Minggu, 24 April 2016

Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah Umat Islam


Menyelenggarakan jenazah orang Islam adalah merupakan kewajiban bagi orang Islam yang masih hidup yaitu memandikan, mengafani, menyembahyangkan dan menguburkan.
A.    Menyiapkan Kain Kafan
Sebelum mayat dimandikan, terlebih dahulu kain kafan harus sudah disiapkan. Kain kafan yang diwajibkan ialah satu lapis untuk menutup seluruh tubuh, baik laki-laki maupun wanita.
Tapi kalau mayat itu laki-laki maka disunatkan kain kafannya tiga lapis, dan kalau mayat itu wanita disunatkan kain kafan itu lima lapis.
Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah Umat Islam

Cara mempersiapkan kain kafan untuk laki-laki
Untuk laki-laki kain kafan yang disunatkan tiga lapis.
Dari Aisyah RA dia berkata : “Rasulullah SAW dikafani di dalam tiga helai kain putih halus dari kapas tidak ada padanya (kain kafan itu) baju dan serban (HR Muttafaqun alaihi).

Kain kafan yang tiga lapis itu terdiri dari dua lapis penutup seluruh tubuh dan satu lapis untuk basahan (kain sarung).
Cara memotong yang dua lapis penutup seluruh tubuh itu ialah : diukur panjang mayat lalu dilebihkan agak tiga jengkal, gunanya untuk pocong atas dan pocong bawah, di buat dua helai yang sepanjang ini.
Cara memotong kain basahan :
Untuk lebarnya, diukur lebar kain dari pusat sampai ke kaki.
Untuk panjangnya, diukur panjang kain dari panggul samping kanan ke panggul samping kiri dikalikan dua, lalu ditambah agak dua jengkal.
Untuk pengikat kita ambil terlebih dahulu tepi kain. Tali pengikat ini kita sediakan lima helai yang digunakan untuk pengikat pocong atas, pangkal lengan, pinggang, lutut dan pocong bawah.

Cara menyusun kain kafan untuk laki-laki :
Terlebih dahulu kita bentangkan tali yang lima helai, lalu dibentangkan kain yang menutup seluruh tubuh, diberi harum-haruman, dibentangkan selapis lagi yang penutup seluruh tubuh, diberi harum-haruman. Kalau mayat gemuk cara membentangkan kain yang penutup seluruh tubuh ini agak ditikaikan, agar nanti kain bisa membalut seluruh tubuh. Tapi kalau mayatnya kecil tidak perlu ditikaikan, asal saja kain itu bisa untuk pembalut seluruh tubuh mayat. Seterusnya dibentangkan kain basahan (kain sarung) lalu diberi harum-haruman dan kalau kapas ada sebaiknya kapas diletakkan setentang kepala dan setentang panggul agar kapas ini nanti bisa mengisap air dan kain kafan tidak basah jadinya.

Cara mempersiapkan kain kafan untuk wanita :
Untuk wanita kain kafan yang disunatkan adalah lima lapis :
Dari Laila binti Qanif, katanya : “Saya salah seorang yang turut memandikan Ummi Kaltsum binti Rasulullah SAW ketika wafatnya, yang mula-mula diberikan Rasulullah SAW kepada kami ialah kain basahan, kemudian baju, kemudian tutup kepala, lalu kain yang menutup seluruh tubuh dan dimasukkan kedalam kain yang lain (yang menutup seluruh tubuh juga) kata Laila : sedangkan Nabi berdiri di tengah pintu membawa kafannya dan memberikan kepada kami sehelai-sehelai” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Kain kafan yang lima lapis untuk wanita itu terdiri dari dua lapis penutup seluruh tubuh, satu lapis untuk salendang, satu lapis untuk baju, dan satu lapis untuk basahan.
Cara memotong kain kafan untuk wanita
Cara memotong yang dua lapis penutup seluruh tubuh itu ialah : diukur panjang mayat lalu dilebihkan agak tiga jengkal, gunanya untuk pocong atas dan pocong bawah, dibuat dua helai yang sepanjang ini.
Cara memotong kain basahan :
Untuk lebarnya, diukur lebar kain dari pusat sampai ke kaki. Untuk panjangnya, diukur panjang kain dari panggul samping kanan ke panggul samping kiri dikalikan dua, ditambah agak dua jengkal.
Cara memotong baju :
Panjang kain ukurkan dari bahu sampai ke lulut kali dua lalu dibuat lobang di tengah-tengahkain itu guna untuk memasukkan kepala mayat.
Cara memotong selendang :
Kalaumayat orang dewasa ukur panjang selendang 8 jengkal, lebar selendang 4 jengkal. Kalau mayat anak-anak diperkirakan saja agar bisa dijadikan jilbab mayat.
Tali pengikat lima helai yang digunakan untuk pengikat pocong atas, pangkal lengan, pinggang, lutut, dan pocong bawah.
Cara menyusun kain kafan untuk wanita
Terlebih dahulu kita bentangkan tali pengikat, kemudian kain yang dua lapis penutup seluruh tubuh. Kalau mayatnya gemuk kain ini agak ditikaikan tapi kalau mayatnya anak-anak tidak perlu dikaitkan. Diantara lapisan diberi harum-haruman. Dibahagian kepala diletakkan selendang diberi harum-haruman. Kalau ada kapas letakkan kapas diatas selendang agar air yang melekat di rambut dapat dihisapnya. Selanjutnya diletakkan baju yang bahagian belakang letaknya pas setentang punggung, dan bahagian depan arah ke kepala, lalu diberi harum-haruman. Sudah itu baru dibentangkan kain basahan letaknya dari arah pinggang sampai ke kaki, lalu diberi harum-haruman. Kalau ada kapas lalu letakkan kapas setentang panggul.
Setelah kain kafan selesai disiapkan baru kemudian mayat  dimandikan.

B.     Memandikan Jenazah
Sebelum jenzah dimandikan, terlebih dahulu kita harus mempersiapkan peralatan untuk mandi. Bila tempat memandikan yang spesial tidak ada, bisa saja mayat itu kita mandikan di atas meja, tapi kaki meja mayat itu kita mandikan diatas meja, tapi kaki meja yang bahagian kepala hendaklah terlebih dahulu ditopang agar air mudah meluncur. Bila meja tidak ada pula, bisa juga kita pakai papan yang telah dibuat untuk penutup lahat, tapi ditopang juga dahulu bahagian kepala agar air mudah mengalir.
Tempat mandi dialas dengan kain yang bersih, tapi tidak perlu yang baru. Bahagian kepala kita letangkan handuk yang sudah dilipat agar bisa dijadikan untuk bantal. Disiapkan juga kain perca putih atau sarung tangan yang nanti digunakan untuk mengistinjakkan (mencebokkan mayat).
Disiapkan juga satu buah sabun, lalu dipotong menjadi beberapa bahagian tergantung kepada kebutuhan. Disediakan juga kapas dan sedikit tepi kain untuk membersihkan mata, telinga, dan hidung.
Air untuk memandikan kita bagi menjadi tiga bahagian. Air yang bagian pertama untuk mandi permulaan, air ini sebaiknya dicampur dengan daun-daun atau bunga-bunga yang harum.
Air yang bagian kedua ini untuk memandikan yang kedua kalinya, air ini dicampur dengan daun-daun dan bunga yang harum juga.
Air yang bagian ketika ini untuk memandikan yang ketiga kalinya, air ini sebaiknya dicampur dengan kapur barus. Gunanya air dicampur dengan harum-haruman ini adalah agar bau mayat tidak terlalu menusuk hidung orang memandikannya.
Setelah peralatan mandi dipersiapkan lalu mayat diangkat ke tempat pemandian.
  1. Orang yang hendak memandikan jenazah hendaklah berniat untuk memandikan jenazah karena Allah.
Aku Mandikan jenazah ini fardhu kifayah karena Allah.

  1. Disunatkan membaca Bismillah.
  2. Jenazah wajib diberi kain basahan yang bisa untuk menutup aurat.
  3. Bila jenazah sudah kaku sebaiknya jenazah itu disiram terlebih dahulu agar tiga kali siraman dengan mendahulukan menyiram sebelah kanan, kemudian baru yang kiri, tujuannya ialah agar mayat tidak terlalu kaku waktu kita mengistijakkan mayat. Tapi bila jenazah masih lemas (belum kaku) maka jenazah boleh langsung saja kita istinjakkan.
  4. Mengistinjakkan jenazah, perut jenazah ditekan-tekan agar sisa-sisa buang air kecil dan buang air besar yang masih tertinggal di dalam perut keluar semua. Sementara itu hendaklah disiram dengan air yang telah dicampur dengan harum-haruman, agar bau najis tidak terlalu menusuk hidung. Karena jenazah tidak bisa mengejan, maka terpaksa ditolong mengeluarkan najis yang tertinggal di qubul (vagina) dan dubur (anus) oleh orang yang memandikan dengan menggunakan telunjuk tangan kiri yang sudah dibalut dengan kain putih atau sarung tangan. Kita bersihkan sampai tidak ada lagi bekas najis pada kain
  5. Bila telah kita usahakan membersihkan sampai berulangkali, tapi bila tidak mau juga bersih, misalnya darah yang terus saja mengalir, maka dalam keadaan yang seperti ini, terpaksa tempat keluar darah tersebut disumbar dengan kapas, agar waktu kita memandikannya nanti najis tersebut tidak keluar lagi.
  6. Selanjutnya digosok gigi jenazah dengan menggunakan telunjuk kana yang telah dibalut dengan kain putih, lalu dibersihkan hidungnya dengan menggunakan yang telah digulung kecil. Menurut sebahagian pendapat disunatkan mengudukkan jenazah sebelum dimandikan, karena diqiaskan kapada mandi orang yang masih hidup juga disunatkan berudhuk sebelum mandi.
  7. Seterusnya jenazah dimandikan, kepala mayat disabuni ke mudian dibersihkan dari daki-daki yang masih melekat di kepala sampai bersih. Selanjutnya dimandikan badan mayat, disunatkan mendahulukan bagian badan yang kanan kemudian baru yang kiri. Caranya ialah : terlebih dahulu mayat dimiringkan ke kiri agar bisa dimandikan yang bagian kanan, kemudian di miringkan ke kanan agar bisa mandikan yang bagian kiri. Disunatkan mandi ini tiga kali mandi, atau lima kali atau tujuh kali. Air untuk mandi yang pertama dan kedua ialah air yang dicampur dengan dedaunan yang harum sedangkan yang air untuk mandi yang terakhir ialah air yang dicampur dengan kapur barus.
  8. Kalau mayat itu rambutnya panjang disunatkan menjalin rambut menjadi tiga jalinan, dua ikatan diatas ubun-ubun dan satu lagi dia atas dahi, lalu jalinan itu dikebelakangkan.
  9. Selanjutnya jenazah ditutup dengan kain yang kering yang bisa untuk menutup seluruh tubuh, lalu mayat diangkat ke atas kain kafan.
C.    Mengafani Jenazah
1.      Terlebih dahulu kita berniat :
Aku kafani jenazah ini karena Allah.
2.      Kalau ada kapas sebaiknya qubul (vagina) dan duburnya (anusnya) ditutup dengan kapas, agar air yang masih tertinggal dihisap oleh kapas itu. Sela-sela jari kaki juga diberi kapas.
3.      Lalu dipasangkan kain basahan (kain sarung). Kemudian diletakkan kapas di lipatan-lipatan persendian, seperti di ketiak, lipatan siku, sela-sela jari tangan, diantara payudara, dan di leher. Kalau mayat wanita kemudian dipasangkan bajunya. Kemudian diberi kapas mata, telinga, hidung, dan mulut. Selanjutnya dipasangkan selendangnya.
4.      Terakhir dipasangkan kain yang dua lapis untuk menutup seluruh tubuh, waktu mengulang kain itu boleh gulungannya kearah kiri semua, dan boleh juga bagian pusat ke bawah ke arah kanan, dan bagian pusat ke atas ke arah kiri agar nanti mudah di buka di dalam kubur. Lalu diikat pada pocong atas, setentang pangkal lengan, setentang pinggang, setentang lutut, dan pocong bawah. Ikatan ini kita letakkan pada bagian kiri agar nanti mudah dibuka di dalam kubur.

D.    Menyembahyangkan Jenazah
1.      Syarat-syarat shalat jenazah :
a.       Suci badan dan pakaian dari hadats dan najis.
b.      Menutup aurat
c.       Menghadap kiblat
d.      Letak jenazah di sebelah kiblat orang menshalatkan, kecuali shalat gaib.
2.      Rukun shalat jenazah :
a.       Berdiri, jika kuasa.
b.      Niat untuk mayatnya jenazah karena Allah.
c.       Takbir empat kali dengan takbiratul ihram dengan perincian sebagai berikut :
-          Sesudah takbir pertama, dibaca Al Fatihah.
-          Sesudah takbir kedua, dibaca Shalawat Nabi.
-          Sesudah takbir ketiga, dibaca doa untuk si mayat.
-          Sesudah takbir keempat, dibaca doa untuk orang yang tinggal, lalu salam.
Doa yang dibaca sesudah takbir ketiga ialah :
Ya Allah ampunilah dia, kasihilah dia, sejahterakanlah dia, maafkanlah keslaahannya, hormatilah kedatangannya, luaskanlah tempat diamnya, bersihkanlah dia dengan air, es, dan embun, bersihkanlah dia dari dosa sebagai mana kain putih dibersihkan dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik dari pada rumahnya yang dulu, dan gantilah keluarganya dengan yang lebih baik dari keluarganya yang dulu, dan peliharalah dia dari azab kubur dan siksa api neraka.


E.     Menguburkan Jenazah
1.      Kalau tempat mengizinkan sebaiknya mayat diturunkan dari kaki kuburan.
2.      Mayat didalam kuburnya dimiringkan ke samping kanan. Mukanya dihadapkan ke kiblat.
3.      Waktu meletakkan mayat dalam kubur dibaca :
4.      Setelah selesai dikuburkan kuburan ditinggikan sedikit dari permukaan bumi.