Jumat, 29 Januari 2016

Pembelajaran Berbasis Contectual Teaching and Learning (CTL)


1.      Pengertian CTL
Menurut Wina (dalam Munawir, 2008: 9) CTL adalah “suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan para proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Sedangkan menjurut Nurhadi (dalam Munawir, 2008: 9) CTL adalah “konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Jadi, berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa CTL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh dengan menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas sehingga mendorong siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan.

Pembelajaran Berbasis Contectual Teaching and Learning (CTL)

2.      Karakteristik Pembelajaran CTL
Menurut Nurhadi (2002: 20) karakteristik pembelajaran berbasis CTL adalah. :
1. Kerjasama; 2. saling menunjang; 3. menyenangkan, tidak membosankan; 4. belajar dengan bergairah; 5. pembelajaran yang terintegrasi; 6. menggunakan sumber belajar, siswa aktif; 7. sharing dengan teman; 8. siswa kritis dan guru kreatif; 9. dinding kelas penuh dengan hasil karya siswa, peta, gambar, artikel, humor; 10. laporan kepada orang tua siswa bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain.lain
Hal ini senada sengan pendapat Johnson (dalam Nurhadi, 2003: 13) yang menyatakan bahwa karakteristik pembelajaran kontekstual adalah a. pembelajaran bermakna,; b. penerapan pengetahuan; c. berfikir tingkat tinggi; d. kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standard perkembangan IPTEK; e. Responsive terhadap budaya; f. penilaian otentik.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa suatu pembelajaran yang dikatakan pembelajaran yang kontekstual dapat dilihat dari ciri-ciri yang dijelaskan di atas.

3.      Komponen Utama Pendekatan Kontekstual
Menurut Nurhadi (dalam Munawir, 2008: 10) adalah tujuh komponen dasar pendekatan kontekstual di kelas yaitu : “a. konstruktivisme; b. penemuan; c. bertanya; d. masyarakat belajar; e. pemodelan; f. refleksi; g. penilaian yang sebenarnya.
Beirkut ini akan dijabarkan tujuh prinsip dasar kontekstual yaitu :
a.       Konstruktivisme
Merupakan landasan filosofis kontekstual. Pembelajaran yang bercirikan konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif dari pengalaman atau pengetahuan terdahulu.

b.      Inquiri (Penemuan)
Inquiri adalah kegiatan inti pembelajaran berbasis kontekstual, inquiri diawali dengan pengamatan untuk memahami konsep atau fenomena dan dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan.

c.       Questioning (Bertanya)
Merupakan salah satu strategi pembelajaran kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, membimbing dan menilai kemampuan berfikir.

d.      Masyarakat Belajar
Merupakan upaya guru mengaktifkan siswa dengan berbagai pengalaman dengan siswa lain. Masyarakat belajar ini dapat dilakukan dengan kelompok-kelompok belajar atau mendatangkan ahli dari luar skeolah.

e.       Pemodelan
Tujuannya untuk membahasakan gagasan yang kita pikirkan, mendemonstrasikan cara belajar siswa atau melakukan apa yang kita inginkan supaya siswa melakukannya.

f.       Refleksi
Merupakan kegiatan memikirkan apa yang kita pelajari, menelaah dan merespon semua kejadian atau aktivitas yang terjadi dalam pembelajaran dan memberikan semua kejadian atau aktifitas yang terjadi dalam pembelajaran dan memberikan masukan-masukan perbaikan jika diperlukan.

g.      Penilaian yang sebenarnya
Dalam pembelajaran kontekstual penilaian otentik dapat membantu siswa memperoleh informasi akademik dan kecakapan yang diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu.

Pendekatan kontekstual menekankan pada beberapa strategi antara lain : 1. menekankan pada pemecahan masalah; 2. menekankan pada perlunya pengajaran dan pembelajaran yang dikaitkan dengan konteks sehari-hari. 3. mendidik siswa untuk membangun pengetahuan sendiri; 4. menggalakkan kerjasama antara siswa dalam belajar; 5. menggunakan penilaian otentik (Johnson, 2002: 21)

4.      Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual
Setip pendekatan pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pendekatan kontekstual adalah : a) CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh baik fisik maupun otak untuk menemukan materi, bukan hasil pemberian dari orang lain, b) CTL mendorong siswa agar dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata, c) CTL mendorong siswa  untuk dapat menerapkannya dalam kehidupannya, d) kegiatan pembelajaran dilakukan dengan diskusi kelompok, e) pendektan kontekstual dapat digunakan di semua bidang studi (Wina, 2005: 115).
Pendekatan kontekstual juga mempunyai kekurangan-kekurangan, kekurangan tersebut adalah : a) karena pembelajaran kontekstual berorientasi siswa (student center), maka siswa akan susah belajar karena tingkat perkembangan dan kemampuan siswa yang tidak sama, b) dibutuhkan kesiapan dari segala aspek yang menunjang kelancaran pembelajaran, karena pembelajaran berlangsung di lingkungan alamiah,    c) dalam pembelajaran kontekstual lebih mementingkan strategi dari pada hasil.

5.      Manfaat Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sangat bermanfaat dalam mencapai tujuan pembelajaran. Manfaat pembelajaran kontekstual adalah siswa mempu memecahkan masalah yang dihadapi dikehidupannya sebagai anggota keluarga dan masyarakat, karena materi yang diberikan ke siswa adalah masalah-masalah kontekstual yakni masalah yang ada dilingkungannya (Nurhadi, 2003: 5).
Kemudian dengan pembelajaran kontekstual dapat membuat siswa menjadi aktif dan kreatif dan mampu berkomunikasi dengan baik dalam interaksi sosial, karena dalam pembelajaran siswa dibiasakan bekerja dengan kemampuan otak dan fisik dalam sebuah kelompok. Dengan demikian siswa terlatih berkomunikasi dalam kelompok dan potensi-potensi yang ada dalam dirinya berkembang.
Selain itu pembelajaran dan pengajaran kontekstual melibatkan siswa dalam aktivitas penting yang membuat mereka mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata, sehingga siswa melihat makna dari pelajaran tersebut (Johnson, 2002: 35)