Pengertian dan Unsur Seni Dalam Randai di Minangkabau



A.    Pengertian dan Unsur Seni Dalam Randai di Minangkabau
Randai adalah kesenian khas Minangkabau yang dilaksanakan dalam bentuk teater arena (pertunjukkan arena).
Unsur kesenian yang terdapat dalam randai yaitu :
  1. Seni drama
  2. Seni suara
  3. Seni tari
  4. Seni musik
Sumber cerita dalam randai adalah Kaba yang bertemakan Budi, Malu, Susila, Pendidikan dan menanamkan kesadaran berbangsa. Jadi randai merupakan seni yang kompleks.
Randai disebut kesenian khas Minangkabau. Pernyataan ini memang tepat oleh karena hanya di Minangkabau saja yang memiliki kesenian ini, di daerah lain tidak ada dan tidak dikenal kesenian randai. Jadi, randai disebut kesenian khas Minangkabau, karena hanya Minangkabau yang memilikinya.

Pengertian dan Unsur Seni Dalam Randai di Minangkabau

B.     Unsur-Unsur Randai
Didalam pertunjukkan randai terdapat beberapa unsur :
1.      Unsur tari, yang berfungsi sebagai pelengkap nyanyian yang didendangkan gerak-geriknya selaras dengan alunan bunyi dan gerak tarinya diambil dari gerakan silat.
2.      Unsur dendang, dinyanyikan dalam beberapa adegan untuk menyambung cerita yang terpotong. Dendang berfungsi sebagai pengatur cerita dan untuk menyambung cerita yang terpotong (terdiri dari lima legaran. Sesudah lima legaran, dendang masuk kegiatan yaitu :
1)      Untuk persembahan.
2)      Mengatur adegan
3)      Penyampaian cerita
4)      Pembentuk cerita
5)      Penutup cerita
3.      Unsur seni suara, dibawakan dalam setiap adegan dalam randai, dimainkan dengan beberapa orang lakon yaitu 12 s/d 20 orang.
4.      Unsur sastral : berupa cerita yang dibawakan dalam randai, bersumber dari kaba atau cerita rakyat Minangkabau, disampaikan dalam bahasa Minangkabau.
5.      Unsur kerawitan: yang melengkapi permainan randai, alat musik yang sering digunakan adalah :
a.       Saluang
b.      Talempong
c.       Pupuik batang padi





C.    Ciri-Ciri Randai
Kesenian randai merupakan kesenian rakyat Minangkabau. Kesenian ini bentuknya merupakan teater tradisional dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Cerita yang dimainkan dalam randai adalah cerita yang populer dan dikenal dalam masyarakat, terutama yang bersumber dari kaba (diceritakan oleh publik yang didendangkan oleh tukang kaba).
2.      Pertunjukkan dilakukan bukan hanya dengan percakapan (dialog) tetapi juga dengan nyanyian (dendang) dan tari.
3.      Nilai dramatik dilakukan spontan dan dapat menjadi satu dalam adegan yang sama antara sedih dan gembira, antara menangis dan tertawa.
4.      Selalu ada adegan atau “moment” yang melahirkan suasana komik.
5.      Menggunakan musik kerawitan sebagai musik pelengkap atau pengiring.
6.      Penonton menjadi satu dan intim dengan pemain.
7.      Pementasan dilakukan di tempat terbuka atau arena.
8.      Lamanya pertunjukkan tidak terbatas tergantung keinginan penyelenggara. Dengn kata lain randai dapat dianggap sebagai seni pertunjukkan di Minangkabau dengan menampilkan cerita yang umumnya bersumber dari Kaba.

D.    Gerak Tari Dalam Randai
Gerakan tari dalam randai umumnya berupa gerakan dasar pencak silat.
Sebelum pertunjukkan dimulai biasanya dibunyikan peralatan musik. Gunanya adalah untuk memanggil orang atau tanda bahwa pertunjukkan akan dimulai.
Seorang berdiri di arena, berarti randai telah dimulai. Orang ini disebut Janang.
Janang berfungsi sebagai pembantu tarian dalam randai. Apabila janang mengucapkan kata “Hepta”, maka semua pemain masuk ke tengah gelanggang permainan.
Pemain membalas empat kali dengan kata “Hepta” dan setelah itu pemain maju ke depan dan balik kebelakang dengan gerakan gelombang. Setelah itu pemain maju ke depan dan balik ke belakang dengan berformasi lingkaran sambil melakukan gerakan pencak dengan langkah maju mundur ke dalam memperkecil lingkaran dan keluar memperbesar lingkaran serta di ulang sebanyak empat kali. Ini merupakan penerapan langkah sambilan, yaitu merupakan bunga dari pada gerakan silat.

E.     Alur Cerita Dalam Randai
Pada mulanya alur cerita dalam randai dilakukan lewat nyanyian, sajak, setelah selesai menyanyikan sebuah adegan cerita lalu mereka duduk jengkang dalam lingkaran, lalu terdengar suara gurindam bersahut-sahutan. Gurindam dalam randai adalah merupakan persembahan sebagai salam dan bahwa randai di mulai.
Pemain berdiri dalam posisi pitanggo serong (sikap pasang kuda-kuda). Setelah lingkaran terbentuk, maka adegan randai siap dimainkan. Para pemain menari di sekeliling lingkaran sambil bernyanyi dan bertepuk ke tengah lingkaran serta memukul pisak kaki celana dengan kuat.






F.     Dialog Dalam Randai
Dialog dalam randai dilakukan dalam bahasa Minangkabau, biasanya memakai prosa, liris dalam bentuk pantun yang kadang-kadang mengandung kiasan, misalnya dialog antara anak dengan ibunya.
Kehidupan budaya masyarakat Minangkabau, dapat tercermin dari pertunjukkan randai, baik dialog yang diucapkan yang penuh dengan pantun dan syair serta prosa liris yang berupa untaian bait yang masing-masing bait umumnya terdiri dari empat baris, dua baris berisi sampiran, sedangkan dua lainnya berisi maksud yang sebenarnya. Dalam pertunjukkan randai hal itu meskipun tidak terlalu ketat namun masih terasa bahwa mereka menyadari perlunya bait-bait tersebut untuk menjaga irama-irama pertunjukkan agar sesuai dengan gurindam dan dendang yang ada.
Karena sifatnya yang liris, yang teringat dengan jumlah suku kata dan adanya sajak, syair, pantun, maka kaba selalu didendangkan. Didalam randai bagian-bagian cerita yang didendangkan inilah yang disebut gurindam. Gurindam dan tari yang bersumber dari gerak silat inilah yang menjadi ciri khas randai sebagai Teater Tradisi Minang.
Cerita yang dimainkan umumnya dari kaba yang ada, yang merupakan bentuk sastra lisan di Minangkabau yang terkenal. Kaba-kaba yang populer umumnya cerita yang dihidangkan sudah dikenal oleh masyarakatnya, bahkan grup randai sering memakai nama cerita, misalnya Grup Randai Magek Manadin, Grup Randai Anggun nan Tongga, Grup Randai Rambun Pamenan, dan Grup Randai Gadih Rantin. Padahal semua itu adalah cerita-cerita yang populer dan digemari oleh rakyat Minang. Cerita Rakyat, dongeng, legenda, dan lain sebagainya.

G.    Sejarah dan Perkembangan Randai Pada Masa Sekarang
Randai dalam sejarah Minangkabau memiliki sejarah yang lumayan panjang. Konon kabarnya ia sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padang Panjang ketika masyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut. Randai dalam masyarakat Minangkabau alah suatu kesenian yang dimainkan oleh beberapa orang dalam artian berkelompok atau beregu, dimana dalam randai ini ada cerita yang dibawakan, seperti Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Randai ini bertujuan untuk menghibur masyarakat biasanya diadakan pada saat pesta rakyat atau pada hari raya Idul Fitri.
Randai ini dimainkan oleh pemeran utama yang akan bertugas menyampaikan cerita, pemeran utama ini bisa berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlangsungnya acara tersebut.
Sekarang randai ini merupakan sesuatu yang asing bagi pemuda-pemudi Minangkabau, hal ini dikarenakan bergesernya orientasi atau kegemaran dari generasi tersebut. Randai terdapat di Pasisir dan daerah Darek (daratan).
Pada awalnya randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau. Namun dalam perkembangannya randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara, seperti kelompok Dardanela. Jadi, randai awalnya adalah media untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat, dan kurang tepat jika randai disebut sebagai Teater tradisi Minangkabau walaupun dalam perkembangannya randai mengadopsi gaya bercerita atau dialog teater atau sandiwara.

0 Response to "Pengertian dan Unsur Seni Dalam Randai di Minangkabau"

Poskan Komentar