Rabu, 20 April 2016

Informasi Akutansi Pertanggungjawaban Serta Manfaatnya

1.  Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban
Informasi merupakan data-data yang berasal dari berbagai sumber yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk membantu dalam kegiatan perencanaan dan pengendalian perusahaan.
Yang disebut dengan informasi adalah data yang telah digunakan dan memiliki andil yang cukup serta telah dikomunikasikan pada penggunaannya dalam rangka membuat berbagai keputusan.
Pengertian atau defenisi informasi merupakan segala sesuatu yang berupa data, pengamatan, persepsi atau hal-hal lain yang dapat digunakan untuk membantu penggunanya dalam membuat berbagai keputusan. Informasi yang dijelaskan diatas secara umum dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu : informasi kuantitatif dan informasi kualitatif. Informasi kualitatif adalah informasi yang menyediakan data-data yang sifatnya non moneter, dengan kata lain tidak memakai satuan uang sebagai dasar perhitungannya. Informasi jenis kedua, yaitu informasi kuantitatif, sebaliknya merupakan informasi yang memiliki dasar pengukuran yang jelas, yaitu satuan uang.
Informasi Akutansi Pertanggungjawaban Serta Manfaatnya

Informasi kuantitatif yang lebih dikenal dengan sebutan informasi akuntansi memiliki berbagai aspek yang dapat dijelaskan satu demi satu. Terlabih dahulu akan dibahas mengenai pengertian informasi akuntansi.
Informasi akuntansi merupakan data yang menjadi lebih berarti dan lebih bernilai setelah melalui proses, yang menjadikan data-data tersebut bermanfaat bagi pihak yang menggunakannya. Informasi akuntansi dapat dikelompokkan mnejadi tiga bagian, yaitu : informasi operasi, informasi akuntansi kuangan dan informasi akuntansi manajemen. Informasi operasi merupakan informasi akuntansi yang memuat hal-hal yang berhubungan dengan operasi perusahaan. Informasi ini digunakan untuk mengolah kedua jenis informasi akuntansi lainnya, yaitu informasi keuangan dan informasi akuntansi manajemen. Contoh dari informasi operasi dalam suatu perusahaan adalah :
             1.Informasi mengenai bahan baku yang digunakan (jenis dan kuantitasnya).
 2. Informasi mengenai jumlah persediaan barang jadi dalam gudang.
              3. Informasi mengenai jumlah produksi pada waktu tertentu.
Informasi akuntansi jenis berikutnya adalah informasi akuntansi keuangan. Hasil dari informasi akuntansi keuangan biasanya lebih ditujukan bagi pihak-pihak eksternal atau yang berada di luar perusahaan. Para pengguna informasi akuntansi keuangan ini memanfaatkan informasi tersebut untuk membantu mereka dalam proses pengambilan keputusan mengenai hubuangannya dengan perusahaan. Sebagai ilustrasi, para investor menggunakan informasi akuntansi keuangan (dalam hal ini melalui laporan keuangan) untuk melihat apakah mereka dapat mempercayakan dananya pada perusahaan atau tidak. Pihak-pihak lainpun menggunakan informasi akuntansi keuangan dengan tujuan yang berbeda satu sama lain, misalnya : bank, pemegang saham, pemerintah, dll.
Informasi akuntansi manajemen merupakan informasi akuntansi yang akan lebih difokuskan dalam pembahasan ini. Informasi ini berhubungan erat dengan dua fungsi pokok dalam manajemennya, yaitu fungsi perencanaan dan fungsi pengendalian. Informasi yang termasuk informasi akuntansi manajemen misalnya: laporan mengenai anggaran, laporan penjualan, laporan biaya produksi berbagai pusat-pusat pertanggungjawaban dan lain-lain.
Informasi akuntansi manajemen dapat meliputi dua jenis informasi,  yaitu : informasi yang menyangkut masa lalu dan informasi tentang masa depan. Dari kedua jenis informasi ini nantinya akan didapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu dikenal dengan sebutan penyimpangan. Penyimpangan yang terjadi dapat berupa penyimpangan yang menguntungkan (favorable) dan penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavorable). Dalam informasi akuntansi manajemen hal-hal ini akan ditelusuri dengan lebih terarah. Penyimpangan yang terjadi dalam kegiatan operasi (menguntungkan atau tidak menguntungkan) akan dilihat penyebab. Apabila ditemukan penyebab dari penyimpangan tersebut maka selanjutnya akan dicarikan jalan agar penyimpangan yang terjadi hanya yang bersifat menguntungkan (favorable) saja.
Informasi akuntansi manajemen dapat dihubungkan dengan tiga aspek penting, yaitu dengan objek informasi, alternatif yang dipilih dan wewenang manajer. Masing-masing aspek ini menjadikan informasi akuntansi manajemen dapat dipilah-pilah berdasarkan aspek tersebut. Aspek objek informasi akan melahirkan informasi akuntansi penuh, yang merupakan informasi mengenai seluruh aktiva dan pendapatan yang diperoleh dan atau seluruh sumber yang dikorbankan suatu objek informasi.
Sedangkan informasi akuntansi differensial lahir dari adanya aspek alternatif yang dipilih. Informasi akuntansi diferensial yang berhubungan dengan alternatif yang dipilih oleh manajemen dalam mengambil keputusan, merupakan informasi akuntansi yang akan membantu pihak manajemen dalam menentukan keputusan terbaik dari berbagai alternatif yang tersedia. Apakah perusahaan akan membeli, menyewa atau membuat sendiri suatu peralatan dapat dijadikan sebagai salah satu contoh dari informasi akuntansi diferensial. Keputusan yang menjadi hasil dari informasi akuntansi diferensial dapat dijadikan sebagai alat yang akan mengurangi ketidakpastian yang muncul akibat terdapatnya berbagai alternatif.
Informasi akuntansi manajemen yang ketiga ini adalah informasi akuntansi pertanggungjawaban yang lahir dari aspek wewenang manajer. Informasi akuntansi pertanggungjawaban merupakan informasi yang berkaitan dengan wewenang manajer atas biaya, pendapatan dan aktiva perusahaan. Para manajer pusat-pusat pertanggungjawaban memiliki wewenang penuh terhadap biaya, pendapatan dan aktiva yang ada dalam masing-masing pusat prtanggungjawaban yang dipimpinnya. Manajerlah yang membuat keputusan berkaitan dengan biaya, pendapatan dan aktiva. Hal ini menjadikan manajer sebagai orang yang bertanggungjawab atas prestasi pusat pertanggungjawaban yang dibawahinya. Wewenang didelegasikan dari manajer atas ke manajer di bawahnya dan pendelegasian ini menuntut manajer bawah mempertanggungjawabkan pelaksanaan wewenang kepada manajer atasannya.
Dengan demikian, tanggungjawab timbul sebagai akibat adanya pendelegasian wewenang dari satu tingkat manajemen yang lebih tinggi ke tingkat manajemen yang lebih rendah. Untuk dapat dimintai pertanggungjawaban, manajer tingkat yang lebih rendah harus mengetahui dengan jelas wewenang apa yang didelegasikan kepadanya oleh atasannya. Dengan demikian, wewenang mengalir dari tingkat manajemen atas ke bawah, sedangkan tanggungjawab mengalir sebaliknya. Oleh karena itu, timbul kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi untuk menilai pertanggungjawaban pelaksanaan wewenang. Informasi akuntansi yang bersangkutan dengan pertanggungjawaban pelaksanaan wewenang disebut dengan informasi akuntansi pertanggungjawaban.


2.  Manfaat Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban Pusat Biaya
Informasi akuntansi yang dipakai sebagai ukuran kinerja manajer pusat biaya adalah biaya. Banyak masalah yang timbul dalam pengukuran biaya sebagai ukuran kinerja, karena tidak ada biaya yang seratus persen dapat dikendalikan oleh manajer yang memiliki wewenang untuk mengendalikan pusat biaya. Masalah yang timbul dalam penggunaan biaya sebagai ukuran kinerja manajer pusat biaya adalah.
a. Masalah Perilaku Biaya
 Sering kali terdapat kerancuan antara variabilitas dengan terkendalikan atau tidaknya suatu biaya. Variabilitas biaya merupakan perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan sedangkan terkendalikan atau tidaknya biaya bersangkutan dengan hubungan biaya dengan wewenang yang dimiliki oleh manajer tertentu. Anggapan bahwa biaya variabel sebagai biaya yang terkendalikan dan biaya tetap sebagai biaya tidak terkendalikan oleh manajer pusat laba adalah pandangan yang salah. Dalam menentukan terkenidalikan atau tidaknya biaya, perlu dihubungkan antara biaya tertentu dengan wewenang yang dimiliki oleh manajer pusat biaya atas biaya tersebut. jika manajer pusat biaya memiliki wewenang yang memadai untuk dapat secara signifikan mempengaruhi biaya tertentu, maka biaya tersebut merupakan biaya terkendalikan bagi manajer pusat biaya, dan dapat diperhitungkan dalam penentuan biaya yang menjadi ukuran kinerjanya.
Variabilitas biaya yang dihasilkan dari pengaitan biaya dengan perubahan volume kegiatan, tidak secara langsung bersangkutan dengan wewenang yang dimiliki oleh manajer pusat biaya. Biaya variabel yang terjadi di pusat biaya tertentu kemungkinan dikendalikan oleh manajemen puncak, seperti biaya kesejahteraan karyawan (tunjangan cuti, tunjangan liburan, tunjangan kesehatan, tunjangan pensiun), sehingga bukan merupakan biaya terkendalikan bagi manajer pusat biaya tersebut. Biaya variabel kemungkinan ditentukan berdasarkan teknologi yang digunakan oleh perusahaan dalam memproses produk, sehingga manajer pusat biaya tertentu tidak memiliki wewenang untuk mempengaruhinya. Sebagai contoh, biaya bahan baku yang dikonsumsi berdasarkan formula tertentu oleh Departemen Produksi merupakan biaya variabel, karena biaya tersebut bervariasi secara sebanding dengan jumlah produk yang diproduksi. Namun, manajer Departemen Produksi tidak dapat mempengaruhi biaya bahan baku karena teknologi yang digunakan mengharuskan Departemen Produksi mengkonsumsi sejumlah kuantitas tertentu pada setiap produk yang diproduksi. Dengan demikian, meskipun biaya bahan baku tersebut merupakan biaya variabel, namun bukan merupakan biaya terkendalikan bagi manajer Departemen Produksi. Umumnya biaya variabel teknik (engineered variable costs) sangat ditentukan oleh teknologi yang digunakan untuk mengolah produk, Sehingga dalam jangka pendek hanya sedikit wewenang yang dimiliki oleh manajer pusat biaya untuk dapat mempengaruhinya secara signifikan. Biaya variabel kebijakan (discretionary variable costs) umumnya merupakan biaya terkendalikan bagi manajer pusat biaya, karena terhadap jenis biaya ini, manajer pusat biaya memiliki kebijakan (discretion) berdasar wewenang yang dimilikinya untuk mempengaruhi secara signifikan biaya tersebut.
Biaya tetap juga tidak selalu merupakan biaya tidak terkendalikan bagi manajer pusat biaya tertentu. Committed fixed costs merupakan biaya yang tidak bisa tidak harus dikeluarkan oleh pusat biaya untuk mempertahankan fungsi pusat biaya yang seharusnya. Biaya asuransi, biaya pemeliharaan ekuipmen, biaya karyawan kunci merupakan contoh committed fixed costs. jika manajer pusat biaya memiliki wewenang untuk menetapkan besarnya committed fixed costs, biaya tersebut merupakan biaya terkendalikan bagi manajer pusat biaya tersebut. Namun, jika besarnya committed fixed costs dalam suatu pusat biaya ditentukan oleh manajer yang lebih tinggi (misalnya oleh manajemen puncak), maka committed fixed costs tersebut merupakan biaya tidak terkendalikan bagi manajer pusat biaya tersebut. Biaya tetap kebijakan (discretionary fixed costs) umumnya merupakan biaya terkendalikan bagi manajer pusat biaya, karena terhadap jenis biaya ini, manajer pusat biaya memiliki kebijakan (discretion) berdasar wewenang yang dimilikinya untuk mempengaruhi secara signifikan biaya tersebut.
Dalam pengukuran kinerja pusat biaya, biaya variabel maupun biaya tetap yang diperhitungkan sebagai ukuran kinerja harus berupa biaya terkendalikan oleh manajer pusat biaya tersebut. Biaya terkendalikan. adalah biaya variabel dan biaya tetap yang dapat dipengaruhi secara signifikan oleh manajer dengan wewenang yang dimilikinya.
b.Masalah Hubungan Biaya dengan Pusat Biaya
Dalam hubungannya dengan pusat biaya, biaya dapat dibagi menjadi dua: biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung merupakan biaya yang manfaatnya hanya dinikmati oleh pusat biaya tertentu. Biaya tidak langsung merupakan biaya yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu pusat biaya. Sering kali dianggap bahwa biaya langsung merupakan biaya terkendalikan dan biaya tidak langsung merupakan biaya tidak terkendalikan oleh manajer pusat biaya. Anggapan ini tidak selalu benar. Biaya langsung merupakan biaya terkendalikan jika manajer pusat biaya memiliki wewenang untuk mempengaruhi secara signifikan biaya tersebut. Biaya tidak langsung merupakan biaya tidak terkendalikan bagi manajer pusat biaya jika pembebanannya ke pusat biaya tersebut tidak dapat dipengaruhi secara signifikan oleh manajer pusat biaya tersebut.
Dalam pengukuran kinerja pusat biaya, biaya langsung maupun biaya tidak langsung yang diperhitungkan sebagai ukuran kinerja harus bertipa biaya terkendalikan oleh manajer pusat biaya tersebut. Biaya terkendalikan adalah biaya langsung dan biaya tidak langsung yang dapat dipengaruhi secara signifikan oleh manajer dengan wewenang yang dimilikinya.
c. Masalah jangka Waktu
Dalam jangka panjang, semua biaya pada dasarnya dapat dikendalikan oleh manajer tertentu dalam organisasi perusahaan. Biaya kebijakan (baik biaya variabel kebijakan maupun biaya tetap kebijakan) merupakan biaya terkendalikan dalam jangka pendek. Engineered variable costs dan committed fixed costs merupakan biaya terkendalikan dalam jangka panjang, dan tidak terkendalikan dalam jangka pendek. Namun, perlu disadari bahwa ada beberapa biaya yang memiliki tingkat terkendalikan untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Sebagai contoh adalah biaya bahan baku yang diperoleh dengan kontrak pembelian jangka panjang (5 tahun misalnya). Kontrak pembelian untuk jangka waktu tersebut biasanya diselesaikan dengan wewenang manajemen puncak, dan akan mengikat kos bahan baku untuk jangka waktu yang lama. Dengan demikian harga bahan baku yang merupakan unsur biaya bahan baku tidak terkendalikan oleh manajer pusat biaya (Departemen Produksi). Namun, sisa bahan baku (waste) dan produk yang rusak dalam proses produksi (spoilagei) merupakan biaya terkendalikan dalam jangka pendek bagi manajer pusat biaya.
d.Masalah Tanggungjawab Ganda
Jika suatu biaya di bawah wewenang lebih dari satu manajer pusat biaya, timbul masalah siapa yang mempertanggungjawabkan biaya tersebut. Biaya pemeliharaan mesin merupakan contoh biaya yang berada di bawah tanggungjawab ganda: manajer Departemen Bengkel dan manajer Departemen Produksi. Dalam pengukuran kinerja manajer pusat biaya, biaya yang berada di bawah wewenang lebih dari satu manajer pusat biaya digunakan untuk mengukur kinerja masing-masing manajer pusat biaya yang terkait. Manajer Departemen Bengkel bertanggungjawab atas dihasilkannya jasa pemeliharaan dengan biaya pemeliharaan yang minimum, sedangkan manajer Departemen Produksi bertanggungjawab atas penggunaan  minimum jasa bengkel untuk memenuhi kebutuhan produksinya. Dengan demikian, biaya bengkel untuk tingkat tertentu merupakan biaya terkendalikan bagi manajer pusat biaya Bengkel, dan untuk tingkat tertentu merupakan biaya terkendalikan bagi manajer pusat biaya Produksi. Manajer pusat biaya penghasil jasa bertanggungjawab atas dihasilkannya jasa dengan biaya yang minimum, sedangkan manajer pusat biaya pemakai bertanggungjawab dalam meminimumkan penggunaan jasa pusat biaya penghasil jasa.
Adanya informasi akuntansi pertanggungjawaban memberikan kontribusi positif terhadap perusahaan. Ada beberapa keuntungan dari informasi akuntansi pertanggungjawaban :
1.     Informasi akuntansi pertanggungjawaban membantu manajer ke arah menciptakan suatu atmospir pentingnya biaya sepanjang seluruh organisasi.
2.     Informasi akuntansi pertanggungjawaban cenderung untuk mendapatkan tindak pengendalian biaya yang dengan cepat dan dengan segera sebagai hasil kebutuhan akan eksekutif senior untuk menerima suatu laporan bulanan sebelum keputusan dapat dibuat.
3.     Informasi akuntansi pertanggungjawaban membantu manajemen dalam memberi peran dan tanggungjawab kepada semua unit tingkatan manajemen dengan suatu tujuan umum.
Oleh karena penelitian informasi akuntansi pertanggungjawaban dilakukan pada pusat biaya saja, maka pembahasan hanya terdapat pusat biaya saja. Informasi akuntansi pertanggungjawaban pusat biaya memungkinkan suatu lingkungan yang berorientasi pada anggaran yang direncanakan dan realisasi biaya yang dikeluarkan. Dengan adanya informasi akuntansi pertanggungjawaban pusat biaya artinya manajer pusat biaya akan lebih berhati-hati terhadap kegiatan yang dilakukannya karena semua biaya yang dikeluarkan akan dipertanggungjawabkan dan nantinya akan dievaluasi dengan membandingkan dengan realisasi yang terlaksana. Hal tersebut ini nantinya yang akan menentukan prestasi dari manager pusat biaya. Manajer yang terlalu royal dalam melakukan kegiatan operasinya tanpa mendatangkan hasil yang sebanding atau tidak efisien melalui informasi akuntansi pertanggungjawaban akan terlihat dengan jelas.
Dengan penerapan informasi akuntansi pertanggungjawaban pusat biaya dalam perusahaan akan memacu para manajer pusat biaya dan karyawan untuk bekerja lebih cepat. Keputusan para eksekutif yang tergantung pada laporan yang diterima setiap bulannya memaksa para karyawan yang bekerja supaya dapat memberikan laporan secara tepat waktu. Jadi terdapat saling ketergantungan yang positif dari informasi akuntansi pertanggungjawaban dalam hubungannya dengan pemberian laporan yang tepat, cepat dan akurat.

Informasi akuntansi pertanggungjawaban pusat biaya ini juga memberikan rasa kekeluargaan untuk dapat bekerja sama demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Untuk mencapai target dan mewujudkan tujuan pusat biaya khususnya dan perusahaan umumnya, memerlukan kerja sama dan dukungan dari seluruh aspek lingkungan perusahaan. Dengan kata lain penerapan informasi akuntansi pertanggungjawaban dapat menciptakan suatu dorongan moril yang akan mengarahkan para karyawan untuk bekerja secara efektif dan efisien dengan anggapan dengan kerjasama yang baik maka tanggungjawab apapun dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.