidikan apa yang selama ini ia laksanakan. Sudahkan orang tua menjadi contoh yang baik, dan sudahkan rumah menjadi tempat anak belajar hal-hal yang baik. Rumah seharusnya menjadi tempat dimana anak bisa belajar banyak hal. Namun kenyataan di zaman sekarang ini ad alah banyak orang tua yang hanya memenuhi kebutuhan jasmani anak tanpa memperhatikan kebutuhan rohaninya. Hingga tidak heran muncul generasi-generasi yang hanya mementingkan urusan-urusan penampilan, gaya dan hal yang bersifat glamor lainnya, tanpa mereka bisa memikirkan hal-hal yang bersifat nilai-nilai yang berkaitan dengan moral, etika dan lainnya, yang akan membawa mereka selamat dari berbagai dampak yang merusak masa depan mereka kelak. Tidak bisa di pungkiri di samping kekurangan waktu orang tua dalam mendidik anak-anak, juga ada hal lain yang membuat nilai-nilai pendidikan moral tidak diperhatikan lagi. Diantaranya media elektronik terutama TV. Hampir semua rumah tangga sekarang memiliki media ini malahan sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Namun sedikit sekali nilai-nilai pendidikan yang bisa diambil dari siaran dan acara yang ada. Stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan berbagai suguhan hiburan yang kosong dari nilai pendidikan positif. Jam tayangnya pun diatur sedemikian rupa di saat di saat seharusnya anak belajar anak-anak belajar tapi acara kesayangannya sedang tayang. Ini membuat konsentrasi anak terganggu dan buyar. Sungguh hal yang sangat memprihatinkan. Kebanyakan anak lebih betah berjam-jam di depan TV ketimbang membaca buku dan majalah.
Jika masalah diatas tgidak disikapi oleh orang tua secara serius, maka jangan salahkan anak jika suatu saat kita kaget dengan tingkah laku anak yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Banyak kasus di masyarakat, dalam suatu keluarga tiba-tiba anak terjerat narkoba, orang tua panik dan memarahi anak. Padahal jika sejak dini orang tua menjalankan fungsinya secara maksimal maka hal ini mungkin tidak akan terjadi, misalnya orang tua mengontrol anaknya, mengenal teman-teman anaknya hingga mengetahui kemana saja mereka pergi.
Hal ini dapat dilakukan jika orang tua dapat meluangkan waktu untuk putra-putrinya. Dalam sebuah penelitian di temukan bahwa :
1.      Anak laki-laki yang ayahnya sibuk dan jarang pulang beresiko kena narkoba sebesar 35%.
2.      Anak wanita yang ayahnya sibuk dan jarang pulang beresiko kena narkoba sebesar 15%.
3.      Anak laki-laki yang ibunya sibuk dan jarang pulang beresiko kena narkoba sebesar 24%.
4.      Anak perempuan yang ibunya sibuk dan jarang pulang beresiko kena narkoba sebesar 22%.
Dari penelitian diatas dari keluarga yang kurang harmonis dan orang tua yang sibuk ank bisa terjerat narkoba, disamping pengaruh lingkungan  dan teman bergaul anak. Secara garis besar anak terjerat narkoba disebabkan bujukan teman dan bubuk setan itu sendiri mudah didapatkan. Seperti yang pernah dilansir oleh media bahwa narkoba sudah sampai ketangan anak TK, ini hal yang sangat memprihatinkan sekali akan jadi apakah bangsa ini kedepan jika generasi telah rusak.

0 Response to "Masalah Perkembangan Anak Menurut Pandangan Islam"

Posting Komentar