Jumat, 15 Mei 2015

Kacang Hijau, Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani (Contoh Makalah)


BAB I
PENDAHULUAN

Kacang Hijau, Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani


A.    Latar Belakang
Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.
Bagian paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Biji kacang hijau direbus hingga lunak dan dimakan sebagai bubur atau dimakan langsung. Biji matang yang digerus dan dijadikan sebagai isi onde-onde, bakpau, atau gandas turi. Kecambah kacang hijau menjadi sayuran yang umum dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara dan dikenal sebagai tauge.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari pembuatan makalah ini adalah :
a.       Pengenalan tanaman kacang hijau.
b.      Persyaratan lokasi usaha tani kacang hijau.
c.       Teknik budidaya kacang hijau.
d.      Hama dan penyakit tanaman kacang hijau.
e.       Penanganan panen dan pasca panen kacang hijau.

C.    Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia juga untuk:
a.       Mengetahui tentng tanaman kacang hijau.
b.      Mengetahui persyaratan lokasi usaha tani kacang hijau.
c.       Mengetahui cara budidaya kacang hijau.
d.      Mengetahui hama dan penyakit tanaman kacang hijau.
e.       Mengetahui  cara penanganan panen dan pasca panen kacang hijau.
BAB II
PENGENALAN TANAMAN KACANG HIJAU

A.    Klasifikasi Tanaman Kacang Hijau
Dalam ilmu tumbuhan, tanaman kacang hijau diklasifikasikan sebagai berikut :
Divisio (divisi)              :   Spermatophyta (tanaman berbiji).
Subdivisio (sub divisi)  :   Angeaspermae (biji berada dalam buah).
Clas (kelas)                    :   Dicotyledoneae (biji berkeping dua).
Ordo (bangsa)               :   Leguminales.
Familia (suku)               :   Leguminoceae (kacang-kacangan).
Subfamilia                     :   Papillionoideae.
Genus (marga)               :   Phaseolus.
Spesies                          :   Phaseolus Aurus atau Phaseolus Radiatus L.

B.     Diskripsi dan Morfologi Tanaman Kacang Hijau
Tanaman kacang hijau tergolong ke dalam golongan tanaman palawija (tanaman pangan). Tanaman kacang hijau membentuk polong dan tanaman berbentuk perdu atau semak.
Secara morfologi, bagian atau organ-organ penting tanaman kacang hijau adalah sebagai berikut :
1.      Akar
Perakaran tanaman kacang hijau tersusun atas akar tunggang, akar serabut, dan akar lateral. Akar tunggang merupakan akar primer yang tumbuh paling awal dari benih yang tumbuh. Akar tunggang tumbuh ke pusat bumi mencapai kedalaman 1 m lebih. Akar lateral merupakan akar sekunder atau cabang-cabang akar yang tumbuh pada akar primer. Akar sekunder ini tumbuh tersebar menyamping (horizontal) dekat dengan permukaan tanah dengan lebar mencapai 40 cm lebih. Akar serabut merupakan akar-akar rambut yang tumbuh pada akar lateral.

2.      Batang
Batang tanaman kacang hijau mengayu, berbatang jenis perdu (semak), berambut dan berbulu dengan struktur bulu yang beragam, berwarna cokelat muda atau hijau. Batang berukuran kecil dan berbentuk bulat, ketinggian batang antara 30 cm – 100 cm. Batang bercabang menyebar ke semua arah. Banyaknya cabang setiap tanaman tergantung pada varietas dan kepadatan populasi tanaman. Jika kepadatan tanaman rapat (jarak tanam rapat), maka cabang yang tumbuh berkurang atau bahkan tidak tumbuh cabang sama sekali.

3.      Daun
Tanaman kacang hijau berdaun majemuk yang bersusun 3 helaian anak daun setiap tangkai. Daun berbentuk lonjong dengan bagian ujung runcing. Daun berwarna hijau sampai hijau tua dengan permukaan daun mempunyai struktur bulu yang beragam, tergantung dari varietasnya. Daun juga memiliki ukuran yang beragam tergantung dari varietasnya. Kedudukan daun tegak dan daun memiliki tangkai utama. Tangkai daun hijau agak merah, berbulu jarang, permukaan bawah daun hijau di atasnya merah tua kehijauan, ulat daun merah tua kehijauan (Var. Bhakti), urat daun berwarna merah, permukaan atas berwarna merah tua kehijauan, permukaan bawah berwarna hijau (Var. Siwalik). Daun permukaan atas berwarna merah tua kehijauan, permukawaan bawah hijau tua, urat daun merah (Var. Artaijo), daun berwarna hijau, tungkai daun hijau (Var. Manyar, Nuri, Merak, Betet, Gelatik), hijau muda (Var. Walet, Parkit).

4.      Bunga
Bunga tanaman kacang hijau berbentuk menyerupai kupu-kupu dengan mahkota bunga berwarna kuning keabu-abuan atau kuning muda, tergantung varietasnya. Bunga ini termasuk bunga sempurna atau berkelamin dua (hermaphrodit), yaitu setiap bunga terdapat benang sari (sel kelamin jantan) dan kepala putik (sel kelamin betina). Bunga tanaman kacang hijau tumbuh secara berkelompok dan muncul pada setiap ketiak daun (ruas-ruas batang).

5.      Buah
Buah kacang hijau berbentuk polong yang panjangnya 6-15 cm, warna polong hitam. Polong kacang hijau tersusun bersigmen-sigmen yang berisi biji. Jumlah biji dalam satu polong bervariasi antara 6-16 buah, tergantung pada panjang polong. Pada polong yang berukuran panjang, jumlah bijinya lebih banyak jika dibandingkan dengan polong yang pendek. Polong yang telah kering mudah pecah dan mengeluarkan biji-bijinya. Polong kacang hijau terbentuk disetiap pangkal cabang, jika kondisi pertumbuhan tanaman baik, polong yang terbentuk dapat menghasilkan biji yang penuh.

6.      Biji
Biji terbentuk bulat kecil berwarna hijau sampai hijau gelap. Warna tersebut merupakan warna dari kulit bijinya. Biji kacang hijau berkeping dua dan terbungkus oleh kulit. Bagian-bagian biji terdiri dari kulit, keping biji, pusar biji (hilum), dan embrio yang terletak di antara keping biji. Pusar biji atau hilum merupakan jaringan bekas biji melekat pada dinding buah. Keping biji mengandung makanan yang akan digunakan sebagai makanan untuk calon tanaman yang sedang tumbuh.

C.    Varietas Kacang Hijau
Varietas kacang hijau yang termasuk spesies Phaseolus Radiatus L jumlahnya sangat banyak dan memiliki sifat yang beragam, baik mengenai potensi produksinya, daya adaptasinya terhadap lingkungan, ketahanannya terhadap serangan hama dan penyakit, tipe pertumbuhannya, ukuran bijinya, warna bijinya, umur panennya, tingginya tanaman, kandungan gizinya, dan lain sebagainya.


BAB III
PERSYARATAN LOKASI USAHA TANI KACANG HIJAU


A.    Keadaan Iklim
Iklim secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Iklim juga berpengaruh terhadap perkembangan mikroba (patogen) dan hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman.
1.      Suhu dan Kelembaban
Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman kacang hijau berkisar antara 25-27oC. Akan tetapi, tanaman kacang hijau masih bisa tumbuh baik pada suhu udara sehingga 35oC dan dibawah 25oC hingga 20oC. Suhu yang terlalu tinggi maupun rendah akan menghambat perkecambahan dan pertumbuhan tanaman selanjutnya. Suhu yang terlalu tinggi dapat mematikan bibit. Sedangkan pada suhu yang sesuai, bibit akan tumbuh cepat.

2.      Curah Hujan
Tanaman kacang hijau dapat tumbuh dengan baik dan produksinya tinggi memerlukan curah hujan berkisar antara 600-2.400 mm/tahun atau curah hujan selama musim tanam berkisar antara 50-200 mm/bulan. Curah hujan yang kurang, bila tidak disertai dengan pengairan yang cukup pada fase perkecambahan dapat menyebabkan benih gagal tumbuh, karena merupakan kebutuhan benih yang pertama untuk berkecambah. Demikian pula pada fase pembuahan dan pengisian polong. Apabila tanaman tidak mendapatkan air yang cukup maka tanaman tidak dapat membentuk polong. Curah hujan yang terlalu tinggi, juga akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, produksinya rendah, tanaman mudah rebah, dan tanaman mudah terserang penyakit.


3.      Penyinaran Cahaya Matahari
Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tanaman untuk proses fotosintesis. Fotosintesis tanaman dapat berjalan dengan baik apabila tanaman mendapatkan penyinaran cahaya matahari yang cukup. Bibit kacang hijau dapat tumbuh dengan baik, cepat dan sehat. Paca cuaca yang hangat dimana cahaya matahari terang dan penuh. Kekurangan cahaya matahari dapat menyebabkan bibit pucat, batang memanjang, kurus dan lemah. Untuk mendapatkan penyinaran cahaya matahari yang cukup. Lahan penanaman kacang hijau harus terbuka (tidak terlindungi oleh pepohonan).

B.     Keadaan Tanah
Keadaan tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi polong (hasil panen). Adapun keadaan tanah yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut :
1.      Sifat Fisik Tanah
Sifat fisik tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kacang hijau adalah tanah gembur dengan struktur tanah lempung berdebu, dan kedalaman lapisan olah lebih 50 cm, sifat fisik tanah yang demikian itu akan mudah mengikat air dan memiliki drainase yang baik. Tanaman kacang hijau juga masih dapat tumbuh dengan baik dan produksinya masih cukup baik pada tanah gembur yang bertekstur lempung berpasir dan liat berdebu. Sedangkan pada tanah yang berstektur pasir, kerikil dan liat padat sudah kurang sesuai untuk pertanaman kacang hijau.

2.      Sifat Kimia Tanah
Kemasaman tanah (pH tanah) yang sesuai untuk pertanaman kacang hijau adalah berkisar antara 5,8-6,5. Pada kisaran pH tanah 5.0-5,8, tanaman kacang hijau masih dapat tumbuh baik. Derajat keasaman tanah kurang dari 4,5 dan lebih besar dari 7,0, tanaman kacang hijau tidak dapat tumbuh dengan baik dan produksinya rendah.
3.      Sifat Biologis Tanah
Tanah yang mengandung bahan organik tanah tinggi sangat sesuai untuk pertanaman kacang hijau. Keadaan tanah dengan bahan organik tanah yang tinggi sampai sedang dapat meningkatkan proses nitrifikasi (organisme tanah dapat memproduksi amonia dan nitrat), menekan pertumbuhan patogen, melancarkan peredaran udara di dalam tanah, dan dapat meningkatkan peresapan air. Sehingga dengan demikian akan meningkatkan perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman selanjutnya.

4.      Ketinggian Tempat (Geografis Tanah)
Tanaman kacang hijau dapat ditanam di berbagai ketinggian tempat (dataran rendah, dataran medium, dan dataran tinggi). Namun, ketinggian tempat yang paling cocok untuk penanaman kacang hijau adalah di dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, produksi, dan umur panen. Penananam kacang hijau didataran tinggi lebih dari 750 m dpl umur panennya akan lebih panjang jika dibandingkan dengan yang ditanam di dataran rendah.

5.      Kemiringan Tanah
Tanah yang datar sangat sesuai untuk penanaman kacang hijau jika dibandingkan dengan tanah yang miring karena biaya pembukaan lahan dan pengolahan tanah lebih murah. Menurut Umi Haryati, dkk, 1993, pembukaan lahan yang memiliki kemiringan antara 10%-40% memerlukan tenaga kerja sebanyak 357-1.334 hari kerja setara pria (HKSP) per-hektar. Pembukaan lahan yang bertopografi miring harus dibuat teras-teras untuk bidang penanaman dan tanggul untuk menahan tanah longsor.




BAB IV
TEKNIK BUDIDAYA KACANG HIJAU


A.    Pengadaan Benih
Tanaman kacang hijau diperbanyak dengan biji. Sehingga dengan demikian, untuk bertanam kacang hijau diperlukan biji sebagai benih. Pengadaan benih kacang hijau dapat dilakukan melalui dua cara, yakni membeli benih yang siap tanam dan dengan cara mengadakan pembenihan sendiri.
Penggunaan benih varietas lokal maupun varietas unggul hasil panen sebelumnya sebaiknya dihindari. Karena benih ini memiliki kualitas yang rendah, sehingga apabila ditanam produksinya rendah, tanaman tidak tahan terhadap serangan penyakit, daya adaptasi terhadap lingkungan rendah. Karena benih tersebut sudah merupakan campuran dari beberapa strain atau varietas.
Untuk mendapatkan benih yang berkualitas baik, sebaiknya pengadaan benih dilakukan dengan cara membeli benih yang siap tanam. Karena benih dihasilkan dari penanganan yang sangat selektif di kebun pembenihan. Benih yang berkualitas baik yang diproduksi dari perusahaan pembenihan memiliki daya hasil tinggi, benih memiliki bentuk dan ukuran seragam, benih murni, dan mempunyai ketahanan terhadap serangan beberapa jenis hama dan penyakit.
Pengadaan benih dengan cara membeli benih yang siap tanam, sebaiknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1.      Benih telah disertifikasi, karena benih yang telah disertifikasi terjamin kualitasnya.
2.      Tanggal batas waktu penggunaan benih. Benih yang telah kadaluarsa, persentase perkecambahan benih telah menurun.
3.      Benih dari varietas unggul.

B.     Teknik Budidaya
1.      Teknik Budidaya Kacang Hijau di Lahan Sawah Beririgasi Teknis
a.      Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan untuk penanaman kacang hijau lahan sawah irigasi teknis (bekas tanaman padi) cukup dengan membuat bedengan dan saluran irigasi dan drainase. Sehingga dengan demikian tidak perlu dilakukan pengolahan tanah. Sebab, tidak terdapat interaksi antara perlakuan pengolahan tanah dengan hasil panen. Adapun penyiapan lahan penanaman kacang hijau di lahan sawah irigasi meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1)      Pembuatan bedengan dan parit.
2)      Pengapuran tanah.

b.      Inokulasi Rhizobium
Pada lahan yang belum pernah ditanami jenis tanaman kacang-kacangan, sebaiknya lahan tersebut terlebih dahulu diinokulasi Rhizobium, sebab, pada lahan yang baru pertama kali ditanami kacang-kacangan, bila tidak diinokulasi bakteri Rhizobium umumnya hasil panen rendah. Inokulasi Rhizobium bertujuan untuk meningkatkan pembentukan bintik akar pada tanaman sehingga dengan demikian dapat meningkatkan hasil panen.
Cara melakukan inokulasi bakteri Rhizonobium pada benih kacang hijau adalah sebagai berikut :
1)      Benih dibasahi dengan air bersih hingga cukup basah.
2)      Inokulum Rhizobium dicampurkan dengan benih kacang hijau hingga merata ditempat yang teduh, benih kacang hijau yang telah diinokulasi bakteri Rhizobium dikering anginkan beberapa saat, selesai kering anginkan benih segera ditanam (tidak boleh ditunda lebih dari 6 jam).



c.       Penanaman Benih
Benih atau biji kacang hijau dapat langsung ditanam dikebun tanpa melalui persemaian terlebih dahulu. Agar benih yang ditanam tumbuh baik, maka benih yang akan ditanam harus utuh (tidak cacat, luka, atau pecah), ukurannya seragam, tidak terserang hama maupun penyakit, tidak tercampur dengan varietas lain, tidak keriput, dan bentuknya normal. Selain itu penanaman benih kacang hijau juga harus memperhatikan pemilihan waktu tanam, jarak tanam, dan cara penanaman.

d.      Desinfektan Benih
Untuk mencegah benih yang telah ditanam diserang hama, misalnya semut, rayap, dan lain sebagainya, maka setelah benih ditanam, sebaiknya juga diberikan furadan pada lubang tanam atau disekitar lubang tanam. Furadan diberikan bersamaan pada saat tanam dengan dosis 8 kg/ha yang disebarkan secaraq merata di permukaan tanah atau 0,50 g setiap lubang tanam.

e.       Pemberian Mulsa
Pemberian mulsa berupa jerami padi kering sebanyak 5 ton/ha dapat meningkatkan hasil hingga 40% jika dibandingkan dengan pertanaman kacang hijau yang tidak diberi mulsa.
Pemberian mulsa jerami padi pada pertanaman kacang hijau dapat meningkatkan laju tumbuh relatif dan produksi polong sebagai akibat dari penekanan pertumbuhan gulma, serangan lalat bibit, penguapan air tanah, serta memperlambat proses pengerasan dan peretakan tanah.
Pemberian mulsa berupa jerami padi kering dilakukan setelah benih kacang hijau ditanam dengan cara jerami dihamparkan hingga merata setebal 3-5 cm di permukaan lahan.


f.       Penyulaman
Penyulaman pada usaha tani kacang hijau adalah merupakan kegiatan mengganti benih yang mati (tidak tumbuh). Penyulaman benih (biji) pada tanaman kacang hijau hanya dilakukan satu kali saja, yaitu dilakukan 4-15 hari setelah tanam. Penyulaman ini hanya dilakukan bila benih yang tidak tumbuh berkisar antara 10%-25%. Apabila benih yang tidak tumbuh sampai melebihi 40%, maka sebaiknya semua diganti. Kemudian penyiapan lahan dan seleksi benih dikerjakan yang lebih baik lagi.

g.      Penyiraman
Air sangat diperlukan untuk proses metabolisme dan pertumbuhan tanaman. Kerusakan akibat kekeringan adalah daun-daun cepat tua dan mudah rontok, dan tanaman tumbuh kerdil. Kekurangan air pada fase generatif (saat berbunga, pembentukan polong, dan pengisian polong) akan mengakibatkan inisiasi bunga dan jumlah bunga yang terbentuk sedikit, dan selanjutnya persarian terganggu karena mengeringnya tepung sari dan putik. Sehingga dengan demikian tanaman gagal melakukan pembentukan polong dan pengisian polong. Akibatnya produksi sangat rendah atau bahkan bisa terjadi gagal panen. Kekurangan air pada fase perkecambahan menyebabkan benih tidak dapat berkecambah. Disamping itu, kekurangan air juga menyebabkan perkembangan akar dan bintil-bintil akar terhambat.

h.      Pemupukan
Pemupukan tanaman kacang hijau yang ditanam di lahan sawah bekas padi umumnya kurang responsif karena pada lahan bekas padi sawah telah terus menerus dipupuk NPK. Dari beberapahasil penelitian melaporkan bahwa pemberian pupuk NPK pada tanaman kacang hijau di lahan sawah yang padinya mendapat pupuk NPK tidak menunjukkan peningkatan hasil pada kacang hijau.
i.        Penyiangan
Gula dan rerumputan merupakan tanaman pengganggu yang sangat merugikan bagi tanaman kacang hijau. Tanaman kacang hijau kurang mampu bersaing dengan gula dan rumput, sehingga apabila gulma dan rumput tidak dikendalikan dapat menurunkan hasil panen kacang hijau mencapai 60%. Oleh karena itu, pengendalian gulma dan rumput harus dilakukan dengan baik.

2.      Teknik Budidaya Kacang Hijau di Lahan Sawah Tadah Hujan
a.      Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan untuk penanaman kacang hijau di lahan sawah tadah hujan tidak perlu dilakukan pengolahan tanah. Karena pengolahan tanah yang sempurna tidak memberikan perbedaan nyata terhadap hasil panen dibandingkan dengan pengolahan tanah minimum. Pengolahan lahan cukup dilakukan dengan membuat bedengan dan parit-parit.

b.      Inokulasi Rhizobium
Inokulasi Rhizobium dilakukan bila lahan yang akan ditanami kacang hijau belum pernah ditanami jenis tanaman kacang-kacangan. Inokulasi Rhizobium pada tanah dilakukan dengan cara menaburkan tanah yang berasal dari lahan pertanaman kacang-kacangan. Inokulasi Rhizobium dapat juga dilakukan pada benih yang akan ditanam. Benih diinokulasi dengan Inokulum multiguna Rhizoplus dengan takaran 150 g/50 kg benih.

c.       Penanaman dan Desinfektan Benih
Penanaman benih dapat langsung dilakukan setelah selesai mempersiapkan lahan. Benih ditanam dengan sistem tuggal atau menggunakan mesin penanam. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 40 cm x 15 cm atau 50 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm atau 40 cm x 10 cm.
Benih yang telah ditanam kemudian didesinfektan dengan diberi Furadan pada lubang tanam atau disekitar lubang tanam dengan dosis 8 kg/ha atau 0,50 g/lubang tanam.

d.      Pemberian Mulsa
Mulsa yang diberikan berupa jerami padi kering sebanyak 5 ton/ha. Pemberian mulsa dilakukan setelah benih kacang hijau ditanam. Caranya jerami padi ditaburkan secara merata setebal 3-5 cm dipermukaan tanah.

e.       Penyulaman
Penyulaman benih dilakukan terhadap benih yang tidak tumbuh. Penyulaman hanya dilakukan satu kali saja, yakni dilakukan 4-15 hari setelah tanam. Apabila benih yang tidak tumbuh melebihi 40%, maka semua benih harus diganti.

f.       Pengairan
Tanaman kacang hijau tidak tahan kekeringan dan terhadap genangan air. Pemberian air yang cocok untuk pertanaman kacang hijau adalah air tanah dalam kapasitas lapang (tidak becek). Tanaman kacang hijau mulai menderita kekeringan apabila tanah sedalam 5-10 cm telah kering.
Cara pemberian air pada pertanaman kacang hijau di lahan sawah tadah hujan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1)      Penyiraman sistem irigasi tetes.
2)      Penyiraman sistem curah.
3)      Penyiraman sistem gembor.

g.      Pemupukan
Pupuk yang diberikan berupa pupuk urea sebanyak 50 kg/ha, pupuk SP-36 sebanyak 125 kg/ha, dan pupuk Kcl sebanyak 50 kg/ha.
Pupuk urea, SP-36, dan Kcl dapat diberikan sebelum tanam atau diberikan bersamaan pada saat tanam, dan seluruh pupuk diberikan sekaligus. Sedangkan pemberian pupuk daun dilakukan beberapa tahap.

h.      Penyiangan
Pengendalian gulma dapat dilakukan secara terpadu, yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida pra tumbuh yang dikombinasikan dengan penyiangan. Dari hasil penelitian menyatakan bahwa pengendalian gulma menggunakan herbisida metalachlor yang dikombinasikan dengan penyiangan pada 21 hari setelah tanam dapat menekan pertumbuhan gulma sebesar 45% dibandingkan dengan hanya menggunakan herbisida metalachlor saja.

  
BAB V
HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KACANG HIJAU


A.    Hama Tanaman Kacang Hijau
1.      Lalat Bibit (Ophiomyia Phaseoli Tryion)
Serangga dewasa berupa lalat berwarna hitam mengilap dan tubuh berukuran kecil. Lalat betina berukuran lebih besar daripada lalat jantan. Siklus hidup lalat kacang berkisar antara 3-4 minggu. Lalat kacang menggerek batang dan pucuk hingga menyebabkan rusaknya batang dan pucuk tanaman. Stadium yang menyerang tanaman adalah larva (belatung/ulat).
Pencegahan dan pengendalian lalat kacang dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Penanaman serempak, yaitu penanaman dalam satu hamparan yang luas dengan waktu tanam yang bersamaan.
b.      Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
c.       Penanaman dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak atau mulsa jerami padi.
d.      Desinfektan benih menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan.
e.       Penyemprotan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Cypermethrin.

2.      Lalat Kacang (Melanogromyza Spp)
Serangga dewasa berupa lalat berwarna hitam mengkilap, dan tubuh berukuran kecil. Lalat betina berukuran lebih besar daripada lalat jantan. Larva atau ulatnya kekuning-kuningan. Larva dari lalat kacang ini mengerek batang. Tanaman yang diserang umumnya tanaman yang masih muda.
Pencegahan dan pengendalian lalat kacang dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Budi daya menggunakan mulsa jerami.
b.      Mencabut tanaman yang terserang berat, lalu membakarnya.
c.       Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
d.      Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
e.       Penyemprotan dengan insektisisa berbahan aktif Cypermethrin.
f.       Desinfektan benih menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan.

3.      Kepik Hijau (Neraza Viridula L)
Keripik hijau dewasa tubuhnya berwarna hijau, berbentuk segi lima seperti perisai, panjang tubuh 1 cm, dan kepala bersungut. Kepik hijau, tubuhnya ada juga yang berwarna kuning kehijauan dan dipunggungnya terdapat tiga bintik berwarna hijau.
Pencegahan dan pengendalian kepik hijau dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Sanitani kebun, yaitu membersihkan kebun dari rumput dan gulma, serta sisa-sisa tanaman mati.
b.      Dengan menyebarkan musuh alaminya, yang dapat memangsa telur kepik hijau.
c.       Memangkas daun yang menjadi asarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
d.      Pergiliran tanaman yang tanaman yang bukan inangnya.
e.       Penyemprotan dengan insektisida.
f.       Penanaman serempak dalam satu hambaran lahan yang luas.

4.      Kepik Coklat (Riportus linearis L)
Kepik coklat dewasa, bentuk tubuh dan warna tubuh mirip dengan walang sangit. Tubuhnya berwarna coklat dengan garis putih kekuningan di sepanjang tubuhnya. Telur kepik coklat berwarna biru keabu-abuan, dan biasanya terdapat dipermukaan daun bagian bawah secara berkelompok.
Pencegahan dan pengendalian kepik coklat dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Sanitasi kebun
b.      Penenaman serempak, yaitu penanaman dalam satu hamparan yang luas dengan waktu tanam bersamaan.
c.       Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
d.      Menangkapi kepik pada pagi hari antara jam 06.00-09.00 WIB, lalu membunuhnya.
e.       Penyemprotan dengan insektisida.

5.      Ulat Jengkal (Plusia Chalcites Esper/ Chrysodeixis Esper)
Ulat jengkal tubuhnya berwarna hijau dan terdapat dan terdapat garis berwarna lebih muda pada sisi sampingnya, dan panjang tubuhnya sekitar 2 cm. Ciri khas ulat jengkal adalah bila berjalan melompat atau melengkungkan tubuhnya.
Pencegahan dan pengendalian ulat jengkal dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.       Sanitasi kebun.
b.      Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
c.       Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
d.      Memunguti ulat, lalu membunuhnya.
e.       Memotong daun yang menjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
f.       Dengen menyebarkan musuh alaminya.
g.      Penyemprotan dengan insektisida.

6.      Ulat Grayak
Ulat grayak yang masih muda berwarna kehijauan, sedangkan ulat dewasanya berwarna kecoklatan atau abu-abu gelap, dan berbintik-bintik hitam serta bergaris-garis keputihan. Ulat grayak berumur 20 hari, kemudian menjadi kepompong yang berwarna coklat kemerahan, kepompong tersebut berada di dalam tanah.
Pencegahan dan pengendalian ulat grayak dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.       Dengan penggenangan sesaat akan membunuh ulat yang berada di dalam tanah.
b.      Sanitasi kebun.
c.       Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
d.      Memangkas daun yang menjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
e.       Dengan  menyebarkan musuh alaminya.
f.       Memunguti ulat, lalu membunuhnya.
g.      Menangkap kupu-kupunya dengan menggunakan perangkap lampu minyak yang dibagian bawahnya diberi baskom yang berisi air dan minyak tanah.
h.      Pengolahan tanah yang intensif.
i.        Dengan penyemprotan insektisida.
j.        Dengan menggunakan perangkap feromoid sex.

7.      Ulat Penggerek Polong
Ulat penggerek polong yang masih muda berwarna hijau pucat, sedangkan ulat dewasa berwarna kemerah-merahan dan kepalanya berwarna hitam. Ulat memiliki bentuk tubuh silindris dan panjangnya sekitar 1,5 cm. Ulat berkepompong di dalam tanah. Ulat ini hidup di dalam polong dan memakan biji-biji kacang hijau.
Pencegahan dan pengendalian ulat polong dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pengolahan tanah yang intensif dapat membunuh kepompong yang berada di dalam tanah.
b.      Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
c.       Polong yang terserang ulat dipangkas, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
d.      Pergiliran tanaman dengan tanaman selain tanaman kacang-kacangan.
e.       Penyemprotan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif BPMC.

8.      Ulat Polong (Helicoverpa armigera hubn)
Ulat polong memiliki ciri-ciri: tubuhnya tertutup banyak kutil dan bulu, warnanya beraneka ragam. Ulat muda berwarna putih agak kekuningan dan kepalanya berwarna hitam. Ulat akan menjadi kepompong setelah berumur 17-24 hari, kepompongnya berwarna coklat atau kemerahan, dan berada dalam tanah.
Pencegahannya dan pengendalian ulat polong dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
b.      Memetik polong yang telah diserang ulat dan dihancurkan.
c.       Sanitasi kebun.
d.      Penanaman serempak dalam satu hambaran lahan yang luas.
e.       Memunguti ulat dan kepompong, lalu membunuhnya.
f.       Dengan menyebarkan musuh alaminya.
g.      Penyemprotan insektisida.

9.      Ulat Penggulung Daun (Lamprosema Indicatta)
Ulat penggulung daun tubuhnya berwarna kehijauan (hijau terang) dengan garis-garis kuning sampai putih buram. Kepalanya berwarna kuning muda mengkilap. Ulat ini hidup didalam gulungan-gulungan daun muda hingga menjadi kepompong.
Pencegahan dan pengendalian ulat penggulung daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
b.      Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
c.       Memangkas daun-daun yang terserang, dan daun yang ada telurnya dibakar.
d.      Penyemprotan dengan insektisida.
e.       Menyebarkan musuh alaminya berupa parasitoid larva.
10.  Kutu
Jenis kutu yang sering menyerang tanaman kacang hijau adalah kutu hijau, kutu kebul, wereng, dan kutu trip.
Pencegahan dan pengendalian hama kutu dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya.
b.      Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
c.       Memangkas daun-daun atau bagian-bagian tanaman yang terserang dan menjadi sarang telur kemudian dikumpulkan dan dibakar.
d.      Penyemprotan dengan isektisida.

11.  Kumbang Daun (Phaedonia Inclusa Stal)
Kumbang daun memiliki ciri-ciri kepala dan dada berwarna merah, sayap depan berwarna hitam kebiruan mengkilap dengan bagian pinggir berwarna kuning. Kumbang jantan memiliki ukuran tubuh lebih pendek dari kumbang betina. Kumbang dewasa dan larvanya sama-sama merusak pucuk daun, tangkai daun, bunga, dan polong.
Pencegahan dan pengendalian kumbang daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya.
b.      Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
c.       Memangkas daun yang menjadi sarang telur hama ini.
d.      Penyemprotan dengan insektisida.

12.  Ulat Tanah (Agrotis Ipsilon Hufn)
Ulat tanah memiliki ciri-ciri badannya berwarna coklat tua kehitam-hitaman agak mengkilap, beruas-ruas, liat, dan lunak, panjang tubuh 2-5 cm. Ulat ini berada di dalam tanah di dekat tanaman.
Pencegahan dan pengendalian ulat tanah dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pergiliran tanaman yang bukan inangnya.
b.      Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
c.       Pengolahan tanah yang intensif.
d.      Menyebarkan musuh alaminya berupa parasitoid ulat.
e.       Menggunakan perangkap dengan umpan.
f.       Penyemprotan dengan insektisida.

B.     Penyakit Tanaman Kacang Hijau
1.      Bercak Daun Cercospora
Pencegahan dan pengendalian bercak daun cercospora dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
b.      Menanam varietas-varietas yang tahan penyakit bercak daun.
c.       Sisa-sisa tanaman sakit dibakar.
d.      Penyemprotan dengan fungsida berbahan aktif benomyl.

2.      Kudis
Pencegahan dan pengendalian kudis dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Menanam varietas yang tahan.
b.      Tanaman yang sakit berat dicabut dan dibakar.
c.       Sanitasi kebun.
d.      Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan kacang-kacangan.
e.       Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif Tiofanat Metil.

3.      Penyakit Embun Tepung (Powdery Mildew)
Pencegahan dan pengendalian penyakit embun tepung dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Menanam varietas yang tahan.
b.      Tanaman yang terinfeksi berat dicabut dan dibakar.
c.       Sanitasi kebun
d.      Sisa-sisa tanaman dibakar atau ditimbun ke dalam tanah.
e.       Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif benomyl.

4.      Penyakit Bercak Cokelat (Antraknosa)
Pencegahan dan pengendalian penyakit bercak cokelat dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan dari jenis kacang-kacangan.
b.      Tidak dianjurkan menanam kacang hijau secara berturut-turut.
c.       Menanam dengan jarak tanam yang lebih lebar.
d.      Menanam biji yang sehat.
e.       Membersihkan sisa-sisa tanaman mati, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
f.       Mencabut tanaman yang sakit berat dan membakarnya.
g.      Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif benomyl.

5.      Penyakit Karat Daun
Pencegahan dan pengendalian penyakit karat daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan dari jenis kacang-kacangan.
b.      Menanam varietas yang tahan penyakit karat.
c.       Mencabut tanaman yang sakit parah, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
d.      Sanitasi kebun.
e.       Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
f.       Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif Klorotalonil.

6.      Penyakit Bercak Sclerotium
Pencegahan dan pengendalian penyakit bercak sclerotium dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pengolahan tanah yang intensif (sempurna).
b.      Perbaikan drainase (pengeluaran air).
c.       Penanaman dengan jarak tanam lebih lebar.
d.      Mencabut tanaman yang sakit, lalu membakarnya.
e.       Fumigasi tanah dengan Basamid 3G.
f.       Menyiram larutan fungisida disekitar batang tanaman.
g.      Penyemprotan fungisida yang berbahan aktif mankozeb 80%.
h.      Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
i.        Merendam benih dengan Agrimycin atau Agrept selama 5-15 menit.
j.        Menanam benih yang sehat.
k.      Mensterilkan peralatan yang akan dipergunakan ke dalam larutan formalin selama 10 menit.
l.        Menggunakan pupuk kandang yang baik.

7.      Penyakit Bisul Daun (Penyakit Bakteri)
Pencegahan dan pengendalian penyakit bisul daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan dari jenis kacang-kacangan.
b.      Menanam beih yang sehat.
c.       Menanam varietas yang tahan terhadap penyakit bisul daun.
d.      Menimbun atau membakar sisa-sisa tanaman sakit atau sisa-sisa tanaman setelah panen.

8.      Penyakit Mozaik
Pencegahan dan pengendalian penyakit mozaik dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Menanam benih yang sehat dari tanaman yang sehat.
b.      Tanaman yang sakit dicabut dan dibakar.
c.       Pergiliran tanaman dengan tanaman selain kacang-kacangan.
d.      Mengendalikan serangga vektor (serangga penular) dengan penyemprotan insektisida.




BAB VI
PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN KACANG HIJAU


A.    Penanganan Panen Kacang Hijau
1.      Umur Panen
Umur panen tanaman kacang hijau dapat juga ditentukan berdasarkan keadaan fisik tanaman. Secara fisik, tanaman kacang hijau yang sudah dapat dipanen memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Polong  berwarna coklat sampai hitam dan kulitnya telah mengering.
b.      Daun-daun telah menguning dan telah banyak yang rontok.
c.       Polong mudah dipecahkan.

2.      Cara Pemanenan
Cara pemanenan kacang hijau adalah polong dipetik satu per satu dengan menggunakan tangan, karena polong kacang hijau tidak masak serempak. Namun ada beberapa varietas kacang hijau yang polongnya matang serempak. Untuk varietas kacang hijau yang polongnya matang serempak, pemanenan dapat dilakukan dengan cara memotong tangkai-tangkai polong menggunakan sabit atau pisau yang tajam, kemudian polong kacang hijau dikumpulkan di tempat yang teduh (base camp).

3.      Waktu Pemanenan
Pemanenan kacang hijau sebaiknya dilakukan pada pagi hari saat cuaca cerah (tidak hujan). Pemanenan yang dilakukan pada saathujan dapat menyebabkan biji rusak setelah dilakukan pengumpulan dan penumpukan di gudang.

B.     Penanganan Pasca Panen Kacang Hijau
1.      Pengeringan Polong
Pengeringan polong kacang hijau harus segera dilakukan selesai pemanenan. Sebab, penundaan pengeringan akan menurunkan kualitas biji, meningkatkan butir rusak, dan penurunan berat kering biji. Di samping itu, juga untuk memudahkan proses pembijian atau perontokan biji.

2.      Perontokan Biji (Pembijian)
Perontokan biji atau pembijian kacang hijau dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a.       Perontokan kacang hijau secara tradisional.
b.      Perontokan kacang hijau dengan pedal.
c.       Perontokan kacang hijau dengan mesin.

3.      Pembersihan Kotoran
Cara pembersihan kotoran selesai perontokan biji dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.       Ditampi, yaitu biji kacang hijau yang bercampur dengan kotoran dimasukkan dalam wadah kemudian digerakkan naik-turun hingga biji terpisah dari kotoran, lalu kotoran diambil dan dibuang.
b.      Menggunakan kipas (blower)
c.       Menggunakan mesin pembersih (mesin penampi) yaitu kombinasi ayakan dengan blower.

4.      Pengeringan Biji Kacang Hijau
Selesai perontokan biji, biji kacang hijau harus segera dikeringkan lagi hingga kadar air dibawah 12% (sekitar 10%). Biji kacang hijau yang baru dirontok umumnya kadar airnya masih tinggi. Sehingga dengan demikian apabila biji yang baru dirontok tidak dikeringkan lagi akan mudah busuk dan mudah terserang hama gudang. Pengeringan biji kacang hijau dapat dilakukan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari atau dengan menggunakan mesin pengering.



5.      Pengemasan Biji Kacang Hijau
Biji kacang hijau yang telah kering dengan kadar air sekitar 10-12% dapat dikemas ke dalam karung goni, kantong plastik, kaleng (blek), dan karung plastik.
Cara mengemas biji kacang hijau adalah sebagai berikut : biji kacang hijau dimasukkan ke dalam kantong pengemas sebanyak 20-50 kg, kemudian kantong pengemas ditutup dengan sistem rapat udara. Apabila pengemasan dengan kantong rangkap caranya, adalah biji dimasukkan ke dalam kantong plastik polyethylene sebanyak 50 kg, kemudian dimasukkan ke dalam karung goni, kantong plastik ditutup dengan sistem rapat udara, sedangkan karung goni dijahit yang rapat dan rapi.

6.      Penyimpanan Biji Kacang Hijau
Di dalam kegiatan menyimpan biji kacang hijau banyak hal yang harus diperhatikan agar biji kacang hijau tidak lekas rusak, antara lain adalah ruang penyimpanan, kelembaban udara, dan penyusunan kemasan di dalam ruang penyimpanan (gudang).


BAB VII
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Kacang hijau memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan merupakan sumber mineral penting, antara lain kalsium dan fosfor. Sedangkan kandungan lemaknya merupakan asam lemak tak jenuh.
Kandungan kalsium dan fosfor pada kacang hijau bermanfaat untuk memperkuat tulang. Kacang hijau juga mengandung rendah lemak yang sangat baik bagi mereka yang ingin menghindari konsumsi lemak tinggi. Kadar lemak yang rendah dalam kacang hijau menjadikan bahan makanan atau minuman yang terbuat dari kacang hijau tidak mudah berbau.

B.     Saran
Lemak kacang hijau tersusun atas 73% asam lemak tak jenuh dan 27% asam lemak jenuh. Umumnya kacang-kacangan memang mengandung lemak tak jenuh tinggi. Asupan lemak tak jenuh tinggi penting untuk menjaga kesehatan jantung.
Kacang hijau mengandung vitamin B1 yang berguna untuk pertumbuhan dan vitalitas pria. Maka kacang hijau dan turunannya sangat cocok untuk dikonsumsi oleh mereka yang baru menikah.
Kacang hijau juga mengandung multi protein yang berfungsi mengganti sel mati dan membantu pertumbuhan sel tubuh, oleh karena itu anak-anak dan wanita yang baru saja bersalin dianjurkan untuk mengkonsumsinya.

DAFTAR PUSTAKA


Cahyono, Bambang. 2007. Kacang Hijau, Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani. Aneka Ilmu. Semarang.

Rahmat Rukmana. 1997. Kacang Hijau. Kanisius. Yogyakarta.

Subiyakto Sudarmo. 1992. Pestisida Untuk Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.

Subiyakto Sudarmo. 1992. Pengendalian Serangga Hama Kacang Hijau. Kanisius. Yogyakarta.