Minggu, 06 Maret 2016

Pencegahan Dan Pengobatan Penyakit Demam Bedarah Dengue (DBD)


A.    Penyakit Menular
1)      Demam Bedarah Dengue
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit demam berdarah, yang disebabkan oleh infeksi virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Penyakit ini pada stadium berat akan mengakibatkan Sindroma Syok Dengue (SSD), yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disertai oleh syok (renjetan) akibat kehilangan plasma.
Di Indonesia DBD pertama kali dilaporkan pada tahun 1968, yaitu di Surabaya, tapi konfirmasi virologist baru diperoleh pada tahun 1970. sedangkan di Padang DBD pertama kali muncul pada tahun 1972.
Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan masalah masyarakat yang jumlahnya kasusnya tiap tahun masih tinggi. Penyebab makin meluas, wabah masih terjadi sewaktu-waktu dan lebih banyak menyerang anak-anak.
Pada mulanya DBD berjangkit dalam kota padat penduduknya. Tapi sekarang juga ditemukan di daerah Sub-Urban dan pedesaan. Hal ini antara lain disebabkan oleh semakin meningkatnya alat transportasi. 

Pencegahan Dan Pengobatan Penyakit  Demam Bedarah Dengue (DBD)

B.     Faktor Penyebab Penyakit
1.      Penyebab DBD
Entiologi / Penyebab DBD adalah virus dengue yang termasuk dalam Arbovirus golongan B. Virus dengue (genus flavirus, famili flaviridae) diketahui mempunyai 4 macam serotipe yaitu dengue-1, dengue-2, dengue-3, dengue-4. Virus dengue tergolong RNA-Virus yang berkembang biak dalam tubuh, beberapa species nyamuk, darah manusia dan kultur jaringan. Ia mampu bertahan hidup pada suhu 4 derajat celcius selama beberapa minggu dan pada suhu 70 derajat celcius selama beberapa tahun.

2.      Vektor DBD dan Lingkungan
Vektor / Penular DBD adalah nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Nyamuk Aedes Aegypti lebih sering dijumpai di dalam dan disekitar rumah di daerah perkotaan, sedangkan Aedes Albopictus sering dijumpai di daerah desa dekat hutan (niral).
Tempat perkembang biakan nyamuk ini adalah :
-          Tempat penampungan air (TPA) yang digunakan oleh penduduk sehari-hari seperti bak mandi, WC, temayan, drum dan lain-lain.
-          Tempat genangan air.
-          Tempat penampungan air alamiah misalnya lubang pohon, lubang batu, dan lain-lain. 

C.    Pencegahan DBD
Banyak cara yang dapat digunakan untuk menanggulangi populasi nyamuk dan mencegah terjadinya masalah, baik secara kimia, mekanis maupun biologi.
1.      Terhadap Vektor
a.       Pemberantasan cara mekanik untuk meniadakan Aedes Aegypti (Mekanik) adalah :
-          Membuang secara baik kaleng, botol, ban dan semua yang mungkin dapat menjadi tempat bersarang nyamuk.
-          Menukar air vas bunga dan minuman burung minimal 1 x seminggu.
-          Menguras bak mandi 1 x seminggu, demikian juga tempat penyimpanan air dan menutupnya.
-          TIdak menggantung pakaian.
b.      Pemberantasan/penanggulangan populasi nyamuk secara kimiawi dengan cara :
-          Membunuh larva dengan butir-butir abate sand granudes (SG) 1% pada tempat penyimpanan air dengan dosis IPPM (part permillion) yaitu 10 gr SG 1% untuk 100 liter air, cara ini sebaiknya diulangi dalam jangka waktu 2 – 3 bulan.

2.      Penyuluhan
Perlu diberikan kepada penduduk ditempat-tempat yang diduga rawan untuk berkembang biaknya nyamuk sedini mungkin, bahwa sebelum terjadi wabah. Salah satu wahana yang sangat baik untuk penyuluhan adalah sekolah sampai perguruan tinggi, dan lain-lain.

3.      Mencegah Terjadinya Kontak Langsung Dengan Nyamuk
Dari cara-cara pencegahan diatas, upaya paling efektif dan efisien adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan tempat perindukan nyamuk secara mekanis oleh masyarakat.